POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Pasca debat para calon presiden dan wakil presiden, konstalasi perpolitikan di negeri ini konon katanya mulai memanas, berbagai trik dan intrik digunakan untuk saling menjatuhkan.

Serangan-serangan para pendukung diberbagai platfom media sosial silih berganti saling ‘hantam’, saling serang untuk menjatuhkan sehingga seakan-akan perpolitikan di tanah air sedang memanas.

Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi sebagai kader partai Gerindra hanya menanggapi dengan senyuman, karena Dedi menganggap politik negeri ini masih adem-adem saja.

Baca Juga: Ombudsman Perwakilan Sumut Berharap Bupati Madina Kooperatif, Dipanggil Besok Kisruh PPPK Guru 2023

“Yang panas itu para Buzzer dan para elit politik, saling serang dan saling menjatuhkan itumah pekerjaan buzzer,” kata Dedi Mulyadi, melalui sambungan seluller Rabu (10/01) kepada pojoksatu.id.

Masih menurut Dedi, kondisi perpolitikan saat ini masih adem-adem saja hal itu bisa dibuktikan dengan keadaan di perkotaan sampai pelosok-pelosok daerah yang masih kondusif.

“Setiap hari kan saya sering ke pelosok-pelosok pedesaan diberbagai wilayah, terutama di Jawa Barat, faktanya tidak ada tuh yang namanya gesekan antar pendukung presiden secara frontal,” tambah Dedi Mulyadi.

Baca Juga: Viral, Mamak-Mamak di Deli Serdang Kuras dan Perbaiki Kapal Pengungsi Rohingya yang Karam di Desa Karang Gading

Masyarakat saat ini sudah mulai dewasa cara berfikirnya dalam hal berdemokrasi, rakyat tidak lagi mudah terpancing atas ulah para buzzer yang sering memancing-mancing agar terjadi gesekan antar pendukung.

“Jadi yang panas itu para buzzer di media sosial, sementara di masyarakat sendiri masih tetap adem,” tegas Dedi Mulyadi.

Kondisi perpolitikan yang saat ini terjadi, ditataran elit memang terlihat tengah memanas namun tidak berimbas secara langsung ke tataran grassroot.***