POJOKSATU.ID — Rambut Sewu dikenal sebagai salah satu laku kuno masyarakat Jawa yang konon dilakukan saat desa menghadapi pagebluk, kemarau panjang, hingga gagal panen. Ritual ini diyakini sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.
Namun, cerita turun-temurun menyebutkan bahwa penyalahgunaan ritual tersebut justru dapat membawa dampak buruk, mulai dari penyakit hingga ketidakharmonisan dengan alam.
Di tengah gambaran Tanah Jawa yang dikenal dengan ungkapan “Gemah Ripah Loh Jinawi” negeri yang makmur dengan hasil bumi berlimpah tidak semua wilayah selalu merasakan kesuburan yang sama.
Di bagian selatan Yogyakarta yang berbatu dan kering, musim kemarau terkadang datang lebih panjang. Tanah mengeras, sumur menyusut, dan sawah berubah menjadi hamparan retak.
Dalam kondisi sulit seperti itu, masyarakat tempo dulu mengenal Rambut Sewu sebagai laku spiritual yang dilakukan bukan untuk mencari kesaktian, melainkan sebagai bentuk penyerahan diri dan pengingat agar manusia kembali selaras dengan alam.
Baca Juga: Harus Viral Dulu Baru Bergerak, Jalan Rusak Parah di Pesawaran Akhirnya Ditinjau Bupati
Ritual ini biasanya digelar saat desa berada di ambang pagebluk, hujan tak turun berbulan-bulan, panen gagal, dan penyakit mulai menyebar tanpa sebab jelas.
Dalam pelaksanaannya, beberapa unsur seperti rambut, air, kain kafan, dan pohon angsana digunakan sebagai simbol. Semua itu dimaknai sebagai bentuk kerendahan hati manusia, bukan untuk memaksa alam, melainkan memohon keseimbangan kembali pulih.
Kisah tentang Rambut Sewu kembali diingat melalui cerita yang disampaikan seorang pria bernama Mas Gus kepada teman-temannya saat malam keakraban pada tahun 2008. Ia mengaku mendengar cerita tersebut dari kakeknya, Simbah Pangat, yang merupakan salah satu sesepuh di kampungnya.
Mas Gus menceritakan suasana masa lalu, ketika warga berkumpul di lincak dekat gubuk kecil dengan penerangan lampu minyak. Dengan suara tenang, ia mengulang pesan para orang tua tentang makna ritual tersebut.
Menurut Simbah Pangat, dahulu Rambut Sewu hanya dilakukan ketika seluruh warga sepakat. Ritual dipimpin sesepuh, dilaksanakan dengan doa bersama, dan diakhiri dengan makan bersama sebagai tanda syukur.
Baca Juga: Menkes Kena Semprot DPR Soal BPJS PBI Dinonaktifkan, Wajar Rakyat Marah, Data Pemerintah Tak Sinkron
Konon, setelah itu hujan biasanya turun perlahan, tidak deras, tidak merusak. Sawah kembali hijau, penyakit mereda, dan kehidupan berjalan normal.
Namun, cerita itu juga menyimpan sisi lain yang jarang disampaikan. Ada masa ketika ritual tersebut tidak lagi dijalankan untuk kepentingan bersama. Beberapa orang disebut mencoba melakukannya demi ambisi pribadi, tanpa tuntunan dan tanpa restu para sesepuh.
Sejak saat itu, warga mulai merasakan kejanggalan. Pada suatu malam, angin mendadak berhenti berembus. Dedaunan pohon angsana tak bergerak, dan dari arah sungai tercium bau anyir yang tak biasa. Anjing-anjing melolong ke arah rumah seseorang, bukan ke hutan seperti biasanya.
Keesokan harinya hujan memang turun, tetapi airnya keruh dan terasa pahit. Warga menemukan rambut-rambut halus menyumbat parit dan sumur, melilit kaki ternak, bahkan menempel di ambang pintu rumah. Penyakit pun menyebar dengan gejala aneh tanpa pola yang jelas.
Para sesepuh akhirnya berkumpul dan menyimpulkan bahwa bukan ritual Rambut Sewu yang membawa petaka, melainkan penyalahgunaannya. Laku yang melanggar batas diyakini tetap bekerja, namun dengan cara yang tak bisa dikendalikan manusia.
Pesan yang terus diwariskan, menurut cerita tersebut, adalah bahwa setiap laku kuno pada dasarnya merupakan pengingat agar manusia tetap rendah hati dan menjaga keseimbangan dengan alam. Selama niat dijaga untuk kebaikan bersama, alam dipercaya akan bersahabat. Namun ketika niat berubah, akibatnya harus ditanggung oleh manusia sendiri.***




