POJOKSATU.id - Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan dan keberagaman warisan budayanya, salah satunya adalah tradisi upacara Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat.
Tradisi upacara Tabuik bukan hanya sekedar serangkaian acara, tetapi juga memuat makna sejarah yang mendalam.
Upacara Tabuik menjadi acara tahunan yang disebut sebagai festival Tabuik.
Tradisi upacara Tabuik ini telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan diperkirakan telah ada sejak abad ke-19 masehi.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Upacara Larung Sesaji, Ungkapan Rasa Syukur Masyarakat Pulau Jawa
Perayaan tradisi upacara Tabuik resmi menjadi bagian dari tradisi masyarakat Pariaman.
Meskipun prosesi ritual awal tetap dimulai pada tanggal 1 Muharram, pelaksanaan acara puncak dari tahun ke tahun dapat berubah-ubah, tidak selalu dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.
Masyarakat Pariaman menyambut tahun baru Islam melalui upacara Tabuik yang memperingati hari Asyura, yakni pada tanggal 10 Muharram, untuk mengenang gugurnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad saw.
Tradisi upacara Tabuik bermula dari perayaan tabuik yang dibawa oleh bangsa Cipei (pasukan Gurkha) dari Bengkulu ke Pariaman setelah perjanjian Traktat London tahun 1824 antara Inggris dan Belanda.
Makna Simbolik Upacara Tabuik di Kota Pariaman Sumatera Barat, terdapat 3 makna simbolik di balik penyelenggaraan Upacara Tabuik.
Gerakan-gerakan yang ditampilkan selama proses Upacara Tabuik menggambarkan kekerasan saat peperangan antara Husein dan tentara Muawiyah.
Baca Juga: Identik dengan Horror, Ternyata Begini Asal Usul Sejarah Tradisi Halloween!
Ada ekspresi kekecewaan dan duka mendalam terkait peristiwa yang terjadi.
Tak hanya gerakan, situasi simbolik dalam Upacara Tabuik juga dilihat dari aspek fisik (benda) yang digunakan.
Rangkaian Tradisi Tabuik di Pariaman terdiri dari tujuh tahapan ritual tabuik, yaitu mengambil tanah, menebang batang pisang, mataam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, tabuik naik pangkek, hoyak tabuik, dan membuang tabuik ke laut.
Prosesi mengambil tanah dilaksanakan pada 1 Muharram. Menebang batang pisang dilaksanakan pada hari ke-5 Muharram.
Pada hari ke-7 dilaksanakannya maatam, dilanjutkan dengan mangarak jari-jari pada malam harinya. Pada keesokan harinya dilangsungkan ritual mangarak saroban.
Upacara Tabuik menjadi perhelatan besar yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya oleh ribuan pengunjung dari berbagai daerah Sumatera Barat, termasuk turis asing.***



