POJOKSATU.id - Cianjur kembali diguncang gempa Magnitudo 2,1 pada Rabu 11 Oktober 2023, di pagi hari.

Sebelumnya, gempa mengguncang kawasan Jawa Barat di Kota Banjar pada Minggu malam, 9 Oktober 2023, dengan kekuatan Magnitudo 2,5.

Di hari yang sama juga, dengan perbedaan waktu 3 menit, Cianjur dan Pangandaran diguncang gempa dengan Magnitudo 1,9.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah II mencatat gempa bumi di Cianjur terjadi pada 04.14 WIB.

Baca Juga: The Kid Laroi Tiba-tiba Rilis Teaser 'Too Much', Single Collab Bareng Jungkook BTS dan Central Cee

Pusat Gempa

Dalam catatan sejarah, Cianjur merupakan salah satu pusat gempa sejak era pemerintahan Hindia Belanda.

Salah satunya adanya patahan aktif yang teridentifikasi pada tahun 2022 lalu oleh BMKG, di kawasan Cugenang Cianjur, Jawa Barat

Menurut BMKG, Patahan Cugenang merupakan wilayah rentan gempa yang melalui sembilan desa yakni Desa Nagrak, Desa Cibulakan, Desa Benjot, Desa Sarampad, Desa Mangunkerta, Desa Nyalindung, Desa Cibeureum, Desa Ciputri, dan Desa Ciherang.

Gempa Dahsyat Tahun 1879-1900
Dalam sejarah, Cianjur pernah terjadi gempa pada tahun 1879 dan 1900.

Baca Juga: Ditanya Soal Progres Pemeriksaan Kasus Pemerasan Petinggi KPK, Kapolda Metro Jaya Malah Jawab Gini

Bahkan pada 1900, pemerintah Hindia Belanda sempat mengevakuasi dan melarang penduduk yang tinggal di sekitar wilayah Kecamatan Cugenang untuk tidak lagi bermukim di wilayah tersebut.

Sejarah mencatat gempa bumi dengan kekuatan besar pernah melanda Cianjur. Hal itu tersua dalam tulisan seorang ahli gempa bumi bernama Dr.Visser (1922), On Land Earthquakes 1600-1921.

Menurutnya, gempa pada 1900, tidak kalah besar dengan gempa yang melanda Cianjur pada dua puluh satu tahun sebelumnya.

Pada 28 Maret 1879, Cianjur juga dilanda gempa yang sangat dahsyat.

Malam baru saja berlangsung beberapa saat. Waktu isya baru saja berlalu, ketika sebuah guncangan keras melanda bekas ibu kota Priangan tersebut.

Baca Juga: Sarat Konflik Kepentingan, Hakim MK Didesak Mundur Dari Sidang Batas Usia Minimum Capres-Cawapres

Sontak orang-orang keluar dari rumah masing-masing. Suara jerit dan tangis anak-anak seolah berlomba dengan teriakan orang-orang dewasa.

Semua bangunan pedesaan di Cianjur rusak parah, para penduduknya langsung dievakuasi. Beberapa rumah orang Eropa dan Tionghoa pun tak lepas dari kehancuran.

Tidak cukup sekali, gempa terjadi nyaris setiap tiga jam sekali hingga pada 30 Maret 1879.

Akibatnya beberapa gedung di kota itu pun runtuh, di antaranya adalah adalah Masjid Agung Kaum Cianjur dan Pendopo Kabupaten Cianjur.

Bahkan di Masjid Kaum, seorang kepala penghulu agama Islam beserta lima jemaah meninggal dihantam reruntuhan puing bangunan masjid.

Bupati Cianjur sata itu R.A.A.Kusumahningrat dan istrinya mengalami luka di tangan.

Kerugian akibat gempa bumi di Cianjur pada 28-30 Maret 1879 cukup besar untuk zaman itu.

Dalam catatan surat kabar Rotterdamsche Courant edisi 27 Mei 1879, sebanyak 1621 rumah plus 24 rumah permanen hancur, 13 orang tewas dan 12 luka-luka.

Para pengawas gempa saat itu memprediksi, pusat gempa berada di wilayah Cugenang.

Tepatnya di jalan raya pos antara Cugenang dan Sukamantri. Pada akhir Maret itu mereka mendeteksi adanya Gerakan di perut bumi.

Gerakan itu, awalnya datar-datar saja, lalu mulai membesar, seolah-olah terpusat di lembah Cianjur dan terasa di sana dalam arah vertikal.

Tidak hanya gempa, bahkan pada tahun 1900, Gunung Rasamala di Cianjur pun pernah terbelah.

Kala itu, rombongan 'pengungsi' yang diperintahkan pindah oleh pemerintah Hindia Belanda dari utara ke selatan Jalan Raya Pos di Cugenang, tepat di timur kaki Gunung Gemuruh (sekarang kerap menyebutnya sebagai Gunung Gede).

Tak ada keterangan yang detil soal musabab kepindahan rombongan keluarga dari Pemeungpeuk itu.

Namun menurut berbagai literatur, hal tersebut disebabkan oleh adanya peristiwa gempa besar yang melanda Cianjur pada awal abad ke-20.

Gempa yang melanda Cianjur pada Rabu 11 Oktober pagi, berlokasi di darat dengan jarak 6 km Barat Daya Kabupaten Cianjur.

Berdasarkan data BMKG, lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya gempa bumi terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Cugenang.***