POJOKSATU.ID – Pemerintah secara resmi memperkenalkan Sekolah Rakyat bukan sekadar sebagai institusi pendidikan gratis, melainkan sebuah ekosistem pengentasan kemiskinan terintegrasi.
Program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini didesain untuk memutus rantai kemiskinan secara sistematis dengan menggabungkan berbagai program prioritas nasional dalam satu wadah.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, Sekolah Rakyat menjadi pusat integrasi bagi berbagai layanan dasar pemerintah.
Di dalamnya, para siswa tidak hanya mendapatkan akses ilmu pengetahuan, tetapi juga jaminan kesehatan dan asupan nutrisi yang terukur.
Baca Juga: Manfaat Puasa Ramadhan bagi Kesehatan Mental dan Detoksifikasi Otak
Strategi ini juga menyentuh aspek keluarga. Melalui bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan sembako, dan Program ATENSI, orang tua siswa didorong untuk terlibat dalam pemberdayaan ekonomi agar mampu mandiri secara finansial.
Hingga saat ini, Kementerian Sosial telah mengelola 166 titik Sekolah Rakyat rintisan yang tersebar dari Sumatra hingga Papua.
Dengan total kapasitas mencapai hampir 16.000 siswa, program ini didukung oleh ribuan tenaga pendidik dan kependidikan di berbagai jenjang.
Meskipun saat ini masih mengoptimalkan fasilitas gedung pemerintah yang sudah ada, langkah besar segera diambil.
Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan pembangunan 104 gedung permanen Sekolah Rakyat yang akan dimulai pada tahun ini.
Pemerintah mematok target ambisius untuk mendirikan total 500 Sekolah Rakyat di masa depan, dengan kapasitas tampung mencapai 1.000 siswa di setiap sekolah.
Guna memastikan lulusannya memiliki daya saing, Sekolah Rakyat menerapkan sistem DNA Talent Mapping.
Melalui pemetaan minat dan bakat sejak dini, para siswa akan diarahkan secara spesifik, baik untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi maupun langsung terjun ke dunia kerja dengan keahlian yang relevan.
Langkah ini diharapkan menjadi kunci utama dalam mencetak generasi tangguh yang siap memimpin di masa depan.***




