POJOKSATU.id — Indonesia menghadapi ironi besar di dunia ketenagakerjaan. Sebanyak satu juta lulusan sarjana kini terjebak dalam pengangguran, bukan karena mereka tak kompeten, melainkan karena terhalang regulasi yang mempersulit langkah mereka masuk ke dunia kerja profesional.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer menyebut banyak lulusan, khususnya dari bidang farmasi dan kedokteran, masih diwajibkan mengikuti pendidikan profesi setelah menyelesaikan studi sarjana.
Sayangnya, biaya pendidikan profesi ini terlampau mahal sehingga menjadi beban tambahan bagi para lulusan dan keluarganya. Tekanan ekonomi membuat banyak dari mereka terpaksa tertahan dan tidak bisa langsung bekerja.
Baca Juga: Mau CV Kamu Nembus ATS dan Dilirik HRD? Begini Cara Menulisnya Agar Lolos Screening
Namun, lebih dari sekadar biaya, Noel juga mengungkap adanya praktik “mafia regulasi” yang diduga sengaja menghambat kelulusan para mahasiswa profesi. Ia menuding ada oknum yang memanfaatkan celah sistem demi kepentingan pribadi hingga menyebabkan lulusan yang sudah memenuhi syarat tidak kunjung diluluskan.
“Sudah sekolah profesi, berkali-kali tidak diluluskan. Artinya ada mafia kesehatan, ada mafia regulasi di situ,” tegasnya.
Melihat kondisi ini, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan berjanji akan memberantas mafia regulasi dan memperbaiki sistem agar tenaga kerja profesional bisa lebih mudah memasuki pasar kerja. Noel menegaskan dirinya akan memimpin langsung upaya pembersihan sistem yang selama ini mempersulit anak bangsa mendapatkan pekerjaan layak.
Baca Juga: Sosok Kepsek SMAS Muhammadiyah 4 Pulau Morotai, Diduga Pelaku Pelecehan Sejumlah Siswa
Sementara itu, dari sisi pengusaha, tekanan dunia kerja juga semakin berat. Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menyampaikan bahwa lebih dari 50 persen perusahaan sudah mengurangi tenaga kerja akibat beban produksi yang tinggi dan ketidakpastian ekonomi global.
Situasi ini semakin mempersempit ruang bagi lulusan baru yang ingin masuk ke dunia kerja.
Kombinasi antara regulasi yang kaku, biaya profesi yang mahal, dan kondisi ekonomi yang tak menentu menjadi benang kusut yang harus segera diurai pemerintah.
Tanpa reformasi sistem, jutaan sarjana terancam terus terjebak dalam lingkaran pengangguran.***
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android: https://play.google.com/store/
versid iOS: https://apps.apple.com/app/
Channel Whatsapp: https://www.whatsapp.com/
Fanpage edugov: https://www.facebook.com/




