POJOKSATU.id, Kota Bandung – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat menegaskan komitmennya dalam mendukung eksistensi media massa di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dukungan ini dinilai penting agar media massa tetap mampu menjalankan fungsi utamanya sebagai penyampai informasi yang akurat dan terpercaya bagi masyarakat.
Kepala Diskominfo Jawa Barat, Adi Komar, mengatakan media massa memiliki karakteristik yang berbeda dengan platform teknologi berbasis AI maupun media sosial.
Jika media sosial memungkinkan siapa saja menyebarkan informasi tanpa batas, media massa justru bekerja dengan prinsip disiplin verifikasi dan akurasi.
Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi digital, media massa tidak boleh tergeser atau hilang. Justru, perannya semakin krusial sebagai penjernih informasi dan penangkal disinformasi.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Diskominfo Jawa Barat menyalurkan belanja iklan pemerintah melalui perusahaan media massa, baik media daerah maupun nasional.
Kebijakan ini diambil untuk menjaga keberlangsungan industri pers agar tetap sehat dan profesional.
“Kami ingin media massa terus sehat dan profesional untuk masyarakat,” ujar Adi dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional, Senin (9/2/2026).
Adi menambahkan, hingga saat ini Diskominfo Jawa Barat belum menjalin kerja sama langsung dengan perusahaan teknologi informasi berbasis AI seperti Meta, Google, maupun TikTok.
Penayangan iklan di media sosial pun dilakukan melalui perusahaan media massa, bukan secara langsung ke platform teknologi tersebut.
Ia menilai media massa memiliki keunggulan tersendiri, mulai dari akurasi informasi hingga kedalaman pemberitaan yang mampu memberikan edukasi kepada publik.
Karena itu, media massa tetap menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Langkah Diskominfo Jabar tersebut sejalan dengan imbauan Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, yang mendorong pemerintah agar hadir menciptakan keadilan dalam pembagian belanja iklan antara media massa dan media sosial.
Persaingan antara perusahaan media massa dan perusahaan teknologi informasi saat ini semakin ketat.
Banyak pengiklan beralih ke platform digital karena dinilai lebih praktis dan menjangkau audiens luas. Kondisi ini berdampak pada penurunan pendapatan media massa.
“Kami mengharapkan campur tangan pemerintah agar terjadi keadilan iklan, agar tidak tersedot mayoritas kepada media sosial tapi juga ikut mempertahankan tegaknya sumbernya pers,” kata Komaruddin dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kota Serang, Banten, Senin (9/2/2026).
Komaruddin menegaskan, di tengah maraknya disinformasi, keberadaan media massa tetap vital sebagai penuntun masyarakat untuk memperoleh informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.




