POJOKSATU.ID - Sejarah Pasar Johar Semarang, salah satu pusat perekonomian yang dibangun pemerintah Hindia Belanda dan masih bertahan sampai sekarang.
Semarang memiliki banyak kisah dan tempat bersejarah. Salah satunya adalah Pasar Johar.
Pasar Johar di Kota Semarang, Jawa Tengah merupakan tempat perputaran ekonomi yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda dengan melibatkan tangan dingin arsitek Thomas Karsten.
Baca Juga: Kebakaran Museum Nasional, Atap dan Tembok Belakang Ambruk, 13 Damkar Turun ke Lokasi
Hasilnya ciamik. Ia menciptakan keunikan arsitektur atap cendawan. Konon, pasar Johar dielu-elukan sebagai pasar tercantik di Asia Tenggara.
Ditambah lagi nilai sejarah yang menambah kesan klasik terhadap pasar ini.
Belanda selalu memikirkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk itu, kehadiran pasar jadi salah satu unsur penting yang harus ada di setiap kota jajahannya.
Baca Juga: Rekap Hasil Semifinal Hongkong Open 2023: Wakil Indonesia Paling Banyak Tembus Final
Semarang misalnya, diinisiasi pendirian pasar. Pasar Johar muncul sebagai buahnya.
Pembangunan Pasar Johar Semarang dilakukan secara profesional. Bukan asal-asalan.
Arsitek kenamaan Belanda, Thomas Karsten dilibatkan. Keterlibatan arsitek yang kemudian diketahui pro-kemerdekaan Indonesia itu bukan tanpa alasan.
Baca Juga: Mengenal 5 Tradisi Masyarakat Pesisir Indonesia Dalam Menghormati Sumber Daya Lautan
Ia memiliki rekam jejak yang mentereng. Sederet bangunan publik dari Batavia hingga Medan adalah karyanya.
Thomas Karsten lalu menganggap pembangunan Pasar Johar Semarang laksana tantangan.
Ia pun mengadopsi ragam budaya untuk memberikan sentuhan kekinian dalam arsitektur Pasar Johar: Nusantara dan Eropa.
Olehnya, Pasar Johar Semarang diberikan sentuhan gaya arsitektur atap cendawan. Pasar itu populer. Apalagi ketika Pasar Johar Semarang pertama kali diresmikan pada 1839.
Baca Juga: Inilah Hasil Drawing Piala Dunia U17 2023, Indonesia Terhindar Lawan Tim Raksasa
Pasar Johar menempati tanah di sebelah timur alun-alun Kota Semarang. Secara kebetulan, kala itu sebelah timur alun-alun banyak dipagari oleh pohon Johar.
Makanya pasar tersebut diberikan nama yang sama jenis pohon di sekitarnya. Sebab, di zaman itu lazim halnya memberikan nama sebuah tempat publik dengan nama dari tanaman atau pohon yang mendominasi sebuah wilayah.
Thomas Karsten pun tak banyak menghilangkan pohon Johar. Lagi pula, ia memiliki gaya khas yang selalu menempatkan narasi hidup berdampingan dengan lingkungan hidup.
Selain peduli dengan lingkungan hidup, Thomas Karsten juga acap kali menghargai nilai kemanusiaan. Kedua hal itu jadi pedoman utamanya dalam menelurkan mahakaryanya.
Baca Juga: Sebut Imbang Lawan Sada Sumut FC Hasil Terbaik, Pelatih PSMS Akui Kecolongan di Babak Pertama
Ia tak pernah menyampingkan kepentingan kalangan berpanghasilan rendah di pasar. Ia justru memberi ruang.
Berkat kinerja Thomas Karsten itulah Pasar Johar menjelma sebagai melting pot. Tak melulu sebagai tempat dagang, namun mampu menjadi panci pelebur beragam budaya.
Pasar Johar tak saja kaya nilai ekonomi. Pun juga kaya akan nilai-nilai historis.
Banyak kejadian bersejarah terjadi di Pasar Johar Semarang. Pertempuran Lima Hari yang berlangsung dari 15-19 Oktober 1945 adalah salah satunya.
Baca Juga: Jokowi Singgung Nama Erick Thohir di Hadapan Relawan Solmet, Silahkan Mesinnya Dipanaskan
Pertempuran mencekam itu mempertemukan antara rakyat Semarang dengan mantan serdadu Jepang.
Peristiwa itu dipicu oleh dua sebab. Sebab pertama, kaburnya serdadu Jepang yang telah diperkerjakan di pabrik gula Cepiring yang terletak sekitar 30 kilometer dari Kota Semarang. Kedua, karena tewasnya Dokter Karyadi.
Usut punya usut sang dokter tewas ditembak oleh tentara Jepang saat melakukan tugas memeriksa salah satu sumber mata air di Semarang.
Ia melakukan tugas itu karena ada isu Jepang menebar racunnya. Tak pelak, amarah rakyat Semarang terbakar. Mereka kemudian melakukan serangan balasan kepada mantan serdadu Jepang.
Baca Juga: SMKN 1 Balikpapan Raih Tiket Grand Final Turnamen Futsal Pelajar AXIS Nation Cup 2023
Pertempuran itu berlangsung hingga 19 Oktober. Oleh sebab itu, pertempuran itu dikenang luas sebagai Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Korban jiwa mencapai 900 orang dari kedua belah pihak. Dalam pertempuran itu, Jepang ingin menguasai Pasar Johar Semarang.
Pasar Johar pun rusak parah. Terutama karena ledakan granat. Pertahanan kemudian dipindahkan rakyat Semarang di sekitar terminal bis yang terletak di sebelah selatan Kantor Telepon.
Pertempuran baru benar-benar berhenti setelah pasukan Sekutu yang mendarat di Semarang tanggal 19 Oktober. Mereka langsung melucuti pasukan Jepang.***




