POJOKSATU.id - Mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, destinasi yang kaya akan kekayaan alamnya ini menyimpan nilai adat, budaya, dan keagamaan yang sangat kental.

Hari Raya Nyepi, merupakan salah satu hari suci di Bali yang momennya sangat dinantikan pada setiap tahunnya.

Kehidupan di Bali saat perayaan Nyepi akan sangat sunyi selama seharian penuh.

Kegiatan sehari-hari akan dibatasi kecuali pada objek vital seperti rumah sakit.

Baca Juga: Intip Keunikan Tradisi Upacara Peusijuek di Aceh, Hasil Akulturasi Budaya, Jokowi Pernah Lakukan

Hari Raya Nyepi merupakan hari besar umat Hindu yang dirayakan pada setiap pergantian tahun Saka.

Biasanya diadakan upacara adat sebelum puncak perayaannya yang bertujuan agar pelaksanaan Nyepi bisa berjalan dengan lancar.

Jika tahun baru pada umumnya jatuh pada bulan pertama namun Hari Raya Nyepi ini justru jatuh pada bulan kedasa atau bulan kesepuluh tepatnya setelah bulan baru kesembilan yang biasanya terjadi pada bulan Maret atau April kalender Masehi.

Umat Hindu mempercayai bahwa hari pertama ini merupakan hari bersih untuk memulai lembaran hidup baru di awal tahun Saka.

Adapun rangkaian upacara adat ini yang terdiri dari beberapa bagian, yang pertama adalah upacara Melasti atau upacara Melis yang dilaksanakan pada sasih kesanga.

Upacara tersebut dilakukan untuk menyucikan pratima, sarana dan peralatan upacara dengan cara diarak ke laut, danau, atau sungai.

Pratima merupakan simbol Dewa/Bhatara yang dipergunakan sebagai alat untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa (sebutan Tuhan Yang Maha Esa bagi umat Hindu).

Baca Juga: Pasola, Rayakan Rasa Syukur Masa Panen dengan Tradisi Upacara Penuh Keberanian dari Sumba, Nusa Tenggara Timur

Kemudian dilanjut dengan upacara Pengrupukan atau dikenal juga dengan nama lain upacara Tawur Kesanga atau Tawur Agung.

Upacara ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan alam semesta maupun diri manusia dari gangguan bhuta kala yang merupakan sebutan untuk sosok makhluk jahat dengan wajah yang menyeramkan dan merupakan makhluk penggoda.

Ketika menjelang matahari terbit di ufuk timur barulah umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi, ketika merayakan Nyepi, umat Hindu di Bali mendapatkan pembelajaran untuk mengendalikan diri dengan cara tidak bepergian atau melakukan kegiatan lain diluar.

Setelah 24 jam melaksanakan Catur Bratha Penyepian, Hari Nyepi kemudian ditutup hari Ngembak Geni yang berarti bebas menghidupkan api.

Adapun aturan khusus selama perayaan Nyepi yaitu umat Hindu dilarang melakukan aktivas apapun kecuali dalam keadaan darurat, beberapa hal yang harus dipatuhi saat Hari Raya Nyepi antara lain:

Baca Juga: Mengenal Upacara Tabuik, Tradisi Festival Khas Masyarakat Pariaman Sumatera Barat

• Amati Geni, yaitu larangan untuk menyalakan api/lampu.

• Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan apapun.

• Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian kemana-mana.

• Amati Lelanguan, yaitu tidak mengadakan hiburan/bersenang-senang.

Mengingat situasi pada tahun 2022 ketika adanya pandemi COVID-19, perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1944 ini dilangsungkan dengan mengacu pada protokol Tatanan Kehidupan Era Baru serta Surat Edaran Majelis.

Bagi Desa Adat yang Wewidangn-nya berdekatan dengan segara, Melasti di pantai.

Bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan danau, Melasti di danau.

Bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan campuhan, Melasti di air terjun.

Bagi Desa Adat yang tidak melaksanakan Melasti di tempat tersebut maka dapat Melasti dengan cara Ngubeng atau Ngayat dari Pura setempat (melakukan dengan jarak jauh).***