POJOKSATU.id, Indramayu – Potensi komoditas mangga di Desa Sliyeg Lor, Kabupaten Indramayu, terus didorong untuk berkembang melalui peningkatan kapasitas petani dan penerapan praktik pertanian inovatif.

Upaya tersebut dilakukan Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Integrated Terminal (IT) Balongan dalam Program Corporate Social Responsibility (CSR) Desa Energi Berdikari SAGARI.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni mengajak masyarakat mengikuti “Studi Banding Praktik Baik Pertanian Mangga” di Jawa Timur melalui kegiatan Jejak Inspirasi pada Rabu (24/09).

Sebanyak 28 peserta yang terdiri atas kelompok petani mangga konvensional, Kelompok Usaha Perempuan Berdaya, dan Kelompok Tani Salam Tani mengikuti kegiatan tersebut.

Mereka mengunjungi Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang untuk mempelajari praktik budidaya hingga pengolahan komoditas mangga.

Kegiatan ini turut melibatkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu serta Pemerintah Desa Sliyeg Lor.

Kolaborasi tersebut dilakukan agar pengetahuan yang diperoleh selama kunjungan dapat disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan ke Instalasi Pengujian dan Penerapan Modernisasi Pertanian (IP2MP) Cukurgondang, Pasuruan, yang berada di bawah Kementerian Pertanian.

Di lokasi tersebut, peserta mendapat pembelajaran mengenai pengelolaan pertanian dan komoditas mangga dari Koordinator IP2MP Cukurgondang, Dwi Wahyuni Ardiana.

Pasuruan dipilih karena memiliki pengalaman yang dinilai relevan dengan potensi pertanian mangga di Sliyeg Lor.

Para peserta dapat melihat secara langsung praktik budidaya, pengelolaan tanaman, hingga berbagai upaya untuk menjaga produktivitas mangga.

Pembelajaran kemudian berlanjut ke Kabupaten Malang dengan mengunjungi PT Inovasi Pangan Lestari. Kunjungan tersebut didampingi Direktur PT Inovasi Pangan Lestari, Abdullah Dzikri.

Jika kunjungan di Pasuruan memberikan perspektif mengenai budidaya, kunjungan di Malang memperkenalkan peserta pada pengolahan hasil pertanian menjadi produk yang lebih beragam dan memiliki nilai ekonomi.

Peserta melihat secara langsung bagaimana buah dan sayuran dapat diolah menjadi berbagai produk turunan.

Praktik tersebut sekaligus membuka gambaran mengenai peluang usaha baru yang dapat dikembangkan masyarakat dari komoditas pertanian lokal.

Penggerak Program SAGARI Berdikari, Erwin Wiguna, menilai kunjungan tersebut memberikan perspektif baru bagi masyarakat Sliyeg Lor dalam mengembangkan potensi pertanian mangga.

“Kegiatan ini memberikan kami banyak inspirasi, terutama bagaimana pertanian mangga tidak hanya berhenti pada proses budidaya, tetapi bisa dikembangkan melalui teknologi, inovasi, dan pengolahan hasil. Apa yang kami lihat di Pasuruan dan Malang menjadi pembelajaran yang sangat berharga untuk kami bawa pulang dan coba kembangkan bersama kelompok di Sliyeg Lor,” ujar Erwin.

Menurutnya, pembelajaran dari dua daerah tersebut dapat menjadi bekal bagi masyarakat Sliyeg Lor untuk mengembangkan pertanian mangga secara lebih luas.

Dari Pasuruan, peserta memperoleh wawasan mengenai penguatan kapasitas petani dan praktik budidaya mangga.

Sementara dari Malang, peserta mendapatkan gambaran mengenai peluang mengolah komoditas pertanian menjadi produk turunan yang memiliki nilai ekonomi.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB, Reno Fri Daryanto, mengatakan kegiatan Jejak Inspirasi menjadi bagian dari upaya Pertamina memperluas wawasan masyarakat melalui pembelajaran langsung dari praktik yang telah berjalan di daerah lain.

“Jejak Inspirasi menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat langsung praktik pertanian yang telah berkembang di daerah lain, lalu mengambil hal-hal yang relevan untuk diterapkan di Sliyeg Lor”, ujar Reno.

Melalui Program SAGARI Berdikari, Pertamina Patra Niaga Regional JBB mendorong masyarakat Sliyeg Lor untuk mengembangkan pertanian mangga secara berkelanjutan.

Program tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang usaha sekaligus mendukung kemandirian pangan melalui pengembangan potensi pertanian daerah, sejalan dengan Asta Cita poin kedua.***