POJOKSATU.ID – Aktivitas pengurukan tanah di area proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bantargebang menuai keluhan dari sejumlah warga dan pelaku usaha di sekitar lokasi.

Debu yang ditimbulkan dari lalu lalang kendaraan proyek dan ceceran tanah di jalan disebut mengganggu aktivitas masyarakat, bahkan menyebabkan beberapa warung di sekitar kawasan tersebut memilih menutup usahanya untuk sementara waktu.

Menurut keterangan warga, debu yang beterbangan terutama pada siang hari dinilai cukup mengganggu kenyamanan dan kesehatan. Selain menutupi barang dagangan, debu juga membuat lingkungan sekitar menjadi kotor sehingga berdampak pada menurunnya jumlah pelanggan yang datang ke warung-warung di sekitar proyek.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menjelaskan bahwa kegiatan pengurukan tanah yang sedang berlangsung merupakan bagian dari tahap persiapan pembangunan PSEL Bantargebang. Proyek tersebut tengah dipersiapkan menjelang agenda groundbreaking yang direncanakan berlangsung pada 8 Juli 2026 mendatang.

Baca Juga: Polantas Menyapa, Polres Cirebon Kota Salurkan Air Bersih untuk Warga Argasunya di Hari Bhayangkara ke-80

"Kegiatan pengurukan tanah ini merupakan bagian dari persiapan pembangunan PSEL dan untuk mendukung pelaksanaan groundbreaking yang dijadwalkan pada 8 Juli mendatang," ujar Kiswatiningsih.

Ia juga memastikan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait ceceran tanah yang menyebabkan debu di sepanjang jalur sekitar proyek. Tim dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi telah melakukan pembersihan serta penyemprotan jalan guna mengurangi dampak debu yang ditimbulkan.

Namun demikian, upaya tersebut menghadapi kendala karena karakteristik tanah yang digunakan dalam proses pengurukan merupakan tanah merah. Akibatnya, setelah dilakukan penyiraman dan penyemprotan, debu memang berkurang secara signifikan, tetapi permukaan jalan menjadi lebih licin.

"Sebelumnya ceceran tanah sudah dibersihkan dan dilakukan penyemprotan oleh tim DLH. Akan tetapi karena jenis tanah yang digunakan adalah tanah merah, debunya memang berkurang setelah disiram, namun kondisi jalan menjadi lebih licin," jelasnya.

Baca Juga: Gratis Masuk Museum Saat HUT Jakarta ke 499, Catat Jadwal dan Daftar Lokasinya Sebelum Kelewat

Untuk meminimalkan dampak yang lebih luas kepada masyarakat, Kiswatiningsih mengaku telah meminta pihak pelaksana proyek agar mempercepat proses pengerjaan pengurukan tanah. Langkah tersebut dilakukan agar pekerjaan yang berpotensi menimbulkan debu dapat segera diselesaikan sebelum pelaksanaan agenda penting pembangunan PSEL.

"Kami juga sudah meminta pihak pelaksana untuk mengebut pengerjaan pengurukan tanah ini dan menargetkan pekerjaan tersebut dapat selesai sebelum 6 Juli. Dengan begitu, dampak terhadap masyarakat dapat diminimalkan dan persiapan groundbreaking pada 8 Juli dapat berjalan sesuai rencana," katanya.

Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Lingkungan Hidup menyatakan akan terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas proyek agar dampak yang dirasakan masyarakat dapat diminimalkan. Koordinasi dengan pihak pelaksana proyek juga akan terus dilakukan, termasuk terkait pengendalian debu, kebersihan jalan, serta keselamatan pengguna jalan di sekitar area pembangunan.

Di sisi lain, warga berharap adanya langkah mitigasi yang lebih efektif selama proses pembangunan berlangsung, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Bantargebang tidak terganggu dan lingkungan tetap terjaga.

Pembangunan PSEL Bantargebang sendiri merupakan salah satu proyek strategis nasional, yang diharapkan dapat mendukung pengelolaan sampah menjadi energi terbarukan sekaligus mengurangi beban penumpukan sampah di Kota Bekasi yang sudah darurat. Meski demikian, masyarakat berharap proses pembangunan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan kenyamanan warga yang berada di sekitar lokasi proyek.***