POJOKSATU.ID – Pemerintah Kota Bekasi bersama unsur DPRD Kota Bekasi dan perwakilan tokoh masyarakat Bantargebang melakukan kunjungan kerja ke fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) milik Wangneng Environment di Huzhou, China, pada 26 Juni 2026.

Kunjungan ini dilakukan untuk mempelajari secara langsung teknologi pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy) yang akan diterapkan dalam proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi.

Rombongan dipimpin Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dan diikuti Ketua DPRD Kota Bekasi Sardi Efendi, pimpinan serta anggota Komisi II DPRD Kota Bekasi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi Kiswatiningsih, serta sejumlah tokoh masyarakat Bantargebang.

Kehadiran unsur pemerintah, legislatif, dan masyarakat dalam satu kunjungan tersebut disebut sebagai upaya membangun transparansi sekaligus memperkuat pemahaman bersama terhadap proyek strategis yang digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang penanganan sampah di Kota Bekasi.

Baca Juga: Hasil Polling: 75 Persen Publik Yakin KDKMP Sama 'Bermasalahnya' dengan BGN dan MBG, Transparansi Anggaran juga Gelap

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswatiningsih, mengatakan kunjungan dilakukan agar seluruh pemangku kepentingan dapat melihat secara langsung proses operasional teknologi waste to energy, mulai dari penerimaan sampah, pengolahan, pengendalian emisi hingga konversi menjadi energi listrik.

"Kami ingin seluruh proses pembangunan PSEL berjalan secara transparan dan dipahami bersama oleh seluruh pihak. Dengan melihat langsung fasilitas yang telah beroperasi, masyarakat dapat memperoleh gambaran yang utuh mengenai manfaat teknologi, standar operasional, serta aspek lingkungan yang diterapkan," ujar Kiswatiningsih.

Menurutnya, kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian persiapan menjelang pembangunan fisik PSEL Kota Bekasi yang saat ini tengah dipercepat.

Ia menegaskan seluruh biaya kunjungan ditanggung oleh Wangneng Environment Co., Ltd. selaku Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) yang telah ditetapkan dalam proyek PSEL Kota Bekasi.

Baca Juga: Peluang Kedua bagi Siswa yang Belum Lolos Negeri, Ini 7 SMA Swasta Kerja Sama di Bandung Raya, Buka 1.085 Kuota SPMB 2026

"Pembiayaan kunjungan sepenuhnya ditanggung oleh Wangneng sebagai BUPP sehingga tidak membebani keuangan daerah," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan pembangunan PSEL tidak hanya bertujuan menghadirkan fasilitas pengolahan sampah modern, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi kawasan Bantargebang.

Selama puluhan tahun, Bantargebang dikenal sebagai lokasi pengolahan dan pembuangan sampah terbesar di Indonesia. Pemerintah Kota Bekasi kini berupaya mengubah citra tersebut menjadi kawasan yang identik dengan inovasi lingkungan, energi terbarukan, dan ekonomi hijau.

"Kami ingin mengubah stigma masyarakat terhadap Bantargebang. Tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat pembuangan sampah, tetapi menjadi pusat inovasi lingkungan hidup yang mampu mengubah sampah menjadi energi, membuka peluang ekonomi baru, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar," ujar Tri Adhianto.

Menurutnya, transformasi tersebut tidak hanya ditopang oleh pembangunan PSEL. Pemkot Bekasi juga tengah mendorong pengembangan industri berbasis ekonomi sirkular, termasuk pemanfaatan fly ash dan bottom ash (FABA) yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah menjadi energi.

Baca Juga: Ini Dia 9 Tablet Samsung Terbaru 2026, Sudah Dilengkapi S Pen, Cocok untuk Pelajar hingga Profesional

Pengembangan industri berbasis FABA dinilai berpotensi menghasilkan berbagai produk konstruksi bernilai tambah, menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus mendorong tumbuhnya kawasan industri hijau yang terintegrasi di Bantargebang.

"Kami membayangkan Bantargebang berkembang menjadi kawasan ekonomi lingkungan. Ada PSEL yang menghasilkan energi listrik, ada industri pengolahan FABA yang menghasilkan produk bernilai ekonomi, serta aktivitas riset dan inovasi lingkungan. Dengan begitu, manfaatnya tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar," ungkapnya.

Pemerintah Kota Bekasi menargetkan tahapan groundbreaking proyek PSEL dapat dilaksanakan pada awal Juli 2026. Prosesi peletakan batu pertama tersebut direncanakan akan dihadiri dan diresmikan langsung oleh Prabowo Subianto.

Pemkot Bekasi berharap pembangunan PSEL beserta pengembangan industri pendukungnya dapat menjadikan Bantargebang sebagai model transformasi kawasan lingkungan yang berhasil mengubah persoalan sampah menjadi peluang pembangunan berkelanjutan.

"Dulu orang mengenal Bantargebang karena gunungan sampahnya. Ke depan, kami ingin Bantargebang dikenal sebagai simbol keberhasilan pengelolaan lingkungan modern, tempat lahirnya energi bersih, inovasi teknologi, dan pusat pertumbuhan ekonomi hijau di Kota Bekasi," tutup Tri.***