POJOKSATU.ID - Kementerian Sosial (Kemensos) terus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui program pemberdayaan.
Kali ini, sebanyak 70 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menerima paket kandang dan ayam petelur sebagai bentuk dukungan usaha produktif.
Program ini diberikan kepada KPM yang telah tergraduasi atau tidak lagi menerima bantuan sosial secara mandiri.
Artinya, mereka dinilai sudah mampu keluar dari kategori penerima bansos dan siap naik kelas menuju kemandirian ekonomi.
Baca Juga: Kembali ke Cirebon, Dhendy Krhistanto Bidik Hujan Emas Snooker di Porprov 2026
Bantuan berupa kandang lengkap dan ayam petelur tersebut merupakan bagian dari strategi pemberdayaan berbasis usaha ternak skala rumah tangga.
Dengan usaha ayam petelur, diharapkan para penerima mampu memperoleh penghasilan rutin dari hasil produksi telur.
Purworejo dipilih sebagai salah satu lokasi implementasi program karena memiliki potensi pasar lokal yang baik serta dukungan lingkungan yang sesuai untuk pengembangan usaha ternak kecil.
Yang menarik, program ini tidak berjalan sendiri.
Baca Juga: Pelatihan Vokasi Kemnaker Dibuka untuk Semua Kalangan, Fresh Graduate hingga UMKM Bisa Ikut
Kemensos menggandeng Koperasi Merah Putih dalam skema kolaborasi untuk memperkuat ekosistem usaha para penerima manfaat.
Peran koperasi mencakup pendampingan, penguatan manajemen usaha, hingga akses pemasaran hasil ternak.
Langkah ini dinilai penting agar bantuan tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi benar-benar produktif dan berkelanjutan.
Dengan adanya pendampingan koperasi, risiko kegagalan usaha bisa ditekan dan peluang berkembang menjadi lebih besar.
Mengapa program ini menjadi perhatian?
Pertama, konsep graduasi bansos menjadi fokus utama pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
KPM yang sudah mampu secara ekonomi didorong untuk tidak lagi bergantung pada bantuan tunai, melainkan diberi stimulus usaha.
Kedua, usaha ayam petelur dinilai memiliki perputaran ekonomi yang relatif cepat.
Telur sebagai bahan pangan pokok memiliki permintaan stabil di pasar, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner.
Ketiga, model kolaborasi dengan koperasi memperkuat sistem distribusi dan tata kelola usaha.
Koperasi dapat membantu pengadaan pakan, pembelian hasil produksi, hingga pencatatan keuangan sederhana.
Bagi 70 KPM di Purworejo, bantuan ini bukan sekadar paket ternak, tetapi simbol perubahan status dari penerima bantuan menjadi pelaku usaha.
Perubahan pola pikir dari bergantung menjadi produktif menjadi kunci utama keberhasilan program.
Pemerintah berharap, model ini dapat direplikasi di daerah lain.
Jika berhasil, bukan hanya meningkatkan kesejahteraan keluarga penerima, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan lokal.
Dalam praktiknya, setiap penerima mendapatkan kandang siap pakai dan sejumlah ayam petelur sesuai standar program.
Mereka juga dibekali pelatihan dasar mengenai perawatan ayam, manajemen pakan, hingga pengelolaan hasil produksi.
Pendekatan pemberdayaan seperti ini dianggap lebih berkelanjutan dibandingkan bantuan jangka pendek.
Dengan usaha berjalan, keluarga dapat memiliki sumber penghasilan rutin yang mendukung kebutuhan sehari-hari.
Kolaborasi antara pemerintah dan koperasi menjadi contoh bagaimana sinergi dapat mempercepat kemandirian ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Kumpulkan Stakeholder, Bapanas Perkuat Stabilisasi Harga dan Pasokan Cabai
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa graduasi bansos bukan akhir dari dukungan negara, melainkan awal dari fase pemberdayaan.
Ke depan, keberhasilan 70 KPM di Purworejo akan menjadi tolok ukur efektivitas program serupa di wilayah lain.
Jika dikelola dengan baik, usaha ternak ayam petelur dapat menjadi motor ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan taraf hidup secara bertahap.***




