POJOKSATU.ID - Supir truk pengiriman air galon Aqua di Subang ternyata hanya dibayar Rp125 ribu per bulan untuk sekali jalan.
Ada dugaan bahwa perusahaan ingin untung sendiri dengan menambah muatan truk air galon Aqua menjadi nyaris 3 kali lipat.
Seharusnya supir truk mendapatkan Rp375 ribu untuk 3 kali jalan, tapi dipangkas menjadi sekali jalan dengan memaksa untuk melebihi muatan.
Baca Juga: Hanya Guru Kategori Ini yang Masuk Validasi TPG Tahap 4, Cek Status Anda di Info GTK
Kapasitas muatan truk yang seharusnya hanya 5 ton, dipaksa untuk membawa 13 ton air galon Aqua.
Temuan ini berdasarkan sidak yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di pabrik Aqua Subang.
"Saat pemerintah getol bangun jalan tapi tonase muatan kendaraan bikin geleng-geleng. Ditambah upah si aki yang bikin geleng-geleng banget," tulis Dedi Mulyadi dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Senin, 20 Oktober 2025.
Baca Juga: Seleksi PPG Prajabatan 2025 Hadir dengan Aturan Baru, Ini Daftar Bidang Studi dan Syarat Lengkapnya
Selain itu, Dedi Mulyadi juga menyoroti upah supir truk yang dinilai sangat tidak layak, padahal risikonya besar.
Atas sidak tersebut, netizen juga melaporkan penemuan lain yang dilihatnya di lapangan mengenai perusahaan air minum dalam kemasan yang berada di bawah naungan perusahaan multinasional asal Prancis Danone ini.
Pabrik yang berada di Desa Darmaga, Kecamatan Cisalak ini disebutkan jadi biang kerok jalan utama Subang-Lembang cepat rusak.
Baca Juga: Tunjangan Profesi Guru Tahap Akhir 2025 Segera Cair, Begini Mekanisme dan Jadwalnya
Jalan utama Lembang-Subang, semenjak ada truk air mineral lebih sering cepat rusak," tulis @kang_adi_999 di unggahan akun Instagram @eksploresubang.
Ada juga yang merasa ketakutan ketika mengemudikan kendaraan di belakang truk bermuatan air galon Aqua.
"Tiap pulang ke Subang, jadi takut kalau truk Aqua di tanjakan Emen," kata @chie_hondamobilbandung.
Baca Juga: Kemdikbud Mulai Cairkan TPG TW3 Tahun 2025, Non ASN Sudah Terima
Netizen yang mengaku warga Subang sering kali melihat truk tersebut selalu lolos dari pemeriksaan atau preman yang meminta jatah di jalan.
Berbeda dengan truk muatan lain yang sering kali harus menyetor sejumlah uang ketika melewati jalan tertentu di Subang.
Mereka penasaran di balik layarnya ada tokoh siapa, karena beberapa kali perusahaan tersebut diduga melakukan pelanggaran tapi tetap beroperasi.
Baca Juga: BPK Tegaskan Tak Pernah Diminta KPK Hitung Kerugian Negara dalam Akuisisi PT ASDP
"Tapi heran kalau mobil Aqua gak pernah lihat kena japrem (jatah preman), beda sama truk muatan material lainnya," ungkap @joejoe_ajh.
Brand besar seperti Aqua, seharusnya jadi contoh untuk perusahaan AMDK lain yang baru lahir, termasuk untuk upah layak bagi para supir pengiriman.
Menurut Dedi Mulyadi, upah tukang nyari rumput untuk pakan ternak lebih besar ketimbang gaji supir truk Aqua di Subang.
Bukan hanya masalah jalan rusak dan upah murah, perusahaan ini juga menjadi sorotan Walhi karena diduga jadi salah satu sebab longsor terjadi di Kampung Cipondok, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Kasomalang, pada bulan Januari 2024 lalu.
300 orang terdampak dan harus mengungsi akibat bencana itu, dan ada 2 warga yang tiada karena tertimbun.
Walhi menilai longsor bukan hanya karena intensitas hujan tinggi, tapi ada aktivitas sumur bor milik Aqua di kawasan tersebut.
Baca Juga: Tiga Calon Dokter Unud Ditindak Tegas dari RSUP Ngoerah Buntut Ejek Kematian Korban Timothy Anugerah
Pengambilan air tanah yang berlebihan untuk komersil mengakibatkan tanah labil hingga memicu longsor saat hujan deras.
Walhi meminta pemerintah setempat untuk mengeluarkan kebijakan agar perusahaan tidak melakukan eksploitasi air secara besar-besaran, sebelum ada bencana lain yang mengintai.***




