POJOKSATU.ID - Inspeksi mendadak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke pabrik Aqua di Subang, seakan mengingatkan bencana setahun silam.

Dugaan dari organisasi lingkungan Walhi Jawa Barat, kembali mengemuka terkait aktivitas pengambilan air tanah melalui sumur bor Aqua dalam skala besar setiap harinya berpotensi memperlemah struktur tanah di kawasan tersebut.

Meski temuan dari Walhi ini hanya sebatas dugaan, tapi layak mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemda Subang.

Baca Juga: 20 Contoh Soal dan Jawaban Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 5 Semester 1

Pada 7 Januari 2024, sekitar pukul setengah 6 sore, longsor terjadi di Kampung Cipondok, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Kasomalang, Subang.

Bencana ini memaksa ratusan orang mengungsi, belasan orang cidera, ada 2 orang yang menghembuskan nafas terakhir akibat tertimbun, dan menutup area wisata mata air Cipondok.

Bangunan serta lahan pertanian rusak, masyarakat menyaksikan ruang hidup mereka tersapu oleh tanah yang bergerak.

Baca Juga: Ubah Limbah Jadi Berkah, BRI Peduli Latih Warga Bogor Olah Minyak Jelantah Jadi Sabun

Analisis dari tim ahli menunjukkan hujan lebat dan kondisi tanah labil sebagai pemicu teknis utama.

"Jadi itu karena hujan lebat yang airnya terus masuk ke dalam cekungan hingga akhirnya menyebabkan debris atau limpasan air dan longsor," kata Kepala Sub Koordinator Gerakan Tanah Wilayah Barat PVMBG Badan Geologi ESDM Sumaryono, 10 Januari 2024.

Akan tetapi, realitas alam tidak bisa disederhanakan seperti itu, laporan lapangan menyebutkan faktor lain yang patut ditelaah terutama yang terkait pengelolaan air di wilayah tersebut.

Baca Juga: Heboh Pabrik Aqua Bukan dari Sumber Pegunungan, Begini Respon BPKN RI

Sementara itu, dalam sidak Dedi Mulyadi hari Senin, 20 Oktober 2025, menemukan dan menyoroti beberapa hal yang menimbulkan pertanyaan publik.

Di antaranya sumber air di pabrik Aqua Subang ternyata berasal dari sumur bor dengan kedalaman lebih dari 100 meter, bukan dari mata air pegunungan seperti citra iklan yang kerap disajikan.

Armada truk angkutan yang melintasi jalan provinsi membawa muatan over kapasitas berulang kali dan supirnya dibayar dengan upah yang dinilai tidak layak.

Baca Juga: Pastikan Kamu Yakin dengan Pilihanmu, Lolos SNBP Tapi Tak Diambil, Ini Konsekuensinya

Dedi Mulyadi menyampaikan keresahannya mengenai pengambilan air tanah di wilayah karena khawatir terjadi longsor.

"Air gunung di ambil di bawah tanah, apa gak geser gitu tanahnya. Kalau daerah datar geser tanah gak berisiko, ini daerah pegunungan," ungkap Dedi Mulyadi.

Pernyataan Dedi Mulyadi, seakan membuka kembali dugaan lalu, yang mungkin bisa menjadi agenda pemerintah.

Baca Juga: Waspadai Ciri Kopling Motor Mulai Tidak Optimal, Begini Cara Mudah Merawatnya

Pengambilan air bawah tanah dengan skala besar dan lalu lintas armada over kapasitas perlu dievaluasi ulang demi perlindungan wilayah rawan longsor dan keadilan sosial bagi warga terdampak.

Di sisi lain, Walhi Jawa Barat sudah bersuara dengan tegas saat insiden bulan Januari 2024 itu terjadi.

Menurut organisasi lingkungan ini, praktik pengeboran sumur dalam dan pengambilan berlebihan pada zona resapan dapat mengubah keseimbangan hidrologi lokal.

Baca Juga: Kurikulum hingga Status Sekolah Garuda Tak Akan Diubah, Pemerintah Hanya Lakukan Pembinaan

Aktivitas pabrik Aqua ini juga diduga berkontribusi terhadap ketidakstabilan lereng ketika hujan ekstrem datang.

"Terpicunya kejadian longsor di kawasan tersebut karena setidaknya terdapat tiga sumur bor untuk kebutuhan privatisasi air kemasan yang dilakukan oleh PT. Tirta Investama alias Aqua," ucap Wahyudin Iwang, Direktur Eksekutif Walhi Jawa Bara dalam siaran pers, 10 Januari 2024.

Walhi Jawa Barat menuntut audit izin, transparansi data pengambilan air, dan pemulihan fungsi kawasan resapan oleh pelaku usaha yang memanfaatkan sumber daya alam.

Baca Juga: 20 Sekolah Kedinasan Tanpa Syarat Nilai UTBK SNBT, Peluang Emas untuk Lulusan SMA 2026

Dalam kasus ini, Dedi Mulyadi menaruh kekhawatiran yang masuk akal, Walhi Jawa Barat mengajukan dugaan yang patut ditindaklanjuti, dan masyarakat Subang menuntut keadilan atas rumah dan ladang yang hilang.

Di sisi lain, pihak Aqua mengklaim bahwa selama ini belum ada bencana yang terjadi akibat aktivitas pengeboran air yang mereka lakukan.

Dalam sehari, 150 ribu galon didapat secara gratis, artinya nyaris 3 juta liter air tanah ditampung ke dalam galon-galon Aqua untuk dijual tiap harinya.

Baca Juga: Tidak Ditentukan Oleh Tanggal Terbitnya SKTP! Ini Dua Hal yang Jadi Penentu Cepat Lambatnya Pencairan TPG Triwulan 3!

Pihak Aqua juga mengklaim pengambilan air tanah sudah berdasarkan kajian bersama UGM, sehingga tidak menyebabkan pergeseran tanah dan longsor.***