POJOKSATU.id, JAKARTA-- Ribuan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mengakui dampak positif pembiayaan dari Fintech Peer-to-Peer (P2P) Lending.

Bahkan beberapa UMKM ini mengalami peningkatan omset hingga berkali-kali lipat.

Adapun syarat pengajuan dari UMKM ini sangatlah mudah tanpa agunan aset.

Bahkan dana pinjamannya mencapai Rp2 miliar sehingga hal ini menjadi daya tarik bagi UMKM.

Yuari Trantono (Ari), Pemilik PT Pangan Nusantara menceritakan pengalamannya perihal pendanaan ALAMI Sharia mampu meningkatkan keuntungan usahanya.

Baca Juga: Siswa SDN 09 Jatimulya Bekasi Sudah Lama Sasaran Perundungan Kawan-kawanya, Kini Kaki Harus Diamputasi

Diceritakannya, saat ini omsetnya sudah mencapai 6 ton per hari, berbentuk frozen food yang akan didistribusikan ke pabrik-pabrik di Indonesia untuk diolah menjadi bakso dan sosis.

Ditambah dirinya bukanlah seorang keluarga pengusaha, ia hanya seorang PNS yang banting setir menggeluti bisnis frozen foodnya ini.

"Kami bukan dari orang yang berada ya, kita di kampung juga kami merintis. Saat ini kami mampu mencatat peningkatan omset hingga dua kali lipat menjadi 6 ton kantong frozen food per hari dari yang sebelumnya hanya 3 ton,” kata Yuari (Ari) saat ditemui wartawan di lokasi usahanya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (30/10/2023).

Ari mengakui, Fintech P2P Lending menjadi harapan dan kesempatan dirinya untuk mengajukan pinjaman online tanpa jaminan aset.

Hanya dengan syarat menyiapkan laporan keuangan dua tahun terakhir. Sementara PT Pangan Nusantara sendiri telah peroleh pembiayaan mencapai sekitar Rp 1,2 M dari plafon Rp 2 miliar dengan proses mudah.

Baca Juga: Puluhan Teroris Berencana Gagalkan Pemilu 2024, Ada yang Bilang Demokrasi Langgar Hukum Allah

“Pinjaman ini kan sifatnya Kredit Modal Kerja (KMK), jika kita lagi butuh ya kita pakai, jika permintaan sedikit ya kita tidak pakai full dan kita kan sudah dapat platform Rp 2 miliar,” katanya.

“Jadi kalau misalnya karena mau Lebaran, ya kita full pakainya. Setelah habis Lebaran sepi ya kita turunin menjadi Rp 500 juta atau tidak sama sekali tergantung pada kebutuhan,” imbuh Ari.

Sementara itu, Harza Sandityo, Direktur Utama ALAMI Sharia mengatakan, fokus ALAMI Sharia memang menyasar industri-industri kunci yang mendukung perekonomian Indonesia, seperti perdagangan dan distribusi serta pertanian (perikanan).

Menurutnya, ALAMI sebagai penyelenggara Fintech P2P Lending Syariah, telah memberikan dukungan keuangan kepada lebih dari 11.400 proyek UMKM di sektor strategis di Indonesia.

Ekosistem ALAMI menjangkau 482 kota di 34 provinsi di seluruh Indonesia, melibatkan penyandang dana dan penerima manfaat, terutama UKM, yang berpartisipasi dalam berbagai kegiatan komersial dan sosial.

Kisah sukses lainnya dari Ibu Sumarni bersama anaknya Suki Kunihati. Pedagang bakso ini menceritakan pengalamannya setelah memperoleh pinjaman dari Mekar melalui KSP Dwi Tunggal sebesar Rp 40 juta.

Pinjaman tersebut dia gunakan untuk modal usaha yakni membeli gerobak untuk jualan bakso. Proses pengajuannya pun hanya butuh 1 hari, pagi pengajuan pinjaman online, sore dana sudah cair.

Baca Juga: Hasil Identifikasi Samuel Pelaku Penganiaya Dokter Gigi di Bandung, Ternyata Senjatanya Tak Berizin

“Usaha suami saya itu pedagang bakso, Alhamdulillah berkat bantuan dari Dwi Tunggal usaha yang saya jalankan dapat terbantu. Kebetulan kemarin kita sempat terkena dampak Covid, menurun dagangnya. Tenor pinjaman ibu Sumarni selama 3 tahun,” ucap Suki.

Selain itu, Budi Sang, Lending Manager Mekar mengatakan pembiayaan dari Mekar melalui kerjasama dengan koperasi.

Kali ini dengan KSP Dwi Tunggal yang memiliki banyak anggota. Hal ini untuk meminimalisir risiko gagal bayar.

“Mekar memiliki jaringan 30 koperasi, salah satunya adalah Dwi Tunggal yang membantu mempermudah proses akses anggota koperasi kepada Mekar. Rata-rata yang Mekar biayai 90% sektor produktif, banyak ibu-ibu dengan segmen grameen konsep dengan wilayah sekitar Pulau Jawa,” kata Budi.

Pengalaman yang sama juga disampaikan Erfianty, Owner Ayam Bakar Madu Hijrah Jagakarsa menuturkan, sebagai salah satu UMKM yang mendapat manfaat pendanaan dari OVO Finansial.

Erfianty mengaku bersyukur usahanya diberi kepercayaan untuk mendapatkan pendanaan yang digunakan sebagai modal pengembangan bisnis.

Pendapatan usahanya berhasil meningkat hingga 40% setelah mendapatkan pinjaman online dari OVO Finansial.

Baca Juga: Presiden Jokowi Mengutuk Serangan di Gaza, Fiersa Besari Heran Kalau Ada yang Masih Bingung Memihak Kemana

Menurutnya, pinjaman online dari OVO Finansial memiliki berbagai kemudahan, baik saat pengajuan kredit, proses pencairan, hingga pembayaran.

Sebagai salah satu merchant di ekosistem OVO, Erfianty mengaku lebih mudah mengajukan pinjaman, dari yang awalnya Rp 6 juta, selanjutnya Rp 30 juta dan kini Rp 50 juta dengan tenor 3-6 bulan.

“Pengajuan pembiayaan saya sangat mudah, saya diberi kepercayaan untuk bantuan pinjaman. Alhamdulillah sih lancar dan prosesnya sih cepat ya, hanya paling lama 2 hari bahkan yang pertama itu cuma 1 hari," ujarnya.

"Tinggal isi data saja dilihat dari transaksi saya di aplikasi di ekosistem OVO sudah cair. Alhamdulillah tidak ada jaminan,” tambah Erfianty saat memperkenalkan produknya saat bazar di Universitas Pancasila.

Seperti diketahui, secara bisnis Fintech Lending hadir sebagai solusi keuangan kepada UMKM yang belum memiliki akses ke layanan keuangan formal.

Merujuk penelitian tahun 2023, diperkirakan bahwa kebutuhan pembiayaan untuk UMKM pada tahun 2026 mencapai Rp 4.300 triliun.

Namun, ketersediaan dana hanya mampu memenuhi sekitar Rp 1.900 triliun, menyebabkan terjadinya kesenjangan kredit sebesar Rp 2.400 triliun. Gap ini dirasa sangat besar.

Hingga Agustus 2023, Fintech Pendanaan Bersama atau Fintech Lending telah menyediakan dana sebesar Rp677,51 Triliun, dengan pertumbuhan yang konsisten setiap tahun, tumbuh sebesar 45% pada tahun 2022 dan 112% pada tahun 2021.

Meskipun situasi ini dianggap sebagian sulit, Fintech Lending melihat sebagai peluang untuk dapat terus berinovasi melayani masyarakat dan membawa dampak langsung bagi perekonomian Indonesia.****