POJOKSATU.ID - Sulawesi Selatan (Sulsel) sudah lama dikenal memiliki salah satu perusahaan tambang nikel terbesar di dunia. Yaitu PT Vale Indonesia yang berlokasi di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur.
Selain Sorowako, dalam waktu dekat Sulsel akan punya sentra industri nikel yang baru. Tepatnya di Desa Karang-karangan, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu.
Jaraknya sekitar 236 kilometer dari Sorowako atau sekitar 362 kilometer dari Kota Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan.
Baca Juga: 3 Besar Investor Proyek Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik Makassar
Sentra industri nikel terbaru Sulsel yang ada di Bua ini dikelola PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS), salah satu anak perusahaan Kalla Group, milik mantan wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla (JK).
Untuk tahap pertama, PT BMS akan berinvestasi sekitar 191 juta US Dollar setara dengan Rp2,9 triliun (kurs 1 USD= Rp15.200).
Proyek tahap pertama ini terdiri dari dua smelter atau pabrik pemurnian bijih nikel, pembangunannya sudah berjalan sejak Maret 2022.
Baca Juga: Pemprov Banten Akan Ganti Sumber Energi Listrik PJU
Bahkan pembangunan smelter pertama ini sudah hampir rampung dan siap dioperasikan pada September atau Oktober 2023 ini.
Adapun pabrik yang kedua ditargetkan beroperasi pada pertengahan 2024 mendatang.
Site Manager PT BMS Zulkarnain membenarkan kalau perusahaannya tengah membangun smelter di Desa Karang-karangan, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulsel.
"Untuk tahap 1, dikerjakan dengan membangun dua pabrik pengolahan bijih nikel dan beberapa infrastruktur pendukung," kata Zulkarnain, 16 Juni 2023.
Baca Juga: DEN Dorong Pemanfaatan BBG Sebagai Energi Alternatif yang Bersih dan Terjangkau
Dalam pengolahan bijih nikel, PT BMS menggunakan teknologi Electric Furnace (EF) yang menjadi teknologi terdepan dalam industri smelter nikel di Indonesia.
Kapasitas pabrik pertama mencapai 330.000 metrik ton (MT) feronikel per tahun. Sedangkan pabrik kedua diproyeksi menghasilkan 40.000 MT nikel sulfat per tahun.
Dalam proyek tahap pertama ini, PT BMS juga membangun sejumlah infrastruktur pendukung pengoperasian smelter.
Seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang digunakan untuk memasok listrik ke smelter.
Baca Juga: Ratusan Mahasiswa Luwu Demo Tolak PT Antam Kelola Ex Vale
Kemudian ada saluran udara tegangan tinggi (SUTT) sebagai jalur listrik dari PLTA ke smelter, dan akses pelabuhan yang juga berlokasi di Karang-karangan, Bua.
"Adapun bijih nikel yang akan kami kelola didapatkan dari beberapa opsi yang berasal dari Sulawesi Tenggara, misal dari Kolaka dan Kolaka Utara," lanjut Zulkarnain.
Tidak hanya sampai pada proyek tahap 1, PT BMS juga berencana menambah smelter pada proyek tahap 2 yang kemungkinan mulai dikerjakan pada pertengahan 2024 setelah pabrik kedua pada proyek tahap 1 rampung.
Pada proyek tahap 2, akan dibangun empat pabrik yang diproyeksi menelan investasi hingga Rp6 triliun.
Baca Juga: Hilirisasi Pengelolaan SDA, Prabowo Sebut Nikel dan Sawit Nilainya Fantastik Kalau di Ekspor
"Setelah mulai berproduksi (2 pabrik pertama), kami berencana melanjutkan pembangunan pabrik tahap kedua yang terdiri dari 4 Smelter Nickel Sulfate Battery," jelas Zulkarnaen.
Kali ini, PT BMS rencananya akan mengolah bijih nikel limonit menjadi produk Mixed Hydroxide Precipitate atau MHP.
"Kami belum bisa memastikan nilai investasi untuk proyek tahap 2, tapi kalau dihitung-hitung, satu pabrik itu bisa menelan sampai Rp1,5 triliun. Berarti kalau sampai empat pabrik, artinya sekitar Rp6 triliun," jelasnya.
Rencana PT BMS menjadikan Bua sebagai sentra industri nikel baru di Sulsel tidak hanya sampai di situ.
Proyeksi jangka panjang mereka adalah bisa mendirikan 14 pabrik hingga 2030 mendatang.
Meskipun Zulkarnain juga belum bisa memastikan apakah rencana tersebut semuanya akan diaplikasikan di Luwu atau daerah lain.
Serap 80 Persen Tenaga Kerja Lokal
Ketika Jusuf Kalla mengunjungi perkembangan pembangunan smelter nikel PT BMS di Bua, Februari 2023 lalu, ia menegaskan bahwa perusahaan ini akan menyerap 80 persen tenaga kerja lokal.
Tentu saja ini menjadi angin segar bagi masyarakat atau pemuda di Kabupaten Luwu yang memiliki minat bekerja di industri nikel.
Baca Juga: Inalum Pamerkan Sembilan Produk UMKM di Bazaar Kementerian ESDM RI
Di hadapan awak media, Jusuf Kalla menjelaskan bahwa pembangunan smelter nikel oleh PT Bumi Mineral Sulawesi merupakan sumbangsih terbesar anak negeri demi kemakmuran masyarakat Kabupaten Luwu dan sekitarnya.
"Kami sedang membangun pabrik smelter nikel dan sudah mempekerjakan ratusan orang. Setelah smelter mulai berproduksi, PT BMS akan menyerap hingga empat ribuan tenaga kerja, 80 persennya (tenaga kerja) lokal," kata Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12 ini.
Menurutnya, investasi besar-besaran yang dilakukan PT BMS di Bua, Kabupaten Luwu ini karena memang perusahaan ini mengusung konsep pemberdayaan tenaga kerja lokal dan dikerjakan oleh anak bangsa Indonesia.
Bupati Luwu Basmin Mattayang menyebut pemerintah dan warga Kabupaten Luwu sangat berterima kasih atas investasi perusahaan Jusuf Kalla di daerah berjuluk Bumi Sawerigading ini.
Baca Juga: Soal Gugatan Banding Ekspor Bijih Nikel, Aktivis Kemanusiaan Siap Bela RI di WTO
"Kehadiran PT BMS bukan hanya menjadi solusi dalam menekan angka pengangguran di Kabupaten Luwu, tapi juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Luwu," kata Basmin kepada Pojoksatu.id, Senin 28 Agustus 2023.
Memang sejak pembangunan smelter nikel oleh PT BMS ini diketahui publik, sejumlah warga sudah sibuk mencermati peluang bisnis yang bisa mereka kelola ketika pabrik beroperasi.
Salah satu yang paling ramai sekarang adalah membangun rumah kontrakan atau kos-kosan, persiapan untuk karyawan PT BMS.
"Saya sementara membangun kos-kosan di Lengkong (desa tetangga Karang-karangan). Rencana ada 20 kamar," kata Azwar Anwar, salah seorang warga Bua kepada Pojoksatu.id, Minggu 27 Agustus 2023.
Ia menyebut hampir semua tanah kosong di Bua sudah ada yang kapling dengan mayoritas mereka berencana membangun rumah kontrakan.
Dengan dijadikannya Bua sebagai sentra industri nikel, dan komitmen PT BMS untuk menyerap 80 persen tenaga kerja lokal, dipastikan akan menekan angka pengangguran.
Baca Juga: Jusuf Kalla Ungkap Kunci Sukses Menjadi Entepreneur
Termasuk bagi para anak muda Luwu yang selesai atau masih sementara kuliah, setidaknya ada jaminan dari PT BMS untuk menampung mereka. Tentunya jika memenuhi syarat atau kualifikasi yang ditetapkan perusahaan.
Sebagai gambaran, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Luwu, dari 369.820 penduduk Kabupaten Luwu pada tahun 2022, tercatat 14.238 di antaranya berstatus pengangguran atau sekitar 3,85 persen.
Adapun jumlah pencari kerja terus mengalami peningkatan hampir dua kali lipat setiap tahun.
Seperti pada tahun 2021, ada 799 pencari kerja dengan kualifikasi S1, meningkat tajam jika dibandingkan pada tahun 2020 yang berjumlah 351.
Untuk tamatan SMA sederajat, juga naik dari 1.036 (2020) menjadi 3.189 pada tahun 2021.
Kehadiran PT BMS ini tentu akan jadi wadah bagi para pencari kerja ini untuk mengaplikasikan displin ilmu yang dimiliki sehingga masa depan pemuda Luwu lebih terjamin.***




