POJOKSATU.id, JAKARTA-- Tanaman bambu yang selama ini identik dengan warisan budaya Nusantara, kembali menjadi sorotan dalam Forum Bumi bertema Mendorong Arah Kebijakan Pelestarian dan Pemanfaatan Bambu sebagai Solusi untuk Ketahanan Ekosistem, Ekonomi, dan Sosial.
Forum ini mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintah, sektor industri, hingga organisasi lingkungan untuk membahas strategi pengelolaan bambu sebagai sumber daya berkelanjutan.
Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Haruki Agustina mengatakan, peran bambu dalam mendukung target iklim nasional.
Bambu juga mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen secara mandiri.
"Target National Determined Contribution (NDC) Indonesia tahun 2030 adalah menurunkan emisi gas rumah kaca. Bambu dapat berperan penting melalui kapasitasnya sebagai carbon sink, sekaligus memperkuat ketahanan ekosistem dan sosial di tingkat lokal," Haruki, Senin (22/9/2025).
Bambu juga memiliki keunggulan ekologis yang luar biasa. Kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO₂) 1-2 kali lebih tinggi dibandingkan pohon kayu menjadikannya tanaman dengan peran penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Tidak hanya itu, bambu juga berpotensi menjadi sumber energi terbarukan. Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah melalui biochar yang memiliki banyak manfaat bagi lingkungan.
"Lebih luas lagi, pemanfaatan bambu di sektor energi ini juga membuka peluang investasi dan menciptakan lapangan kerja hijau berbasis sumber daya lokal," ujarnya.
Putu Juli Ardika, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian menekankan, potensi bambu untuk mendukung transformasi industri hijau.
"Kementerian Perindustrian mendorong pemanfaatan bambu sebagai bagian dari substitusi bahan baku kayu, sekaligus mendukung penguatan industri hijau nasional,” ungkapnya.
Lebih jauh, Rika Anggraini, Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI menekankan, bahwa bambu adalah bagian dari identitas budaya sekaligus penopang ketahanan sosial. Di mana Indonesia memiliki sekitar 175 jenis bambu, dan 50 persen di antaranya endemik.
Baca Juga: Gempa Bumi Mengguncang Sukabumi, Akibatnya Rumah 5Warga Rusak
"Sejak 2012, kami terus mendukung pelestarian bambu berbasis masyarakat di Jawa Barat, Bali, NTB, dan NTT. Bambu bukan hanya sekadar sumber daya alam, melainkan juga identitas budaya dan penopang ketahanan sosial yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat," jelas Rika.
Sementara itu dari sisi dunia usaha, bambu benar-benar menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masa depan.
Keberlanjutan tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar.
"Industri perbankan pun dapat berperan melalui dukungan pembiayaan hijau, agar bambu tidak hanya dilihat sebagai komoditas tradisional, melainkan bagian dari ekonomi masa depan," ujar Fransiska Oei, Compliance, Corporate Affairs & Legal Director PT CIMB Niaga Tbk.***




