POJOKSATU.ID – Polemik batalnya kerja sama antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan BT Batik Trusmi menuai sorotan dari berbagai pihak.
Pasalnya, pembatalan tersebut disebut-sebut menyebabkan kerugian bagi pihak BT Batik Trusmi hingga mencapai Rp1 miliar.
Presiden Kaukus Muda Cirebon, Reno Sukriano, menilai bahwa pembatalan kerja sama ini menunjukkan adanya kecerobohan dari pihak PT KAI dalam memahami konteks sosial, budaya, dan sejarah Kota Cirebon, khususnya terkait status Stasiun Kejaksan Cirebon yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
“Saya pikir inilah kecerobohan dari KAI yang tidak bisa melihat latar belakang budaya, sejarah, serta hubungan kelembagaan antara KAI, Pemerintah Kota Cirebon, dan para budayawan yang memahami sejarah daerah,” ujar Reno, Rabu (29/10/2025).
Baca Juga: Cinta dari balik Jeruji: Dokter Kamelia Ungkap Kisah Asmara dan Soal Rencana Nikah dengan Ammar Zoni
Ia menegaskan, keputusan untuk melakukan kerja sama dengan pihak swasta di kawasan cagar budaya seharusnya mempertimbangkan regulasi dan nilai historis yang melekat.
“Baik berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan maupun Surat Keputusan Wali Kota Cirebon, Stasiun Kejaksan ditetapkan sebagai cagar budaya. Maka, seharusnya hal itu menjadi bahan pertimbangan khusus bagi PT KAI,” ungkapnya.
Reno juga meminta PT KAI untuk mawas diri dan introspeksi agar kasus serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, kegaduhan yang muncul akibat pembatalan kerja sama tersebut justru merugikan berbagai pihak, terutama BT Batik Trusmi yang menjadi korban dalam situasi ini.
“BT Batik Trusmi tidak bisa disalahkan seratus persen. Mereka ditawari untuk kerja sama bisnis dan promosi, dan itu wajar saja. Hanya saja, KAI tampaknya tidak cermat melihat sudut pandang budaya dan status cagar budaya yang ada,” tuturnya.
Baca Juga: BT Batik Trusmi Ungkap Batalnya Kerja Sama Dengan PT KAI
Ia menilai bahwa peristiwa ini harus menjadi pelajaran penting bagi PT KAI agar lebih berhati-hati dalam menjalin kemitraan di wilayah yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
“Saya cukup prihatin dengan kondisi ini. Saya yakin BT Batik Trusmi tidak punya niat untuk merusak atau mengubah bangunan cagar budaya. Dalam kasus ini, mereka justru menjadi korban,” pungkas Reno.***




