POJOKSATU.id — Sapardi Djoko Damono adalah salah satu penyair terbesar Indonesia yang dikenal lewat karya-karyanya yang sederhana namun sarat akan makna.
Ia lahir di Surakarta pada 20 Maret 1940, Sapardi berhasil memanfaatkan bahasa sehari-hari menjadi medium yang mampu menyentuh hati para pembacanya.
Sepanjang kariernya, Sapardi telah menulis banyak karya penting, seperti Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000), dan Mata Jendela (2000).
Baca Juga: Kodam Udayana soal Ayah Prada Lucky Ngamuk Imbas Kematian Anaknya: Itu Wajar
Ia juga meraih berbagai penghargaan bergengsi, seperti SEA Write Award (1986), Achmad Bakrie Award (2003), Habibie Award (2016), hingga ASEAN Book Award (2018).
Berikut enam puisi karya Sapardi Djoko Damono yang hingga kini masih abadi di hati pembaca:
1. Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
2. Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
3. Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
Baca Juga: Kata Paman Prada Lucky Chepril Saputra Namo yang Diduga Tewas Dianiaya Senior: Baik Anaknya
Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau tak akan letih-letihnya kucari
4. Hatiku Selembar Daun
Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput;
nanti dulu,
biarkan aku terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi
Baca Juga: ITB dan Telkomsel Dirikan AI Innovation Hub untuk Perkuat Ekosistem Digital Nasional
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
5. Yang Fana Adalah Waktu
Yang fana adalah waktu.
Kita abadi:
memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?
tanyamu. Kita abadi ***



