POJOKSATU.id, TAK sekadar janji di atas kertas, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul kini menegaskan anak-anak jalanan akan masuk ke Sekolah Rakyat secara bertahap.

Anak Jalanan bakal masuk Sekolah Rakyat bukan mimpi di siang bolong. Ini adalah langkah negara menjangkau yang terpinggirkan—anak-anak dari jalanan, terminal, kolong jembatan—agar tidak lagi jadi penonton masa depan.

“Basisnya adalah DTSEN. Anak-anak dari desil 1 dan desil 2 kita prioritaskan. Mereka yang paling miskin,” kata Gus Ipul usai meninjau simulasi Sekolah Rakyat.

Baca Juga: Sejarah Candi Borobudur, Dari Dinasti Syailendra hingga Warisan Dunia

Gus Ipul menekankan pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) benar-benar sedang menyiapkan skema konkret agar anak-anak jalanan bisa duduk di bangku sekolah yang manusiawi, diasramakan, dan dibina secara utuh.

Target mereka adalah kelompok paling rentan dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), terutama dari keluarga miskin ekstrem.

Sekolah Rakyat adalah program pendidikan berasrama penuh yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia dirancang sebagai sekolah gratis, terintegrasi, dan manusiawi, khusus bagi anak-anak dari keluarga yang selama ini tidak punya akses pada pendidikan berkualitas.

Baca Juga: Sejarah Gerakan Perempuan Indonesia, Dari Emansipasi, Revolusi, Hingga Reformasi

Pada tahun 2025 ini, pemerintah akan merintis 100 lokasi Sekolah Rakyat, yaitu 63 sekolah mulai dibuka 14 Juli 2025 dan 37 lainnya menyusul di akhir bulan.

Langkah awalnya telah dimulai. Pada 9–10 Juli 2025, para calon siswa menjalani simulasi kehidupan di asrama selama dua hari penuh. Mereka diajak mengenal lingkungan, menjalani pembinaan karakter, dan mengenal sistem pembelajaran terpadu.

“Kita buat dua hari simulasi. Anak-anak tinggal di asrama, merasakan langsung suasana belajar dan pengasuhan di Sekolah Rakyat,” ujar Gus Ipul.

Baca Juga: Hari Pertama Kerja? Begini Cara Agar Kamu Cepat Akrab dengan Teman Kantor dan Dianggap Tim Sendiri

Anak-anak jalanan yang selama ini hanya dikenali dari angka statistik, kini diberi nama, masa depan, dan hak. Mereka bukan sekadar objek belas kasihan, tetapi subjek utama dalam transformasi sosial.

Mereka akan tinggal di sekolah yang aman, makan tiga kali sehari, dibina oleh guru, pendamping sosial, dan pembina asrama. Sekolah Rakyat tidak hanya mengajari membaca dan menulis, tapi juga menanamkan disiplin, etika termasuk memberikan pelatihan keterampilan hidup.

Gus Ipul menekankan bahwa model pendidikan ini menyeluruh—fisik, emosional, spiritual, dan sosial.

Baca Juga: Sekolah Rakyat di Lamongan: Pendidikan dari Rakyat untuk Keadilan Sosial

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Dia engakui bahwa merekrut anak-anak jalanan memang penuh tantangan, terutama dalam hal kepercayaan, pembiasaan, dan latar belakang sosial yang kompleks. Tapi negara tidak boleh menyerah.

“Selama anak itu masuk dalam desil 1 dan 2, dan masuk dalam DTSEN, maka dia punya hak. Tak peduli apakah ia hidup di jalanan, panti, atau di kolong jembatan,” tegas Gus Ipul. ***