POJOKSATU.Id- Generasi Z tumbuh dengan kesadaran kuat akan pentingnya kesehatan mental. Bagi mereka, karier bukan sekadar soal gaji atau jabatan, melainkan juga tentang kesejahteraan psikologis dan keseimbangan hidup.
Namun, realitas dunia kerja masih banyak diwarnai budaya toxic: jam kerja berlebihan yang dianggap wajar, komunikasi yang penuh tekanan, atasan yang otoriter, hingga minimnya ruang apresiasi.
Situasi inilah yang membuat lingkungan kerja toxic dan menjadi bumeran untuk karier dan mental generasi z.
Untuk sebagian generasi z, pekerjaan yang seharusnya menjadi ruang ekspresi diri justru berbalik menjadi sumber stres. Burnout, kecemasan, dan rasa kehilangan motivasi muncul sebagai konsekuensi yang nyata.
Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak hanya melemahkan kesehatan mental, tetapi juga menghambat perkembangan karier mereka.
Fenomena ini memunculkan gelombang resign di kalangan Gen Z. Mereka tidak segan meninggalkan pekerjaan yang merusak kesehatan mental, meskipun harus mengorbankan kestabilan karier jangka pendek.
Keputusan ini menunjukkan bahwa generasi ini berani memilih self-care dibanding bertahan di lingkungan yang tidak sehat. Perbedaan sikap ini sering disalahartikan oleh generasi sebelumnya sebagai “tidak tahan banting”, padahal sesungguhnya Gen Z sedang membangun standar baru dalam dunia kerja: bekerja dengan sehat, adil, dan manusiawi.
Ironisnya, banyak perusahaan masih menutup mata terhadap kebutuhan ini. Kesehatan mental karyawan belum menjadi prioritas, seakan-akan yang penting hanyalah target tercapai.
Padahal, lingkungan kerja toxic bumerang bagi karier dan mental, bukan hanya merugikan individu, tetapi juga organisasi. Perusahaan yang gagal menciptakan ruang kerja sehat akan kehilangan talenta-talenta muda yang kreatif, inovatif, dan adaptif sumber daya manusia yang seharusnya menjadi kunci keberhasilan di era modern.
Menurut hellosehat.com ada Beberapa ciri lingkungan kerja yang toxic, yaitu sebagai berikut :
1. Transparansi kerja kurang jelas
Perlu adanya kontrak yang jelas sebelum memulai kerja, seperti deskripsi pekerjaan, gaji, tunjangan, hak libur hingga priode kerja itu harus jelas.
2. Persaingan tidak sehat
Pada lingkungan kerja yang sehat, Ketika suatu tim melakukan kesalahan, para rekan kerja yang terlibat di dalamnya akan menyelesaikan permasalahan tersebut bukannya lepas tangan dan melempar tanggung jawab.
3. Tidak ada ruang untuk berkembang
Perusahaan tempat bekerja tidak memberi dukungan, fasilitas yang tidak mendukung pekerjaan.
Baca Juga: Ribuan Ojol Iringi Pemakaman Affan Kurniawan ke TPU Karet Bivak, Ini Penampakannya dari Udara
4. Atasan yang narsistik
Atasan yang narsistik cenderung tiddak bisa menerima masukan hanya berfokus pada dirinya sendiri.
5. Beban dan jam kerja tidak seimbang
Bekerja pada jam istirahat atau hari libur.
Dalam hal ini, jika generasi z masih belum bisa meninggalkan tempat kerja karena da beberapa hal yang tidak bisa dipungkiri, berikut ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk menghadapi lingkungan kerja yang toxic menurut hellosehat.com :
1. Buat batasan
Perlu membuat batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
2. Bedakan rekan kerja dan teman
Rekan kerja tidak harus menjadi teman, jika Anda melihat tanda-tanda orang toxic di lingkungan kerja anda perlu adanya batasan interaksi.
3. Temukan support system di luar kantor
Sahabat, keluarga dan pasangan bisa menjadi support system anda untuk bercerita atau berkeluh kesah atas pekerjaan anda.
4. Bicarakan dengan atasan jika ada ketidaknyamanan
Jika ada kejanggalan atau tanda hal-hal toxic di lingkungan kerja Anda, coba sampaikan kepada atasan anda.
5. Intropeksi diri
Tak jarang, lingkungan kerja toxic justru timbul dari pemikiran yang sudah negatif. Maka darii tu, Anda perlu meluangkan waktu sejenak untuk intropeksi diri.
Sudah saatnya perusahaan bertransformasi. Lingkungan kerja yang sehat, dan suportif bukan lagi sekadar pilihan, tetapi kebutuhan Memberikan ruang bagi karyawan untuk menjaga kesehatan mental, membangun komunikasi yang sehat, serta menanamkan budaya kerja yang menghargai manusia adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan semua pihak.
Pada akhirnya, lingkungan kerja toxic bumerang bagi karier dan mental Generasi Z, adalah peringatan bahwa budaya lama yang menormalisasi tekanan dan beban berlebihan tidak lagi relevan. Gen Z menuntut perubahan, bukan semata-mata demi diri mereka, tetapi juga demi terciptanya ekosistem kerja yang lebih sehat bagi masa depan dunia kerja***



