POJOKSATU.ID - Sebagai bangsa bahari, dengan negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kebudayaan atau tradisi dalam menghormati sumber daya lautan.

Aktivitas dan perekonomian Indonesia sejak dahulu kala sudah sangat bergantung dengan kekayaan lautnya.

Oleh karena itu, masyarakat pesisir Indonesia memiliki tradisi untuk menghormati dan mengelola sumber daya lautan secara berkelanjutan.

Baca Juga: Timnas Jepang Hebat Sejak Berguru ke Indonesia

Adapun 5 tradisi lokal yang dilakukan masyarakat pesisir Indonesia dalam menjaga dan melindungi laut adalah sebagai berikut:

1. Tradisi Larung Laut

Tradisi Larung Laut merupakan tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil alam berupa tangkapan ikan untuk nelayan selain itu juga hasil panen pertanian dan peternakan.

Biasanya tradisi ini disebut juga sebagai Larung Sesaji atau Sedekah Laut.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Sedekah Laut, Ritual Masyarakat Pesisir Indonesia Yang Jadi Daya Tarik Wisatawan

Larung Laut biasa dilaksanakan setiap tanggal 1 Muharram atau 1 Suro, bagi kaum muslim 1 Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriyah atau biasa disebut sebagai Tahun Baru Islam.

2. Tradisi Petik Laut Muncar

Petik Laut Muncar merupakan sebuah ritual yang dilakukan masyarakat pesisir secara turun temurun sebagai tujuan ungkapan bentuk syukur atas tangkapan hasil laut nelayan Banyuwangi.

Tradisi ini telah dilakukan para nenek moyang atau leluhur terdahulu sejak 95 tahun silam yaitu pada tahun 1927 dan telah menjadi warisan generasi selanjutnya.

Baca Juga: Sejarah Piala Dunia U17, Ternyata FIFA Meniru Turnamen di Singapura

Tradisi ini digelar sebagai rasa syukur atas limpahan hasil laut para nelayan selama setahun dan laut Muncar, Banyuwangi menjadi lokasi di mana festival laut ini digelar setiap 15 Muharram atau Suro penanggalan Jawa.

Prosesi ritual ini dilakukan dengan melarung sesaji ke tengah laut serta dilaksanakan prosesi selamatan.

3. Tradisi Sasi Nggama

Tradisi Sasi Nggama merupakan sistem yang digunakan oleh masyarakat suku Koiwai untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam dan melindunginya dari eksploitasi secara berlebihan.

Prosesi tersebut dilakukan sebagai tanda bahwa masyarakat sekitar secara resmi dapat segera memanfaatkan kekayaan laut yang berada di wilayah Sasi di Kabupaten Kaimana, Papua Barat.

Baca Juga: Inilah Hasil Drawing Piala Dunia U17 2023, Indonesia Terhindar Lawan Tim Raksasa

Biasanya, prosesi pelaksanaan pembukaan Sasi ini dilakukan dalam waktu sepekan atau lebih.

4. Tradisi Panglima Laot

Panglima Laut atau Panglima Laot merupakan sebuah lembaga yang menjadi struktur adat di kalangan masyarakat nelayan di provinsi Aceh.

Panglima Laut atau Panglima Laot sudah ada sejak 400 tahun lalu di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah kerajaan Islam Aceh.

Di kala itu Panglima Laot berperan dalam perperangan dan mengatur hubungan diplomatik sampai memungut cukai dari kapal-kapal yang singgah di pelabuhan Aceh.

Baca Juga: Mengenang Kosasih Kartadiredja, Wasit Indonesia Pertama Berlisensi FIFA, Dijuluki King Kobra Asia

Pasca kemerdekaan Indonesia, kerajaan mulai melebur kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia namun kejayaan Panglima Laot masih berdiri sendiri sesuai dengan wilayah masing-masing atau dikenal dengan Panglima Laot Lhok atau kuala atau dermaga tempat kapal berlabuh.

Panglima Laot dalam kedudukannya memenuhi hak dan kewajiban sebagai tetua persekutuan masyarakat adat nelayan.

Tidak hanya itu, Panglima Laot juga mengkoordinasikan pelaksanaan hukum adat laot, peningkatan sumber daya, dan advokasi kebijakan bidang kelautan dan perikanan untuk peningkatan kesejahteraan nelayan.

5. Tradisi Tuturangiana Andala

Tradisi Tuturangiana Andala merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat pesisir Pulau Makassar, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Baca Juga: Anies Baswedan Pamer Toleransi dengan Warga Tionghoa : Bila Jakarta Tegang Indonesia Tegang

Tuturangiana Andala dilaksanakan sebagai ungkapan rasa terima kasih dan syukur nelayan kepada Tuhan atas kelimpahan alam dan hasil tangkapan yang melimpah.

Tradisi tersebut mulai dilakukan oleh masyarakat Pulau Makassar pada abad ke-18.

Saat itu, Maa Laato, Daeng Maandangi, dan Daeng Maandongi dari Bugis Makassar memberi sesaji pada daerah perairan di Pulau Makassar yang dianggap oleh masyarakat sebagai tempat yang suci.

Tuturangiana Andala sendiri memiliki arti pemberian sesaji pada penguasa laut.

Baca Juga: Bermain dengan 10 Pemain di Babak Kedua, PSMS Tahan Imbang Tuan Rumah Sada Sumut FC

Ritual tersebut sama seperti Larung Laut namun tradisi ini dilakukan dengan melakukan Ritual Batata terlebih dahulu.

Dan yang membuat berbeda dari Larung Laut pada umumnya ialah tradisi ini dilakukan dengan memberikan sesaji di empat penjuru mata angin di Pulau Makassar.***