POJOKSATU.id, JAKARTA-- Ketua Umum PB Pendekar, Sasriponi Bahrin Ranggolawe, meminta Kejagung menertibkan pihak yang melakukan pencurian ore nikel di IUP PT Bosasi sejak 2017 hingga sekarang.
Sasriponi Ranggolawe mendesak Kejaksaan Agung (Kejagung) segera memproses hukum dan menangkap para pelaku yang diduga melakukan illegal mining di wilayah IUP PT Bososi Pratama, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Sasriponi Ranggolawe dalam laporannya ke Kejagung menduga yang melakukan ilegal mining di wilayah IUP PT Bososi Pratama adalah kelompok PT PAS.
Pria yang juga kuasa hukum PT Bososi dan PT RAN ini mengatakan telah melaporkan kasus ini Kejagung atas dugaan ilegal mining PT PAS di IUP PT Bososi dan PT RAN.
“Kami menuntut agar Kejaksaan Agung segera menindaklanjuti laporan kami, negara dirugikan Rp800 miliar,” kata Sasriponi Bahrin Ranggolawe dalam orasinya dalam aksi demo di depan Kejagung, Senin (6/10).
Baca Juga: Pengamat Skakmat Pernyataan Provokatif Mantan Kepala BAIS TNI Soleman Ponto Terhadap Polri
“Kami menuntut Kejagung segera memproses dan mengusut tuntas dan menangkap pelaku illegal mining yang menggunakan izin IUP PT Bososi secara melawan hukum. Ini jelas merugikan negara dan melanggar undang-undang,” tegasnya lagi.
Sasriponi Bahrin Ranggolawe dengan tegas meminta Kejaksaan Agung menertibkan pihak yang melakukan pencurian ore nikel di IUP PT Bosasi sejak 2017 hingga sekarang.
"Tangkap pihak-pihak yang membackup pencurian ore nikel di IUP PT Bosasi diduga dilakukan Simon, Jon Dkk," ucapnya.
Diketahui, PT PAS dilaporkan ke Kejagung oleh Penyelamat Negara Demi Kemakmuran Rakyat (PENDEKAR). Jhon dan Simon diduga kelompok mafia tambang di Konawe Utara.
Baca Juga: Kilang Subsidi
Sementara itu, pemilik perusahaan PT PAS, J Palmina, masih bungkam soal tudingan melakukan illegal mining di wilayah IUP PT Bososi Pratama, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Saat wartawan meminta bertemu J Palmina di kantornya di Penjaringan, Jakarta Utara, belum berhasil.
Security PT PAS bernama Abbas mengatakan J Palmina sedang tidak ada di kantor. Namun di depan kantornya, terlihat beberapa mobil mewah yang parkir.
"Saat ini (bapak) sedang tidak ada di kantor, harus ada izin dulu kalau mau bertemu," kata Abbas di temui media, Rabu (8/10).
Saat awak media meminta ingin bertemu dengan direksi lain, Abbas tetap tak bergeming dan menahan awak media masuk ke dalam kantor J Palmina. Abbas kemudian menanyakan tujuan bertemu dengan J Palmina.
"Kalau ada arahan dari pimpinan, nanti saya bantu untuk bertemu dengan siapa dari pihak kantor," ujarnya.
Saat awak media menanyakan soal kebenaran PT PAS sebagai perusahaan tambang di Sulawesi Utara, Abbas mengiyakan.
"Iya perusahaan tambang di Konawe," imbuh Abbas.***




