POJOKSATU.id, JAKARTA -- Keputusan S & P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil dinilai menjadi sinyal positif bagi prospek ekonomi nasional.

Lembaga pemeringkat global tersebut tidak hanya mempertahankan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia, tetapi juga mulai memberikan perhatian terhadap reformasi struktural yang tengah dijalankan pemerintah, termasuk peran Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam mengoptimalkan penerimaan negara.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai keputusan S&P tersebut bahkan lebih baik dibandingkan ekspektasi pasar.

Baca Juga: Jaksa Agung Ajukan Kuntadi Calon Tunggal Jampidsus ke Presiden Pengganti Febrie Adriansyah

Laporan terbaru S&P menunjukkan adanya perubahan cara pandang investor global terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.

"Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia dengan outlook stabil merupakan perkembangan yang lebih baik dari ekspektasi pasar. Ini menjadi sinyal bahwa lembaga pemeringkat mulai melihat perbaikan arah kebijakan ekonomi Indonesia," ujar Fakhrul, dalam keterangannya, Rabu (15/7).

Yang menarik, kata Fakhrul, S&P mulai memberikan penilaian lebih positif terhadap reformasi Danantara, termasuk inisiatif DSI yang diarahkan untuk meningkatkan penerimaan negara sekaligus memperbaiki kualitas ekspor nasional.

Baca Juga: Resep Bakwan Sayur Renyah ala Rudy Choirudin, Cocok Jadi Camilan Hangat Saat Santai

"Ini merupakan pengakuan bahwa reformasi yang sedang dilakukan mulai dipahami oleh investor global. Namun yang diapresiasi S&P bukan hanya idenya, melainkan keyakinan bahwa implementasinya akan semakin baik," ujar Fakhrul.

Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto mengatakan, prospek ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur yang positif karena didukung ruang fiskal yang masih memadai.

Menurut David, pemerintah diproyeksikan mampu menjaga defisit APBN 2026 tetap berada di bawah batas 3 persen terhadap PDB.

"Modal fiskal ini penting untuk menjaga persepsi bahwa kondisi fiskal Indonesia tetap sehat dan terkendali, sehingga kepercayaan investor dapat terus terpelihara," ujar David.

David juga melihat prospek Indonesia masih relatif kuat dibandingkan banyak negara lain. Di tengah perlambatan ekonomi global, Indonesia diperkirakan masih mampu menjaga laju pertumbuhan mendekati level 5 persen.

Ia mengutip sejumlah proyeksi lembaga internasional yang masih optimistis terhadap ekonomi Indonesia.

Outlook positif dari International Monetary Fund (IMF) juga dinilai memperkuat keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang baik.

"Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,78 persen, Asian Development Bank (ADB) sebesar 5,2 persen, sementara pemerintah menargetkan pertumbuhan berada pada kisaran 5,4-5,5 persen," ucapnya.***