POJOKSATU.id - Ketika berbicara tentang pengobatan tuberkulosis (TB), perhatian biasanya tertuju pada jenis antibiotik yang digunakan.
Namun, lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mencoba melihat persoalan dari sisi yang berbeda: bagaimana jika cara obat dihantarkan menuju lokasi infeksi juga ikut dirancang ulang?
Pertanyaan tersebut menjadi dasar pengembangan Levocross, sebuah sistem penghantaran obat yang dirancang untuk mengeksplorasi pemberian antibiotik levofloksasin melalui inhalasi.
Penelitian ini tidak sedang menciptakan antibiotik baru.
Baca Juga: Bukan Cuma 500 Santri! Siswa Sekolah Lain Juga Diduga Keracunan MBG dari SPPG Kalitengah
Tim justru mencoba mengembangkan sistem pembawa obat agar levofloksasin dapat diberikan melalui saluran pernapasan dengan pendekatan yang mempertimbangkan lokasi infeksi TB di paru-paru.
Levocross dikembangkan oleh lima mahasiswa UGM dan menjadi bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) 2026.
Mengapa Cara Menghantarkan Obat Menjadi Perhatian?
Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering menyerang paru-paru.
Dalam kondisi tertentu, pengobatan TB dapat melibatkan antibiotik lini kedua, termasuk levofloksasin.
Namun, tim Levocross melihat bahwa persoalan terapi bukan hanya mengenai zat aktif yang digunakan.
Baca Juga: Joko Anwar Garap Pengabdi Setan 3: Origin, Cerita Baru Ungkap Masa Lalu Darminah dan Batara
Salah satu karakteristik infeksi TB yang menjadi perhatian adalah keberadaan bakteri di dalam makrofag alveolar, yaitu sel pertahanan tubuh yang terdapat di jaringan paru-paru.
Kondisi tersebut membuat tim mencoba mengeksplorasi sistem penghantaran yang tidak hanya membawa obat menuju paru-paru, tetapi juga mempertimbangkan sel yang berkaitan dengan lokasi infeksi.
Pendekatan tersebut kemudian dipadukan dengan teknologi pembawa berukuran nano.
Lima Mahasiswa UGM di Balik Levocross
Tim Levocross terdiri atas mahasiswa dari dua fakultas di UGM.
Dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, terdapat Alphatar Magnus Jonathan Tambunan, Emeliana Putri Ayu Ningsih, dan Ernestus Revan Yogantara Arjuna.
Sementara itu, Desrika Dwi Handayani dan Fatharani Hasya Tsabita berasal dari Fakultas Farmasi.
Baca Juga: Pembunuh Sewa Jasa Ekspedisi Bawa Mayat dalam Kardus, Mulai Terbongkar Gara-gara Tercium Bau
Penelitian tersebut didampingi oleh Dr.rer.nat. Ronny Martien, M.Si. dari Fakultas Farmasi UGM.
Komposisi tim lintas bidang tersebut menjadi bagian penting dalam penelitian karena pengembangan sistem penghantaran obat membutuhkan pemahaman mengenai aspek penyakit, farmasi, formulasi, hingga karakteristik bahan pembawa.
Alphatar menjelaskan bahwa penelitian tersebut masih berlangsung sehingga berbagai pengujian menjadi bagian penting untuk menemukan formulasi yang paling optimal.
“Penelitian ini masih terus berjalan sehingga berbagai pengujian yang kami lakukan menjadi bagian penting untuk mengetahui formulasi yang paling optimal,” ujarnya, Senin (31/8).
Levofloksasin Dipadukan dengan Pembawa Nano
Levocross memadukan levofloksasin, teknologi pembawa berukuran nano, dan asam hialuronat.
Gagasan utamanya adalah membentuk sistem yang dapat membawa zat aktif dalam ukuran partikel yang sesuai untuk dieksplorasi sebagai sediaan inhalasi.
Dalam proses formulasi, levofloksasin dimasukkan ke dalam sistem pembawa menggunakan metode hot emulsification-ultrasonication.
Campuran bahan kemudian mendapatkan perlakuan gelombang ultrasonik hingga terbentuk partikel berukuran nano.
Setelah sistem pembawa terbentuk, asam hialuronat kemudian ditambahkan.
Formulasi tersebut selanjutnya tidak langsung dianggap berhasil.
Masih ada serangkaian pengujian untuk mengetahui apakah sistem yang dibuat mempunyai karakteristik yang sesuai dan mampu membawa obat sebagaimana yang diharapkan.
Baca Juga: Wujudkan Aksi Nyata Cinta Indonesia, Team OVERDOSE Gandeng Gerakan Anak Negri Bantu Masyarakat NTT
Bukan Hanya Soal Ukuran Nano
Ukuran partikel menjadi salah satu parameter yang diperhatikan dalam penelitian tersebut.
Tim melakukan pengujian untuk melihat ukuran dan keseragaman partikel, sekaligus mengetahui karakteristik formulasi yang dihasilkan.
Selain itu, mereka juga mengukur jumlah levofloksasin yang berhasil dimuat ke dalam sistem pembawa.
Parameter lain yang diperiksa adalah kestabilan formulasi dan pelepasan obat.
Pengujian tersebut penting karena sistem penghantaran obat tidak cukup hanya menghasilkan partikel berukuran kecil.
Formulasi juga harus mampu mempertahankan karakteristiknya dan melepaskan zat aktif sesuai karakteristik yang diharapkan.
Baca Juga: Wujudkan Aksi Nyata Cinta Indonesia, Team OVERDOSE Gandeng Gerakan Anak Negri Bantu Masyarakat NTT
Diuji dengan Nebulizer
Karena Levocross dikembangkan dengan pendekatan pemberian obat melalui inhalasi, tim juga melakukan pengujian menggunakan nebulizer.
Perangkat tersebut digunakan untuk mengeksplorasi kemampuan formulasi dalam menghasilkan aerosol.
Tahap ini menjadi penting karena formulasi yang dikembangkan perlu dievaluasi dari sisi kemampuannya untuk digunakan dalam sistem penghantaran melalui saluran pernapasan.
Dengan kata lain, penelitian Levocross tidak berhenti pada pembuatan partikel nano.
Tim juga harus melihat bagaimana formulasi tersebut berperilaku ketika dipersiapkan untuk menghasilkan aerosol.
Masih Ada Pengujian di Dalam Sel
Tahapan penelitian Levocross saat ini masih berlangsung.
Tim sedang melakukan pengumpulan sekaligus analisis data dari berbagai pengujian yang telah dilakukan.
Selain karakterisasi formulasi, dilakukan pula pengujian in vitro untuk mengeksplorasi kemampuan formulasi berinteraksi dengan dan masuk ke dalam sel.
Pengujian semacam ini menjadi salah satu tahap untuk memperoleh gambaran awal mengenai perilaku sistem penghantaran obat sebelum dapat dibicarakan lebih jauh mengenai penerapannya.
Karena penelitian masih berjalan, hasil akhir mengenai formulasi terbaik juga belum ditetapkan.
Tim masih membandingkan berbagai hasil pengujian untuk menentukan formulasi yang memiliki karakteristik paling sesuai dengan tujuan penelitian.
Baca Juga: Download Soal OMI/KSM IPA Terpadu MI 2023-2020 PDF, Lengkap Link Google Drive
Jangan Dianggap Sudah Menjadi Terapi Baru
Nama Levocross mungkin terdengar seperti teknologi yang sudah siap digunakan pasien.
Namun, penelitian ini masih berada pada tahap pengembangan dan pengujian.
Artinya, Levocross belum dapat dianggap sebagai terapi TB baru atau pengganti pengobatan TB yang sudah digunakan secara klinis.
Pengujian laboratorium merupakan salah satu bagian awal dari perjalanan panjang pengembangan suatu sistem penghantaran obat.
Masih diperlukan bukti ilmiah yang memadai mengenai keamanan, efektivitas, karakteristik farmakologis, hingga berbagai aspek lain sebelum sebuah teknologi dapat diterapkan pada pasien.
Karena itu, hasil penelitian Levocross untuk saat ini lebih tepat dipandang sebagai eksplorasi teknologi penghantaran obat.
Baca Juga: Team OVERDOSE Gandeng Gerakan Anak Negeri Bantu Penyintas Gempa NTT Wujud Aksi Nyata Cinta Indonesia
Dari PKM-RE Menuju Teknologi Penghantaran Obat
Menariknya, penelitian tersebut menunjukkan bagaimana kompetisi dan program riset mahasiswa dapat menjadi ruang untuk mengembangkan gagasan yang cukup kompleks.
Tim Levocross tidak hanya berusaha membuat formulasi baru, tetapi mencoba menggabungkan beberapa pendekatan sekaligus: antibiotik levofloksasin, pembawa nano, asam hialuronat, serta sistem inhalasi.
Tantangan berikutnya adalah membuktikan melalui data apakah kombinasi tersebut benar-benar menghasilkan karakteristik yang sesuai dengan tujuan awal penelitian.
Hasil berbagai evaluasi nantinya akan digunakan untuk memilih formulasi yang paling optimal.
Jika tahapan penelitian dapat memberikan hasil yang menjanjikan, Levocross berpotensi menjadi dasar untuk penelitian lanjutan mengenai sistem penghantaran obat TB melalui inhalasi.
Untuk saat ini, tim masih berada pada tahap mengumpulkan bukti. ***




