POJOKSATU.ID - Penerapan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia perlu diselaraskan dengan prioritas pembangunan nasional.
Upaya ini mulai diwujudkan melalui pembentukan Kolaborasi Riset & Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), yang bertujuan menjembatani kesenjangan antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas publik.
Sekretaris Jenderal Partnership KORIKA, Sri Safitri, menekankan bahwa meski AI memiliki potensi besar dalam mendorong transformasi digital, penerapannya masih menghadapi berbagai tantangan.
Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki keahlian di bidang AI. Hingga kini, program studi khusus AI di Indonesia masih sangat terbatas.
"Kendala lain adalah infrastruktur digital yang belum memadai, minimnya pendanaan untuk riset dan pengembangan (R&D), serta regulasi yang masih dalam tahap penyesuaian, terutama terkait tata kelola data dan kebijakan AI," ungkap Sri Safitri. Rabu (12/3)
Senada dengan itu, Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital CELIOS, menyoroti bahwa adopsi AI di sektor finansial dan ekonomi digital berkembang pesat.
Namun, pemanfaatannya harus didukung strategi yang jelas dari pemerintah, kolaborasi industri, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Baca Juga: Dua Maling Motor di Karawang Tewas dan Koma Akibat Dikeroyok Massa
"Pemerintah berperan strategis dalam mengatur regulasi dan tata kelola AI untuk memaksimalkan manfaatnya serta meminimalkan risiko," ujarnya.
Sementara itu, Insaf Albert Tarigan, Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan, menilai bahwa Indonesia perlu menyusun strategi nasional yang berfungsi sebagai panduan bagi sektor publik dan swasta dalam mengembangkan serta mengimplementasikan AI.
"Dengan kebijakan yang tepat, pemerintah bisa menjalin kerja sama global, termasuk transfer teknologi, investasi, serta penelitian bersama. Kolaborasi ini akan mempercepat adopsi teknologi canggih dan memperkuat kedaulatan teknologi Indonesia," tegasnya.
Perusahaan Mulai Beralih ke AI
Di sektor industri, beberapa perusahaan telah mengadopsi AI dalam berbagai inovasi. Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), misalnya, tidak hanya memanfaatkan AI untuk peningkatan layanan pelanggan dan kinerja jaringan, tetapi juga membangun ekosistem AI inklusif melalui pengembangan talenta dan pelatihan.
Selain itu, GoTo menggunakan AI untuk mempersonalisasi preferensi pelanggan dan memprediksi permintaan, sedangkan Kata.ai mengembangkan solusi AI berbasis percakapan otomatis untuk meningkatkan interaksi pelanggan.
Di sektor pemerintahan, teknologi AI mulai digunakan dalam otomatisasi layanan publik serta moderasi konten oleh Komdigi.
Diskusi panel terkait AI yang baru saja diselenggarakan menjadi momentum strategis untuk memperkuat pemahaman mengenai peran AI dalam pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, forum ini juga merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis bukti serta mempererat jejaring kolaboratif demi membangun ekosistem AI nasional yang inklusif dan berkelanjutan.




