POJOKSATU.id – Kelompok Hikamuci, kelompok petani binaan Star Energy Geothermal Salak Ltd (Star Energy Geothermal), berhasil menghasilkan sekitar 3.000 ekor anakan ikan Torsoro melalui teknik pemijahan buatan atau stripping. Keberhasilan ini menjadi langkah penting dalam upaya pelestarian ikan air tawar endemik yang populasinya terus menurun di alam.
Ketua Kelompok Hikamuci Ujang Dimyati, di Desa Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu 1 Juli 2026, mengatakan keberhasilan tersebut diperoleh setelah kelompok menerapkan metode stripping terhadap enam indukan betina ikan Torsoro.
"Kelompok telah berhasil melakukan metode stripping terhadap enam indukan betina Torsoro. Setiap indukan menghasilkan sekitar 400 hingga 500 ekor anakan," ujar Ujang.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Eksim, Kenali Penyebab, Cara Mencegah, hingga Pengobatan yang Tepat
Ikan Torsoro yang dikenal juga sebagai ikan Dewa atau Kancra merupakan spesies ikan air tawar endemik Jawa Barat yang hidup di perairan berarus deras di kawasan pegunungan. Populasinya terus menurun akibat pertumbuhan yang lambat, jumlah telur yang relatif sedikit, serta kerusakan habitat.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil pendampingan yang dilakukan Star Energy Geothermal sejak 2023 melalui program pemberdayaan masyarakat.
Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari diskusi kelompok dan pemetaan potensi, perbaikan infrastruktur kolam, penyediaan bibit ikan, pelatihan penguatan kelembagaan, pengembangan pakan berbasis maggot, hingga studi banding untuk meningkatkan kapasitas anggota kelompok.
Baca Juga: Kuliah Umum di UNDIP, Menkeu Purbaya Paparkan Peran APBN Wujudkan Indonesia Maju 2045
Salah satu fokus pendampingan adalah penerapan teknik pemijahan buatan atau stripping guna mengatasi lambatnya reproduksi ikan Torsoro yang sebelumnya hanya mengandalkan pemijahan alami.
Pada 2026, metode tersebut menunjukkan hasil yang signifikan. Dari tiga kali percobaan pemijahan, setiap indukan mampu menghasilkan sekitar 400 hingga 500 larva yang kini dipelihara di akuarium pembesaran. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) anakan ikan selama tiga minggu pertama mencapai sekitar 65 persen.
Kelompok Hikamuci yang beranggotakan tujuh petani lokal itu dibentuk pada 2017 melalui pembinaan dinas terkait. Namun, aktivitas kelompok sempat terhenti akibat pandemi COVID-19 yang menyebabkan kepengurusan vakum dan program konservasi tidak berjalan.
Baca Juga: Surplus Perdagangan Indonesia Menyusut Tajam, Mendag Sebut Sektor Nonmigas Masih Jadi Penopang
Ke depan, Kelompok Hikamuci berencana menerapkan metode stripping secara rutin setiap bulan untuk meningkatkan populasi ikan Torsoro. Setelah mencapai ukuran tertentu, anakan ikan akan dipindahkan ke kolam pembesaran. Sebagian akan digunakan untuk program restocking atau penebaran kembali ke habitat alaminya sebagai upaya pemulihan populasi dan menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Selain menjalankan program konservasi, sejak 2025 kawasan kolam Hikamuci juga dikembangkan sebagai sentra budidaya ikan nila dan ikan emas. Budidaya ikan komersial tersebut menjadi penopang ekonomi kelompok agar kegiatan konservasi dapat berlangsung secara mandiri dan berkelanjutan.
Social Investment Specialist Star Energy Geothermal Salak Ltd, Haris Nur Azhar, mengatakan pengembangan budidaya ikan komersial merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga: WhatsApp Alami Gangguan Riwayat Obrolan di iPhone, Begini Cara Memulihkan Chat yang Hilang
"Star Energy Geothermal sebagai bagian dari Barito Pacific menilai pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan sehingga mendukung keberlanjutan program konservasi di tingkat lokal. Program CSR ini menjadi bukti bahwa pengembangan energi panas bumi dapat berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan," katanya.
Komitmen tersebut juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pada April 2026, Star Energy Geothermal menerima penghargaan atas kontribusinya dalam mendukung program pembangunan di Jawa Barat sepanjang 2025.
"Kami berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya Gubernur KDM, atas apresiasi yang diberikan. Kami berkomitmen terus menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui praktik pengembangan panas bumi berkelanjutan serta program CSR yang berdampak," ujar Haris. ***



