POJOKSATU.ID – Pertemuan dua tokoh Nahdlatul Ulama, KH Imam Jazuli dan KH Asep Saifuddin Chalim, di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (Bima), Cirebon, dinilai bukan sekadar silaturahmi.
Momentum tersebut disebut sebagai sinyal kuat arah kepemimpinan NU menjelang Muktamar ke-35.
Ketua Pergunu Kabupaten Cirebon H Dasuki, menilai kehadiran KH Asep Saifuddin Chalim selaku Ketua Umum PP Pergunu dalam pertemuan itu mempertegas menguatnya poros kepemimpinan berbasis pesantren dan kemandirian organisasi.
“Pertemuan ini memiliki makna strategis. Terlebih, hasil polling terbaru menempatkan duet KH Imam Jazuli dan KH Asep Saifuddin di posisi teratas sebagai pasangan yang paling diinginkan akar rumput Nahdliyin,” ujar Dasuki, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, hasil polling tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan refleksi kegelisahan warga NU yang merindukan kepemimpinan berbasis karya nyata, kemandirian pesantren, serta penguatan sumber daya manusia (SDM).
Dasuki menilai, kesamaan visi kedua tokoh inilah yang menjadi fondasi kuat duet tersebut. Baik KH Imam Jazuli maupun KH Asep Saifuddin disebut telah menuntaskan urusan domestik pesantren masing-masing, dan kini fokus pada agenda besar mencetak generasi Nahdliyin yang mampu mengisi ruang-ruang strategis nasional hingga global.
“KH Asep melalui Pesantren Amanatul Ummah telah membuktikan santri mampu menembus fakultas kedokteran dan universitas kelas dunia. Sementara KH Imam Jazuli lewat Bina Insan Mulia secara konsisten mengirim ratusan alumninya ke berbagai negara setiap tahun. Ini bukan wacana, tapi kerja nyata,” katanya.
Baca Juga: Ngeri! Tingkat Kematian Bisa 70 Persen! Virus Nipah Jadi Sorotan Dunia Setelah India Darurat
Keduanya, lanjut Dasuki, memiliki pandangan yang sejalan mengenai pentingnya kaderisasi berbasis pendidikan berkualitas. Pendidikan dinilai sebagai kunci utama untuk melahirkan kader NU yang tidak hanya kuat secara keagamaan, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam pertemuan tersebut, KH Imam Jazuli juga menyampaikan pernyataan yang dinilai menggugah kesadaran kader NU.
“Saatnya NU tidak cukup hanya mengurusi orang meninggal. Itu penting, tetapi yang lebih mendesak adalah mengurusi yang masih hidup,” ujar Dasuki mengutip pernyataan KH Imam Jazuli di hadapan kader Pergunu.
Pernyataan tersebut, menurutnya, menegaskan arah transformasi NU agar lebih fokus pada peningkatan kualitas SDM, penguatan ekonomi warga, serta pola pikir yang modern tanpa meninggalkan adab dan tradisi pesantren.
Dasuki menilai, sinergi KH Imam Jazuli dan KH Asep Saifuddin merupakan jawaban atas kebutuhan NU di Muktamar ke-35, yakni transformasi dari jam’iyah yang selama ini identik dengan ritual keagamaan, menjadi penggerak peradaban, pendidikan, dan ekonomi umat.
“Visi ini relevan dengan tantangan Indonesia Emas 2045. NU harus menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek politik. Menyiapkan teknokrat, diplomat, dokter, dan ilmuwan berkarakter santri,” katanya.
Ia memaparkan, kekuatan duet ini setidaknya terlihat dari tiga aspek. Pertama, kemandirian ekonomi dan organisasi yang membuat NU ke depan tidak mudah disetir kepentingan politik praktis. Kedua, representasi geopolitik Jawa Barat, Jawa Timur yang memperkuat stabilitas kultural NU. Ketiga, keseimbangan antara intelektualitas dan spiritualitas.
“KH Imam Jazuli dikenal sebagai figur intelektual progresif dengan terobosan manajerial, sementara KH Asep adalah kiai sepuh yang alim, kuat secara spiritual, namun terbukti handal dalam eksekusi organisasi,” jelasnya.
Menurut Dasuki, pertemuan di Bina Insan Mulia menjadi momentum “pulang ke rumah” bagi NU, untuk kembali menegaskan peran sentral pesantren dan kiai pengasuh santri dalam kepemimpinan organisasi.
“Duet KH Imam Jazuli sebagai calon Ketua Umum Tanfidziyah dan KH Asep Saifuddin Chalim sebagai calon Rais Aam adalah bentuk rekonsiliasi historis. Ini menjawab harapan Nahdliyin yang menginginkan pemimpin yang berkarya dulu, baru memimpin,” pungkasnya.***




