POJOKSATU.ID - Pernyataan Gus Miftah yang dinilai melecehkan rakyat kecil, khususnya tukang es teh, memicu gelombang kemarahan publik. 

Isu ini menjadi tantangan serius bagi pemerintahan Prabowo-Gibran yang baru saja memulai 100 hari kerja.

Pengamat politik Heru Subagia menilai bahwa Gus Miftah, sebagai staf khusus Presiden yang memiliki kedudukan selevel menteri, seharusnya menunjukkan tanggung jawab moral dengan mengundurkan diri. 

Menurut Heru, sikap ini penting untuk meredakan kemarahan masyarakat.

“Publik sangat kecewa. Jika Gus Miftah tidak segera mengundurkan diri atau Presiden Prabowo tidak memecatnya, ini akan menjadi beban politik yang serius,” ujar Heru, Jumat (6/12).

Baca Juga: Kronologi Kasus Pembunuhan Satu Keluarga di Ngancar Kediri, Tiga Orang Tewas Mengenaskan Diduga Korban Perampokan

Heru juga mengingatkan, sebagai pemimpin, Prabowo Subianto harus memastikan pejabat pemerintahannya tidak menyakiti hati rakyat kecil. Jika tidak, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat terguncang.

“Presiden harus memberikan jaminan bahwa rakyat miskin dihormati, bukan dihina. Solusinya, segera reshuffle kabinet dan ganti pejabat yang merusak kepercayaan publik,” tegasnya.

Ia juga menyoroti bahwa hingga kini, pemerintahan Prabowo-Gibran belum menunjukkan hasil signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat kelas bawah. Padahal, publik menanti realisasi janji-janji kampanye terkait penguatan ekonomi.

Baca Juga: Nekat Jualan Obat Aborsi di Media Sosial, Seorang Bidan dan Ibu Rumah Tangga Diciduk Polisi di Cikarang

“Kemarahan publik terhadap Gus Miftah bukan sekadar masalah etika, tetapi sudah menjadi isu sosial yang mencerminkan kekecewaan masyarakat terhadap lambatnya perubahan di bawah pemerintahan Prabowo-Gibran,” tutup Heru.