POJOKSATU.ID — Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar konferensi pers terkait polemik yang melibatkan keluarga penulis Ahmad Bahar dengan organisasi massa GRIB Jaya (Gerakan Rakyat Indonesia Baru) yang dipimpin Hercules.
Dalam konferensi tersebut, keluarga Ahmad Bahar mengungkap dugaan intimidasi hingga penjemputan paksa terhadap putri Ahmad Bahar yang dipicu video rekayasa kecerdasan buatan atau deepfake AI.
Permasalahan bermula ketika akun WhatsApp milik putri Ahmad Bahar bernama Ilma diduga diretas oleh pihak tak bertanggung jawab. Dari akun tersebut, pelaku kemudian mengirim video deepfake yang menampilkan wajah dan suara Ahmad Bahar berisi cacian serta ancaman kepada pihak keluarga Hercules dan sejumlah pejabat GRIB Jaya.
Keluarga Ahmad Bahar menegaskan video tersebut bukan dibuat maupun dikirim oleh mereka. Namun video itu disebut memicu kemarahan pihak tertentu yang mengira pesan tersebut asli berasal dari keluarga Ahmad Bahar.
Perwakilan keluarga Ahmad Bahar, Heru Subagia, mengatakan pihak PP Muhammadiyah menerima dan mendengarkan seluruh paparan keluarga secara serius dalam pertemuan tersebut.
“Semua paparan kami didengarkan dengan serius. Diskusinya sangat mendalam dan berbagai masukan hukum juga disampaikan,” kata Heru.
Ia mengapresiasi langkah Muhammadiyah yang dinilai berani membuka ruang pendampingan hukum di tengah persoalan yang melibatkan organisasi besar dan tokoh berpengaruh.
“Selama ini banyak pihak menganggap melawan organisasi besar itu sulit dan mahal. Tapi hari ini kami melihat Muhammadiyah hadir memberikan pelayanan keadilan kepada masyarakat,” ujarnya.
Heru juga mengungkapkan bahwa sekitar 40 lembaga bantuan hukum berbasis Islam kini mulai menyusun strategi untuk mengawal kasus tersebut.
Baca Juga: PCNU Cirebon Raya Resmi Ajukan Cirebon Jadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35
“Kurang lebih ada sekitar 40 lembaga bantuan hukum berbasis Islam yang siap mengawal dan menyusun langkah lanjutan,” ungkapnya.
Heru melanjutkan, situasi memanas pada Minggu siang ketika sejumlah anggota ormas mendatangi kediaman Ahmad Bahar saat dirinya dan sang istri tidak berada di rumah. Saat itu di rumah hanya terdapat Ilma, adiknya yang sedang sakit, serta neneknya yang dalam kondisi sakit parah.
"Menurut keterangan keluarga, sejumlah orang diduga memaksa masuk ke rumah untuk mencari Ahmad Bahar. Karena tidak menemukan yang bersangkutan, mereka kemudian membawa Ilma ke kantor GRIB Jaya di kawasan Kedoya, Jakarta Barat," pungkasnya
Diberitakan sebelumnya, di lokasi tersebut, Ilma disebut menjalani interogasi langsung dan mengalami tekanan mental serta intimidasi verbal karena pihak ormas tidak mempercayai penjelasan mengenai dugaan peretasan akun WhatsApp miliknya.
Mengetahui putrinya dibawa, Ahmad Bahar langsung melapor ke Polres Depok. Melalui koordinasi kepolisian, Ilma akhirnya dibawa dari Kedoya menuju Polres Depok dan sempat dilakukan kesepakatan damai awal terkait persoalan video AI tersebut.
Baca Juga: Mendikdasmen Soroti 200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, Sebut Banyak Bermula dari Main Gim
Namun Ahmad Bahar menegaskan perdamaian tersebut hanya berkaitan dengan video deepfake, bukan tindakan intimidasi maupun dugaan penjemputan paksa terhadap putrinya. Setelah mengetahui detail kejadian yang dialami Ilma, pihak keluarga memutuskan menempuh jalur hukum lanjutan.
Didampingi LBH Muhammadiyah, LBH Hidayatullah, serta Aliansi Ormas Islam, keluarga Ahmad Bahar berencana melaporkan dugaan persekusi tersebut ke kepolisian, meminta perlindungan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), serta mengadukan perkara itu ke Komnas Perempuan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Mereka juga meminta Mabes Polri memberikan jaminan keamanan agar tindakan intimidasi serupa tidak kembali terjadi di masyarakat.
Meski demikian, pihak keluarga menegaskan akan tetap mengikuti arahan dan strategi hukum yang disiapkan tim pendamping dalam mencari keadilan dan kebenaran atas kasus tersebut.***




