POJOKSATU.ID - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur produksi menu MBG, tengah menjadi sorotan publik lantaran dianggap tak memenuhi SOP.
Kasus keracunan para pelajar diduga disebabkan oleh kelalaian SPPG dalam memproduksi menu MBG.
Di tengah kritik tajam dari sejumlah pihak, salah satu SPPG di Majalengka selalu mengunggah di media sosial ketika proses produksi menu MBG.
Baca Juga: Viral Konvoi Yamaha Nmax Hadang Bus di Ciwidey, Warganet Kecam Bahaya Arogansi di Jalan Raya
Mereka adalah SPPG unit Tenjolayar, Cigasong, Majalengka yang tetap disiplin menjalankan SOP dalam memproduksi makanan.
Meskipun harus menyiapkan hingga 4.000 porsi setiap hari, kerja sama tim menjadi modal utama mereka sehingga target tercapai dengan kualitas baik.
Terlihat dapur tempat memproduksi makanan sangat dijaga kebersihannya dan pegawainya juga menggunakan alat pelindung diri, seperti masker, sarung tangan, celemek, penutup rambut, hingga sepatu yang hanya tidak boleh di bawa ke luar ruangan.
Sehingga ruangan dapur yang tertutup itu tetap terjaga kebersihannya, sehingga menghasilkan menu MBG yang aman dikonsumsi.
Menu-menu yang disajikan cukup beragam dan disajikan tidak asal-asalan meski menunya sederhana.
Dipastikan selalu memberi plating agar terlihat menarik sehingga pelajar bisa lebih antusias menyantap makanannya.
Baca Juga: Dana Hibah Pemkot Cirebon ke Kejari Dinilai Bermasalah, LBH Siap Gugat
Ternyata bukan hanya pegawai yang bekerja untuk menyiapkan makanan, ahli gizi, asisten lapangan, dan driver membantu menyortir buah.
Buah yang dibeli tak langsung disajikan, akan disortir terlebih dulu untuk memastikan tidak ada buah yang busuk.
Selain menyajikan menu dengan baik, proses pencucian ompreng juga dilakukan dengan tetap menjalankan SOP.
Ompreng-ompreng bekas dicuci dengan berbagai tahapan, dimulai pencucian memakai sabun.
Kemudian dibilas dengan air bersih yang mengalir, lalu dikeringkan menggunakan lap bersih hingga benar-benar kering.
Sebagai informasi, Jawa Barat jadi provinsi paling banyak terjadi kasus keracunan MBG, dari Januari hingga September 2025 ada lebih dari 2.600 kasus.
Meski begitu, belum ada satu pun kasus keracunan MBG di Majalengka hingga akhir bulan September 2025.***




