POJOKSATU.ID - POLEMIK lima tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) yang mengunjungi Israel dan melakukan pertemuan dengan Presiden Israel, Isaac Herzog, seolah menjadi preseden bagi individu atau lembaga di Indonesia bebas tanpa aturan melakukan hubungan negara Israel.

Diketahui, pemerintah Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel karena mendukung penuh kemerdekaan Palestina. Sebab, Indonesia herus terus menggalang dukungan banyak negara untuk menekan Israel agar menghentikan genosida di Gaza. 

Pengamat Politik dan Pemerintahan, Heru Subagia mengatakan, di sisi lain, masih banyak individu maupun lembaga non-pemerintah di Indonesia yang menjalin lobi-lobi dan melakukan dialog dengan pihak Israel.

"Kebanyakan berdalih memenuhi undangan, urusan akademik, dan sebagainya," ucap Heru saat dihubungi, Kamis, (18/7).

Seperti yang dilakukan 5 tokoh muda NU yang melakukan kunjungan ke Israel, ketahuan melakukan dialog antaragama dan ujungnya bertemu Presiden Israel, Isaac Herzog.

Baca Juga: Satpol PP Karawang Sita Ribuan Minuman Beralkohol Ilegal

Heru Subagia yang juga Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) dari Fakultas Hubungan Internasional (Fisipol) angkatan 1996 mengungkapkan, alasan mengapa Gaza kerap menjadi daerah rawan konflik Palestina-Israel.

"Jika di Gaza, itu yang saya amati seperti periodik. Jadi, sejak 2008, Gaza itu jadi target Israel untuk diserang karena Hamas ada di sana, di mana Hamas ini merupakan gerakan yang mencita-citakan kemerdekaan Palestina," terangnya.

"Gaza itu adalah wilayah yang dulu milik Mesir, kemudian diambil oleh Israel setelah perang 1967. Tapi kemudian perundingan Oslo 1993 wilayah Gaza merupakan wilayah otoritas, jadi bukan wilayahnya Palestina. Masih jadi wilayah Israel di dalam de facto-nya sejak 1967," paparnya.

Wilayah Gaza, disebutkan dia, merupakan wilayah sempit yang dihuni lebih dari dua juta orang, salah satu wilayah terpadat di dunia. Negara tersebut telah mengalami ketidakstabilan politik, konflik militer, dan isolasi ekonomi selama beberapa dekade, sehingga membuat penduduknya terjebak dalam siklus keputusasaan yang tidak pernah berakhir. 

Dengan terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, pendidika, dan kesempatan kerja, warga Gaza menghadapi tantangan berat setiap hari.

Baca Juga: Bareskrim Bongkar Kasus Penggelapan Kendaraan Lintas Jaringan Internasional, Begini Modusnya

"Di dunia di mana narasi yang memecah belah sering kali mendominasi berita utama, mari kita ingat bahwa rasa kemanusiaan kita adalah kekuatan pemersatu. Dengan bersatu mendukung perdamaian, kita dapat membantu Gaza dan Israel semakin dekat menuju masa depan di mana penderitaan memberi jalan bagi harapan dan kemakmuran," tegasnya.

Heru menganggap, peristiwa kunjungan kontroversial tokoh-tokoh Indonesia ke Israel akan selalu berulang. Sebelum 5 tokoh NU ini, ada KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya (Ketua Umum PBNU saat ini) yang juga mengunjungi Israel. Saat itu, Gus Yahya dalam kegiatan yang digelar American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem menuai polemik. Tidak sedikit yang menyayangkan, namun banyak pula yang mendukung sebab, bagian dari upaya diplomasi damai untuk meredam konflik Palestina dan Israel.

Selain Gus Yahya, dia membeberkan, ada tiga petinggi MUI yang terbang ke Israel dan melakukan pertemuan di sana termasuk diantaranya tokoh NU, KH Marsudi Syuhud.   Beberapa wartawan dari media ternama di Indonesia juga pernah diundang ke Israel.

"Tujuan dari serangkaian pertemuan itu, saya punya keyakinan adalah untuk menggagas solusi kemanusiaan dari konflik yang telah lama berlangsung diantara Israel dan Palestina," imbuhnya.

Dalam konteks itu, dia menilai, murid-murid Gus Dur ini melanjutkan visi dan idealisme yang telah dikembangkan Gus Dur tentang keberlangsungan kehidupan manusia jangka panjang. 

"Gus Dur bukan tidak tahu bagaimana penderitaan rakyat Palestina. Ia paham benar konflik yang terjadi di sana. Justru karena itu, pada saat ia menjadi presiden, Gus Dur mewacanakan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Gagasan Gus Dur sederhana, Indonesia tidak mungkin bisa berperan dalam kemanusiaan perdamaian Palestina dan Israel jika tidak menjalin hubungan diplomatik dengan keduanya," paparnya.

Menurut Heru, sejak Soft-Launching Yayasan Rahim: The Ibrahim Heritage Study Center For Peace diluncurkan ibarat bola salju yang membawa cita-cita bersama, di mana penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian dunia akan selalu terpelihara.

"Hambatan terbesar dari perwujudan perdamaian adalah tindak kekerasan yang terus berlanjut. Diperlukan berbagai upaya dalam membangun dialog yang konstruktif dan solutif. Apa yang dilakukan kawan-kawan di Yayasan Rahim ini membangun jembatan komunikasi melalui dialog konstruktif sebagai penghormatan kemanusiaan," tukasnya.

Perdamaian terlalu sering dipahami sebagai sebuah entitas statis, oleh karenanya lanjut Heru, yang dicapai melalui jabat tangan metaforis. Tidak ada seorang pun yang dapat menyangkal bahwa perjanjian damai itu penting dan seringkali sangat rumit. Namun semua ini hanyalah awal dari sebuah proses, satu titik akhir dari pergerakan perdamaian negatif, penghentian konflik, menuju perdamaian positif dimana masyarakat mulai pulih, berdamai dan tumbuh kembali.

"Kemanusiaan sangat penting dalam hal ini bahwa tindakan harus diambil untuk mencegah atau meringankan penderitaan manusia yang timbul akibat bencana atau konflik. Oleh karena itu, mereka yang berkuasa pada masa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini harus bertanggung jawab, dan dimintai pertanggungjawaban, jika mereka mengecewakan umat manusia," tuturnya.

"Saya menghimbau kepada blok regional dan komunitas internasional untuk melihat alasan dan menyelesaikan masalah ini tanpa memihak dan kepentingan," pungkasnya.

 

 

Caption: Pengamat Politik dan Pemerintahan, Heru Subagia