POJOKSATU.id, Kalsel - Pada alur di film Avatar 2, yang memperlihatkan kematian putra sulung Jake dan Neytiri bernama Neteyam. Dimana jasadnya dimakamkan di dalam air Desa Pandora yang dianggap abadi bersama leluhur Suku Metkayina.

Ternyata, kisah itu tidak hanya terjadi pada dunia fiksi saja.
Fenomena pemakaman di dalam air juga dapat ditemukan di Indonesia.

Tepatnya di Desa Nagara, Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) Kalimantan Selatan. Dimana desa ini memiliki budaya dengan memakamkan jenazah ke dalam air.

Hal itu karena kawasan tersebut dikelilingi oleh rawa, dan 90 persen kerap banjir saat air pasang.

Baca Juga: Polsek Percut Sei Tuan Berhasil Lumpuhkan Pelaku Begal IRT di Deli Serdang

Desa Nagara tidak memiliki lahan tanah yang cukup tinggi untuk melakukan pemakaman. Jadi jika ada warga desa yang meninggal pada musim itu, jasadnya akan dimakamkan di bawah air.

Proses yang dilakukan sebelum pemakaman ialah menggali tanah di dalam rawa dengan cara menyelam.

Menurut Camat Daha Selatan, Nafarin bahwa pemakaman di dalam air hanya terjadi ketika musim hujan tiba. Ketika air laut pasang saat musim hujan, tak ada lagi daratan yang terlihat.

"Saat musim hujan terjadi, dan ada warga yang meninggal maka akan dilakukan pemakaman di dalam air. Hal itu karena adanya air pasang dari laut," ujar Nafarin, seperti dikutip Pojoksatu.id, pada Sabtu (15/7/2023).

Baca Juga: Atasi Genangan Air, Dinas SDABMBK Kota Medan Pasang U-Ditch Sepanjang 931 Meter di Jalan Bahagia By Pass

Maka, ketika ada yang meninggal di musim itu masyarakat menguburkannya di bawah air. Masyarakat setempat pun sudah terbiasa memakamkan jenazah di tengah rawa yang dikelilingi air.

Berdasarkan data dari Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, wilayah Nagara berdiri di air rawa dan sungai-sungai besar. Penduduk di wilayah itu juga banyak yang menganut agama Islam.

Peduduk dengan mayoritas muslim ini melakukan pemakaman menggunakan “Tabala“ atau peti mati guna menjaga si mayit tetap berada di dalam peti saat dimakamkan di bawah air.

Baca Juga: BPBD Sediakan Perahu Karet untuk Evakuasi Korban Banjir di Padang Bagi Masyarakat Rentan

Tentunya, kondisi itu menyebabkan liang lahat digenangi air dan warga tetap melakukan proses pemakaman.

Pemakaman di bawah air akan membutuhkan sejumlah orang untuk ikut membantu dan dibutuhkan usaha ekstra. Selain mereka yang harus masuk ke air, mereka juga harus membuat simpul tali pada kayu yang cukup kuat.

Pada prosesnya, kanan kiri tabala itu diberi tali, kemudian diletak di atas air persis di bawah lubang kubur. Selanjutnya diberi kayu Galam di atasnya, dan peti tersebut ditarik ke dalam menggunakan tali agar tidak tenggelam.

Baca Juga: Tikam Juru Parkir Karna Masalah Nasi Parnap, Pria Paruh Baya ini Diamankan Polsek Medan Baru

Selain Galam sebagai penanda, peti tersebut juga ditimbun dengan tanah sebagai pemberat di dalamnya, sehingga Tabala terebut tidak kembali timbul.

Camat juga menambahkan bahwa pemerintah desa telah membangun tempat pemakaman umum (TPU) yang struktur tanahnya tidak terpengaruh air pasang. Sehingga tidak semua warga melakukan proses pemakaman seperti itu.

Lahan pemakaman bagus ada di beberapa tempat, seperti di wilayah Tumbukan Banyu ada kompleks pemakaman. Ada juga di perbatasan Sangai Pinang sebagai antisipasi.

Nafarin mengaku untuk membangun TPU di wilayah Daha Selatan, pihaknya terkendala anggaran lantaran banyaknya tanah yang digunakan untuk melakukan penimbunan. ***

Baca Juga: Situ Cipule di Karawang, Permata Tersembunyi untuk Para Pecinta Alam