POJOKSATU.id Tradisi upacara Peusijeuk merupakan salah satu warisan budaya nene moyang masyrakat Aceh yang hingga saat ini masih dilestarikan.
Biasanya masyarakat Aceh, menggelar tradisi upacara Peusijuek sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada tuhan, atas berbagai pencapain yang telah dilakukan.
Tak hanya itu, Peusijuek juga dilakukan sebagai tradisi upacara penyambutan dari masyrakat Aceh, apabila kedatangan tamu istimewa.
Misalnya penyambutan Presiden Jokowi saat pertama kali datang ke Aceh untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan Bendungan Keureuto pada 2015 lalu.
Tradisi Upacara Peusijuek ditandai dengan penyematan kopiah kehormatan Meukeutop yang dilakukan oleh Wali Kota Nangro Aceh saat itu, Malik Mahmud kepada Presiden Jokowi.
Sementara Zaini Abdullah yang menjabat sebagai gubernur saat itu, bertugas menyematkan senjata tradisional Aceh, Siwah. Untuk dikenakan oleh Jokowi.
Penamaan tradisi upacara Peusijuek sendiri berasal dari bahasa Aceh yang memiliki arti dingin atau mendinginkan.
Tradisi Upacara Peusijuek sendiri sudah ada dan sering dilakukan oleh masyrakat Aceh, sebelum kedatangan ajaran islam.
Hanya saja, saat ajaran islam datang ke tanah Rencong itu, doa-doa yang semula berupa mantra dalam bahasa Aceh, sekarang sudah berganti menjadi doa-doa yang berbahasa Arab.
Baca Juga: Mengenal Upacara Tabuik, Tradisi Festival Khas Masyarakat Pariaman Sumatera Barat
Adanya, perpaduan budaya atau akulturasi budaya menyebabkan tradisi upacara Peusijuek masih digunakan hingga saat ini
Dalam praktiknya, proses upacara adat Peusijuek yang dilakukan oleh masyarakat Aceh, Mereka akan mengundang orang tua yang dianggap sebagai tokoh agama, juga memiliki ilmu-ilmu agama yang tinggi, seperti Tengku (ustadz) dan Umi Chik (ustadzah).
Karena, tradisi upacara Peusijuek harus dilakukan tokoh yang paham adat dan agama, agar niatnya tidak melenceng.
Sementara, orang yang mengadakan upacara Peusijuek akan menyiapkan bahan-bahan untuk upacara.
Ada beberapa perlengkapan yang harus dipersiapkan sebelum tradisi upacara pacara Peusijuek di selenggarakan, dan masing masing memiliki nilai filosofis sendiri.
Perlengakapan yang digunakan saat tradisi upacara Peusijuek, yaitu dedaunan dan rerumputan yang melambangkan keharmonisan, keindahan, dan kerukunan.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Upacara Larung Sesaji, Ungkapan Rasa Syukur Masyarakat Pulau Jawa
Bahan perlengkapan lainnya adalah beras dan padi yang melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan kekuatan.
Bahan yang terakhir adalah air dan tepung ketan, sebagai simbol persaudaraan dan ketenangan.
Dalam tata caranya, Tengku akan memercikan air ke kiri dan ke kanan sambari melakukan gerakan-gerakan unik menggunakan dedaunan dan rerumputan.
Beras dan padi akan ditaburkan, sementara tepung dan ketan akan dioleskan di telinga kanan dan kiri pada orang-orang yang menggelar upacara Peusijuek.
Dalam beberapa prosesi upacara Peusijuek ada juga penyelenggara yang menyiapkan bahan-bahan lain, seperti buah talam, kue, tempat cuci tangan, dan tudung saji.
Tahap selanjutnya, tengku akan memanjatkan doa-doa kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya dilimpahkan kedamaian, keselamatan, dan dimudahkan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa.
Baca Juga: Identik dengan Horror, Ternyata Begini Asal Usul Sejarah Tradisi Halloween!
Proses terakhir dari upacara adat Peusijuek adalah para tamu memberikan memberikan uang pada orang yang menyelenggarakan Peusijuek.
Nah biasanya pemberian uang dilakukan jika upacara Peusijuek ditujukan untuk calon jemaah haji, acara sunatan, atau pernikahan.
Tradisi upacara Peusijuek di Aceh menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia memiliki beragam kekayaan budaya dan tradisi.
Hal ini, menjadi tanggung jawab kita sebagai generasi muda, untuk terus melestarikan berbagai macam kebudayaan serta tradisi yang ada di tanah pertiwi ini.***



