POJOKSATU.id, JAKARTA -- Pendiri Haidar Alwi Care (HAC) dan Haidar Alwi Institute (HAI), R. Haidar Alwi mengamati masa depan ekonomi Indonesia menjelang usia ke-80 kemerdekaan.

Baginya, ulang tahun bangsa bukan sekadar perayaan, melainkan panggilan sejarah untuk menata ulang arah pembangunan agar lebih berdiri di atas kekuatan sendiri.

Menurutnya, selama lebih dari lima dekade, dunia berada dalam hegemoni Amerika Serikat, penguasa dolar, pengendali energi, dan pengatur lalu lintas perdagangan global.

"Pertarungan Amerika dan Tiongkok bukan sekadar persaingan ekonomi, tapi benturan dua sistem besar. Dan Indonesia harus memilih: menjadi penonton, atau ikut menentukan arah masa depan dunia," kata Haidar Alwi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (4/7/2025).

Baca Juga: CEK SIMPKB! Hari Ini Pemanggilan Peserta PPG Guru Tertentu Tahap 2 Tahun 2025!

Haidar juga menyoroti bagaimana Amerika sebelumnya mencoba menghidupkan kembali ekonomi militernya melalui ketegangan geopolitik.

Salah satunya adalah serangan terhadap Iran pada masa Trump. Langkah itu sempat diduga akan menjadi alat untuk mendorong permintaan senjata, sebagaimana pola lama Amerika di berbagai konflik. Namun hasilnya justru sebaliknya.

"Waktu menyerang Iran, yang muncul bukan legitimasi, tapi kecaman. Bukan hanya dari dunia internasional, tapi juga dari dalam negeri mereka sendiri," jelasnya.

Pelemahan Dolar

Haidar juga menyampaikan bahwa pelemahan dolar bukanlah tanda kelemahan Amerika, melainkan strategi sadar untuk menghidupkan ekspor dan industri dalam negeri.

Baca Juga: KPK Geledah Kantor PUPR Madina 4 Jam Sampai Tengah Malam, Nasib Kadis Elpi Yanti Belum Diketahui

Ketika produk Amerika tak bisa bersaing dengan barang-barang murah dari Tiongkok, maka yang paling logis adalah membuat dolar lebih murah.

"Dolar bisa turun ke Rp14.000 bahkan Rp13.000. Ini bukan karena rupiah menguat, tapi karena Amerika sedang membalik strategi mereka," ungkapnya.

Menurutnya, dolar mulai kehilangan daya tekan sebagai alat geopolitik, sehingga negara-negara BRICS memperkuat perdagangan non-dolar. Namun produk industri AS butuh daya saing baru.

"Bagi Indonesia, pelemahan dolar memberi dampak ganda: produk AS akan lebih murah dan pasar lokal bisa terganggu, jika tak ada perlindungan yang bijak dan adil. Namun, jika dikelola dengan cerdas, momentum ini juga bisa membuka ruang fiskal dan memperkuat sektor produksi dalam negeri," paparnya.

Baca Juga: Miris, dari 1.322 Pelamar Tenaga Teknis PPPK Madina Tahap 2, yang Lolos Seleksi Cuma 8 Orang

Di tengah ketidakpastian global, Indonesia justru menyimpan kekuatan besar yang belum digarap maksimal. Namun semua ini tidak berarti tanpa kedaulatan dalam pengelolaannya.

"Kita harus berhenti menjual mentah dan membeli mahal. Indonesia perlu mengelola sendiri kekayaan alamnya, dan membangun industrinya dengan percaya diri," tegas Haidar.

Oleh karena itu, Haidar mengusulkan lima langkah strategis untuk memperkuat pondasi ekonomi nasional sebagai berikut:

1. Dana Pembangunan Berbasis Komoditas Strategis

Membangun cadangan nasional berbasis emas dan nikel untuk pembiayaan infrastruktur dan ketahanan energi. Komoditas bukan sekadar sumber devisa, tapi juga alat kedaulatan ekonomi.

2. Pasar Inovasi Nasional Berbasis Karya Anak Bangsa

Mewujudkan pembiayaan inovasi dari valuasi kekayaan intelektual, agar penemu dan kreator bisa mengakses dana tanpa utang, tapi dengan menjual nilai gagasan secara adil dan transparan.

3. Koperasi Digital untuk Kepemilikan Tambang dan Hilir Industri

Melibatkan rakyat kecil dalam kepemilikan industri melalui platform digital koperasi nasional. Rakyat tidak lagi hanya sebagai konsumen, tapi juga pemilik aset negara.

4. Rupiah Digital Lokal untuk Transaksi Domestik

Sistem pembayaran digital lokal berbasis rupiah harus dikembangkan untuk UMKM, desa, dan pasar tradisional agar tidak selalu bergantung pada sistem rente global.

5. Pembaruan Kurikulum Ekonomi di Sekolah Menengah

Anak muda perlu dibekali pemahaman ekonomi strategis sejak sekolah. Pendidikan ekonomi tak boleh berhenti di teori, tapi harus mengarah pada pemahaman geopolitik, industri, dan kebijakan fiskal.

"Negara tidak boleh hanya jadi kasir untuk kekuatan asing. Kita harus mulai jadi perancang masa depan kita sendiri," tegas Haidar Alwi.

Bagi Haidar Alwi, nasionalisme ekonomi bukan hanya retorika. Ia hadir saat negara mendanai riset anak negeri, saat rakyat membeli produk lokal dengan bangga, dan saat sistem ekonomi dibangun atas dasar keadilan dan keberanian. Untuk itu di usia 80 bukan akhir perjalanan, tapi titik balik.

"Jika arah ini digenggam bersama, Indonesia tidak hanya akan selamat dari gejolak global, tapi akan menjadi poros ekonomi baru, bukan karena belas kasihan dunia, tapi karena kekuatan, kerja keras, dan kebijakan yang berpihak pada bangsa sendiri," pungkas Haidar.***