POJOKSATU.ID - Dampak kebijakan tarif tinggi yang kembali diterapkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump mulai terasa di Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembap ke zona merah, memicu kekhawatiran akan kondisi ekonomi nasional yang makin tertekan.
Pengamat politik dan ekonomi asal Cirebon, Heru Subagia, menilai situasi ini sebagai momen kritis yang membutuhkan respons cepat dan strategis dari pemerintah.
Ia menyebut pelemahan IHSG, merosotnya nilai tukar rupiah, dan menurunnya daya beli masyarakat sebagai sinyal kuat bahwa sistem ekonomi liberal telah gagal menyejahterakan rakyat.
"Ini adalah gambaran buram dari ekonomi nasional. Otoritas bursa memang sudah melakukan trading halt, tapi ini hanya menunda gejolak. Kita butuh solusi lebih besar," ujar Heru, Selasa (8/4).
Alumni Fisipol UGM itu juga menyoroti peran oligarki dalam sistem ekonomi saat ini, yang menurutnya justru membebani masyarakat dan mempersempit ruang gerak pemerintah.
Ia menyerukan agar kementerian terkait, mulai dari Kemenko Polhukam, Kementerian Keuangan, hingga Kementerian Koperasi segera duduk bersama Presiden Prabowo untuk merumuskan langkah penyelamatan nasional.
"Darurat ekonomi tidak bisa ditangani dengan pendekatan konvensional. Sudah waktunya kita beralih dari ekonomi liberal menuju sistem ekonomi sosialis yang menekankan distribusi keadilan dan kesejahteraan," tegas Heru.
Baca Juga: Motor Lelah Setelah Mudik? Segera Rawat Agar Tetap Prima!
Ia bahkan mendorong Presiden Prabowo untuk segera mengeluarkan dekrit darurat ekonomi, serta menjadikan koperasi sebagai tulang punggung entitas ekonomi nasional ke depan.
"Ini adalah momentum kebangkitan ekonomi nasionalis. Pemerintah harus berani ambil sikap demi menyelamatkan masa depan bangsa," pungkasnya.




