POJOKSATU.ID - Di tengah banjir informasi di era digital dan teknologi kecerdasan buatan (AI), masyarakat dihadapkan pada tantangan besar dalam memilah fakta dan hoaks. Terutama mengenai isu-isu sensitif seperti boikot produk yang diduga terafiliasi dengan Israel.
Dosen senior sekaligus Direktur Kantor Internasional (IOP) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Lala Bumela Sudimantara, menegaskan pentingnya sikap kritis dalam menyaring informasi.
“Kritis adalah kunci agar kita tak sekadar menelan informasi mentah-mentah. Harus ada proses penyaringan dan konfirmasi untuk menjamin bahwa informasi yang dipilih adalah yang paling akurat,” ujar Lala dalam keterangannya, Senin (9/12/2024).
Terkait dengan AI, Lala Bumela mengingatkan penggunaan AI harus dilakukan dengan bijak. “AI hanyalah alat bantu. Informasi yang ditemukan di dunia maya tidak memiliki makna sampai kita melakukan analisis,” tegasnya.
Menurutnya, perlu ada bimbingan kepada masyarakat tentang bagaimana memanfaatkan AI dengan baik.
"Ini penting agar elemen-elemen seperti kreativitas dan kemampuan berpikir kritis tetap terjaga di tengah kemajuan teknologi," kata dia.
Sementara itu, Nadirsyah Hosen dari Universitas Melbourne, menegaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk AI, tak bisa dihindari. “Publik yang tidak bisa mengikuti kemajuan ini akan tersisih,” ujarnya.
Dalam konteks ini, baik Lala maupun Nadirsyah menyerukan kehati-hatian dalam menggunakan media sosial. Mereka mengingatkan agar setiap individu yang terjun dalam dunia digital mampu memilah informasi dengan bijak.
Nadirsyah mencontohkan bagaimana AI dan media sosial dapat digunakan untuk propaganda, khususnya dalam konflik Palestina-Israel.
“Informasi yang terjadi di ranah ini sering kali dimanipulasi oleh pihak-pihak dengan kepentingan tertentu. AI bisa menjadi sumber informasi, tetapi ia tidak dapat dijadikan sumber konfirmasi," kata dia.




