POJOKSATU.id, JAKARTA - Seni bela diri tradisional Betawi mendapat ruang dikenalkan dan dilestarikan melalui kegiatan Semarak Budaya Seni Bela Diri Betawi 'Maen Pukulan Betawi dan Disiplin Warga' yang digelar di Aula Masjid Jami’ Al-Barkah, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jaksel.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan langsung dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati.
Kurniasih mengatakan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Betawi kepada masyarakat sekaligus mendorong generasi muda untuk mengenal nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi sebagai bagian dari pembentukan karakter, kedisiplinan, keberanian, dan tanggung jawab sosial.
Baca Juga: Tegang, Puluhan Warga Adang Eskavator Terduga PETI Masuk ke Lokasi di Tambangan Pasoman
"Maen pukulan Betawi bukan hanya tentang kemampuan bela diri. Di dalamnya terdapat nilai disiplin, keberanian, penghormatan kepada orang lain, serta tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan masyarakat,” kata Kurniasih dalam kegiatan tersebut, Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, budaya tradisional perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak kehilangan akar sejarah dan identitas budayanya.
"Kegiatan ini juga menjadi ruang interaksi masyarakat untuk memahami bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan formal, tetapi dapat tumbuh dari komunitas dan lingkungan masyarakat sehari-hari," ucapnya.
Sementara itu, Muhammad Alfi Syahri, selaku Penanggung Jawab Kegiatan mengatakan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap seni dan tradisi Betawi.
Baca Juga: Jumling Suyudi
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa seni bela diri tradisional Betawi memiliki nilai budaya yang kuat dan masih relevan untuk dikenalkan kepada generasi sekarang,” katanya.
Kegiatan Semarak Budaya Seni Bela Diri Betawi merupakan bentuk kerja sama Kementerian Kebudayaan dan DPR RI dalam mendukung pemajuan kebudayaan serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk menampilkan dan mengembangkan kesenian tradisional.
"Melalui kegiatan ini, maen pukulan diharapkan tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang dapat terus dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya," ucapnya.***




