POJOKSATU.ID – Enam belas tahun sudah Jatminah (52), seorang kader tuberkulosis (TBC) di Kota Cirebon, mengabdikan dirinya tanpa pamrih. Sejak tahun 2009, ia mengetuk pintu demi pintu, mendampingi pasien, memberi penyuluhan, dan menebar harapan bagi mereka yang kerap dijauhi karena penyakit.

Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dengan penghasilan tak menentu, Jatminah tak pernah menuntut balas jasa. Ia hanya ingin melihat pasiennya sembuh dan kembali tersenyum.

“Kalau saya berhenti, siapa yang akan terus mengingatkannya?” ujarnya lirih dengan mata berkaca-kaca.

Perjuangan Jatminah tak selalu mudah. Ia kerap menempuh jarak jauh tanpa kendaraan dinas, tanpa uang transport, dan tanpa imbalan. Semua biaya ia tanggung sendiri. Namun baginya, setiap doa dari pasien jauh lebih berharga dari uang.

Baca Juga: Jabar Pacu Sertifikasi SPPG: Cegah Risiko Keracunan, Target Semua Dapur Punya SLHS Sebelum 30 Oktober!

“Upah saya cuma doa. Doa pasien yang bilang ‘semoga Ibu sehat selalu’ itu sudah cukup,” katanya sambil tersenyum.

Suatu hari, doa itu terjawab dengan cara yang tak disangka. Ia menerima kabar bahwa dirinya terpilih untuk berangkat umrah gratis melalui program apresiasi kader TBC dari PT Insight Investment Management (PT IIM) bekerja sama dengan Penabulu-STPI dan Yayasan STPI, melalui Reksa Dana I-Hajj Syariah Fund.

“Waktu dikabari saya gemetar, gak nyangka sama sekali. Saya cuma kader biasa. Tapi ternyata Allah kasih jalan ke Tanah Suci,” tuturnya dengan haru.

Jatminah menjadi salah satu dari lima kader TBC di Indonesia yang diberangkatkan ke Mekkah pada batch pertama program tersebut, September lalu. Program ini menjadi bentuk penghargaan bagi para kader yang selama ini bekerja di garis terdepan dalam upaya eliminasi TBC 2030.

Setelah menunaikan ibadah umrah, Jatminah pulang dengan senyum dan doa yang sama kuatnya.

“Waktu tawaf, saya berdoa semoga bisa bertemu Presiden Prabowo. Saya ingin bilang, tolong dengar suara kami, para kader. Kami kecil, tapi kamilah yang pertama mengetuk pintu, pertama menemukan pasien, dan pertama memberi harapan,” ucapnya penuh keyakinan.***