POJOKSATU.ID - Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid menohok keras para elit politik dan ormas yang sibuk berkelahi, gemar menebar narasi perpecahan, dan lupa pada substansi demokrasi.
“Sudahlah, berhenti bikin gaduh. Demokrasi bukan arena gladiator,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Kasus yang membelit Grace Natalie, elite PSI, oleh pendukung JK disebut Habib Syakur sebagai bukti betapa demokrasi sedang dipaksa sakit. Alih-alih memperkuat sistem politik, yang terjadi justru memperlemah kepercayaan publik.
“Ini bukan demokrasi sehat, tapi demokrasi yang dipaksa sakit,” tegasnya.
Ia menyindir fenomena konten kreator yang terus menggoreng isu ijazah palsu Jokowi. Menurutnya, isu murahan itu tidak bergizi bagi rakyat, malah mengganggu stabilitas bangsa.
Baca Juga: Wagub Sumbar Kecelakaan Hantam Truk, Deretan Tokoh Publik dan Artis Doakan Kesembuhan
“Kalau ijazah palsu bisa bikin pupuk murah, mungkin ada gunanya. Tapi nyatanya hanya bikin gaduh,” sentilnya.
Habib Syakur mendesak pihak-pihak yang masih waras untuk menjaga Grace Natalie sebagai sumber daya manusia Indonesia yang luar biasa.
“Grace harus terus membangun politik dan ekonomi demi kesejahteraan rakyat. Jangan biarkan ia jadi korban adu domba,” katanya.
Ia mengingatkan, Indonesia kini sedang diadu domba oleh kekuatan yang tidak suka negeri ini maju, damai, dan sejahtera. Habib Syakur pun menyorot pemerintahan Prabowo Subianto agar tidak membuat blunder.
Baca Juga: Selama 24 Jam Terakhir, Lebih 300 Kali Gempa Bumi Guncang California Selatan Amerika
“Rupiah sudah terjun bebas di atas Rp17.000 per dolar. Jangan bilang masyarakat desa tidak pakai dolar. Pupuk itu bahan bakunya impor, dibeli pakai dolar. Kalau pupuk mahal, ketahanan pangan bisa jebol,” ucapnya.
Habib Syakur menegaskan komitmen GNK untuk membela demokrasi yang sehat.
“Kami siap mendoakan dan mendukung agar Grace tetap sabar dan semangat membangun Indonesia. Demokrasi tidak boleh kalah oleh kebisingan politik,” pungkasnya.***




