POJOKSATU.id - Beberapa daerah di Indonesia masih kental menjalankan tradisi upacara turun-temurun sejak dulu, dan masih sangat dihormati oleh warga sekitar.
Salah satunya di pulau Jawa adalah Blitar, yang melakukan tradisi upacara Larung Sesaji.
Tradisi upacara Larung Sesaji merupakan suatu tradisi yang turun-temurun dilakukan oleh penduduk pesisir pantai selatan khususnya di Pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Blitar, Jawa Timur.
Tradisi upacara Larung Sesaji ini diadakan setiap tanggal 1 Muharram atau 1 Suro.
Baca Juga: Identik dengan Horror, Ternyata Begini Asal Usul Sejarah Tradisi Halloween!
Acara tradisi upacara Larung Sesaji dimulai dengan sebuah doa (ujub) yang dipimpin oleh pemimpin adat.
Doa ini berisi ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan atas hasil tangkapan laut selama setahun, serta doa agar mendapatkan hasil yang baik dan terhindar dari bencana.
Prosesi tradisi upacara Larung Sesaji ini selalu dinantikan oleh ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
Dalam tradisi upacara Larung Sesaji, masyarakat Desa Tambakrejo melakukan kirab tumpeng dan sesaji.
Setelah itu, tumpeng dan sesaji diarak dari Kantor Desa Tambakrejo menuju tepi pantai untuk diberkati.
Tradisi upacara Larung Sesaji ini biasanya dihadiri oleh Bupati Blitar, beberapa kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan kadang-kadang juga dihadiri oleh Pemerintah Kabupaten Blitar.
Baca Juga: Tebar Inspirasi Ganjar Pranowo, Crivisaya Ganjar Lestarikan Tradisi Warga di Pelosok Sumsel
Tradisi upacara Larung Sesaji juga diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Selain di Blitar, beberapa daerah lain di pulau Jawa yang juga melakukan tradisi upacara Larung Sesaji, adalah sebagai berikut.
1. Jember
Di Jember, tradisi upacara Larung Sesaji ini dilakukan dengan pembacaan doa agama Islam, yaitu Yasin dan Tahlil.
Selanjutnya, sesaji dilemparkan ke laut sebagai persembahan untuk Ratu Laut Selatan.
2. Magetan
Di Magetan, rombongan yang membawa tumpeng sebagai bagian dari tradisi terdiri dari pasukan berkuda, cucuk lampah, demang sarangan (bapak dan ibu lurah), Bonang Renteng, tumpeng, dan rombongan reog.
Semua ini telah menjadi bagian dari tradisi upacara Larung Sesaji di Magetan sejak dulu.
Baca Juga: Tebar Inspirasi Ganjar Pranowo, Crivisaya Ganjar Lestarikan Tradisi Warga di Pelosok Sumsel
3. Pati
Tradisi upacara Larung Sesaji di daerah Pati meliputi pembacaan doa, pelarungan, dan makan bersama di atas kapal.
Pelarungan melibatkan sesaji berupa miniatur kapal nelayan yang membawa kepala kambing, pisang raja, ketupat, dan lepet.
Sesaji ini kemudian diarak menuju laut. Sebagai syarat untuk menolak bala, ada kesenian barongan yang mengiringi.
Tradisi upacara Larung Sesaji ini dihidupkan dengan karnaval dan pertunjukkan kesenian tradisional.
Baca Juga: Mengenal 5 Tradisi Masyarakat Pesisir Indonesia Dalam Menghormati Sumber Daya Lautan
4. Pekalongan
Di Pekalongan, tradisi upacara Larung Sesaji dikenal sebagai sedekah laut atau nyadran.
Tradisi upacara ini adalah bentuk ungkapan dari para nelayan agar hasil tangkapan mereka melimpah.
Tradisi upacara Larung Sesaji dimulai dengan membawa sesaji berisi kepala sapi, hasil bumi, jajan pasar, dan peralatan dapur sejauh 1 kilometer dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Sesaji kemudian diturunkan ke laut dan dilarung atau dihanyutkan.
Sebelum dilarung, sesaji didoakan oleh kyai. Acara tradisi upacara Larung Sesaji di Pekalongan juga dimeriahkan dengan perlombaan dayung, pertunjukkan wayang golek, dan pagelaran dangdut.***



