POJOKSATU.id – Tahun ajaran baru 2026/2027 identik dengan semangat baru, buku baru, teman baru, hingga target akademik yang lebih tinggi.
Namun, di balik antusiasme tersebut, tidak sedikit siswa yang justru mulai merasa lelah secara mental hanya beberapa minggu setelah sekolah dimulai.
Tugas yang mulai menumpuk, jadwal pelajaran yang padat, kegiatan ekstrakurikuler, tuntutan nilai tinggi, hingga tekanan untuk cepat beradaptasi dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai academic burnout atau kelelahan belajar.
Jika tidak segera dikenali, kondisi ini dapat menurunkan motivasi, prestasi akademik, bahkan memengaruhi kesehatan mental siswa.
Lalu, apa sebenarnya academic burnout dan bagaimana cara mengatasinya?
Apa Itu Academic Burnout?
Academic burnout adalah kondisi ketika siswa mengalami kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat tekanan belajar yang berlangsung terus-menerus.
Burnout bukan sekadar rasa malas. Siswa yang mengalaminya sebenarnya ingin belajar, tetapi merasa energinya habis sehingga sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, dan tidak lagi menikmati proses belajar.
Kondisi ini dapat dialami oleh siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga peserta didik yang sedang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.
Memasuki tahun ajaran 2026/2027, risiko burnout juga meningkat karena banyak siswa sedang beradaptasi dengan lingkungan, guru, mata pelajaran, maupun target belajar yang baru.
Baca Juga: Sesudah Tersangka, Febrie Adriansyah Belum Juga Ungkap Siapa Pemilik Emas 74 Kg di Rumah Sentul
10 Tanda Academic Burnout yang Perlu Diwaspadai
1. Mudah lelah meski tidak banyak beraktivitas
Baru belajar sebentar saja sudah merasa kehabisan tenaga dan ingin berhenti.
2. Sulit berkonsentrasi
Membaca satu halaman buku berkali-kali tetapi tetap tidak memahami isinya.
3. Kehilangan motivasi belajar
Materi yang dulu terasa menarik kini justru membuat bosan dan enggan membuka buku.
4. Menunda pekerjaan terus-menerus
Tugas sekolah sengaja ditunda hingga mendekati batas pengumpulan karena merasa tidak memiliki energi untuk mengerjakannya.
Baca Juga: 50 Contoh Soal TKA Bahasa Indonesia Lanjut SMA/SMK 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan
5. Prestasi mulai menurun
Nilai ulangan, hasil tugas, atau performa di kelas tidak sebaik biasanya.
6. Mudah marah atau tersinggung
Hal-hal kecil dapat memicu emosi karena tubuh dan pikiran sudah terlalu lelah.
7. Sulit tidur atau justru tidur berlebihan
Pola tidur menjadi tidak teratur sehingga tubuh tidak memperoleh waktu istirahat yang cukup.
8. Merasa cemas setiap akan belajar
Melihat jadwal pelajaran atau tugas sekolah saja sudah membuat perasaan tertekan.
9. Menarik diri dari teman
Lebih memilih menyendiri dan mengurangi interaksi sosial.
10. Merasa usaha yang dilakukan selalu kurang
Meski sudah belajar cukup lama, siswa tetap merasa tidak pernah mencapai hasil yang memuaskan.
Contoh Academic Burnout dalam Kehidupan Sehari-hari
Misalnya, seorang siswa kelas X SMA baru mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Setelah pembelajaran dimulai, ia harus menyesuaikan diri dengan banyak guru baru, tugas presentasi, organisasi sekolah, dan jadwal belajar yang lebih padat.
Awalnya ia bersemangat. Namun, setelah dua minggu, ia mulai sering menunda tugas, sulit bangun pagi, cepat mengantuk saat pelajaran, dan kehilangan minat belajar.
Kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal academic burnout jika berlangsung terus-menerus.
Contoh lain, siswa kelas VI SD yang sedang mempersiapkan asesmen sekolah mengikuti les hampir setiap hari. Sepulang sekolah masih harus mengerjakan PR hingga malam.
Lama-kelamaan ia merasa belajar menjadi beban, bukan lagi proses yang menyenangkan.
Penyebab Academic Burnout
Burnout tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor yang dapat memicunya, antara lain:
-
Jadwal belajar yang terlalu padat.
-
Terlalu banyak mengikuti les atau kegiatan tambahan.
-
Tekanan untuk selalu memperoleh nilai tinggi.
-
Kurang tidur.
-
Minim waktu bermain atau beristirahat.
-
Terlalu sering membandingkan diri dengan teman.
-
Penggunaan media sosial yang berlebihan hingga mengganggu waktu istirahat.
-
Tidak memiliki keseimbangan antara belajar dan kegiatan yang disukai.
Cara Cepat Memulihkan Semangat Belajar
Kabar baiknya, academic burnout dapat diatasi apabila dikenali sejak dini.
1. Beristirahat tanpa merasa bersalah
Tubuh dan otak membutuhkan waktu untuk memulihkan energi. Istirahat bukan berarti malas, melainkan bagian dari proses belajar.
2. Gunakan teknik belajar singkat
Cobalah belajar selama 25 menit, lalu beristirahat 5 menit. Cara ini membantu menjaga fokus dan mengurangi rasa jenuh.
3. Susun target harian yang realistis
Daripada memaksakan menyelesaikan semua materi sekaligus, fokuslah pada dua atau tiga target penting setiap hari.
4. Tidur yang cukup
Siswa usia sekolah umumnya membutuhkan sekitar 8–10 jam tidur setiap malam agar otak dapat bekerja secara optimal.
Baca Juga: 200 BPR Proses Penggabungan di OJK, Perkuat Permodalan dan Daya Saing
5. Bergerak dan berolahraga
Berjalan kaki, bersepeda, atau melakukan peregangan ringan selama 15–30 menit dapat membantu memperbaiki suasana hati.
6. Ceritakan kepada orang yang dipercaya
Berbagi cerita dengan orang tua, guru, wali kelas, konselor sekolah, atau teman dekat dapat membantu mengurangi tekanan.
7. Batasi penggunaan gawai
Kurangi waktu bermain media sosial, terutama menjelang tidur, agar kualitas istirahat lebih baik.
8. Rayakan kemajuan kecil
Tidak harus selalu mendapatkan nilai sempurna. Menghargai setiap perkembangan akan membantu menjaga motivasi belajar.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Laptop Rp5 Jutaan untuk Pelajar 2026, Cocok Buat Tugas Sekolah hingga Kelas Online
Bangun Kebiasaan Belajar Sehat di Tahun Ajaran 2026/2027
Awal tahun ajaran merupakan waktu terbaik untuk membentuk kebiasaan yang sehat sebelum tugas sekolah semakin banyak.
Beberapa kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan antara lain:
-
Membuat jadwal belajar yang seimbang.
-
Menyiapkan waktu khusus untuk berolahraga dan beristirahat.
-
Tidak belajar dengan sistem kebut semalam.
-
Mengulang materi sedikit demi sedikit setiap hari.
-
Menyisihkan waktu untuk hobi dan berkumpul bersama keluarga.
Dengan kebiasaan tersebut, siswa dapat menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan kesehatan mental.
Baca Juga: 200 BPR Proses Penggabungan di OJK, Perkuat Permodalan dan Daya Saing
Kapan Harus Mencari Bantuan?
Apabila rasa lelah, kehilangan semangat, kecemasan, atau gangguan tidur berlangsung selama berminggu-minggu hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan.
Siswa dapat berbicara dengan orang tua, guru BK, wali kelas, atau tenaga profesional agar memperoleh pendampingan yang tepat.
Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk kembali menikmati proses belajar.
Tahun ajaran 2026/2027 bukan hanya tentang mengejar nilai tinggi, tetapi juga membangun kebiasaan belajar yang sehat dan berkelanjutan.
Menjaga kesehatan fisik dan mental sama pentingnya dengan menguasai materi pelajaran.
Dengan mengenali tanda-tanda academic burnout sejak dini, siswa dapat menjalani sekolah dengan lebih percaya diri, produktif, dan tetap menikmati setiap proses menuju cita-citanya. ***




