POJOKSATU.ID – Pemerintah pusat mulai menyiapkan langkah percepatan penanganan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi. Selain mengandalkan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik, tumpukan sampah lama yang telah menggunung selama puluhan tahun juga akan diolah menjadi bahan bakar melalui teknologi pirolisis.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengakui persoalan sampah di sejumlah daerah sudah berada pada kondisi darurat, termasuk di Bantargebang yang menjadi lokasi pembuangan sampah terbesar di Indonesia.
"Seperti Bantargebang ini, Kota Bekasi sudah darurat. Di Tangerang Selatan, Bali, dan beberapa daerah lain juga menghadapi kondisi yang sama. Tumpukan sampahnya sudah sangat tinggi dan persoalan ini bertahun-tahun belum terselesaikan," kata Zulkifli Hasan saat menghadiri Apel Siaga Kebersihan dan Persiapan Groundbreaking Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPST Bantargebang, Selasa (26/8/2026).
Menurut Zulhas, pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik yang ditargetkan beroperasi pada 2028 baru mampu menangani sekitar 22 persen persoalan sampah yang ada saat ini. Karena itu, pemerintah menyiapkan skema tambahan untuk mengurangi tumpukan sampah lama yang telah membentuk "gunung sampah" di Bantargebang.
Baca Juga: The Odyssey Resmi Masuk Home Video November 2026, Bisa Dibeli dan Disewa Secara Digital
Dalam program tersebut, TNI Angkatan Darat melalui kerja sama dengan pemerintah akan mengolah sampah lama menggunakan teknologi pirolisis yang menghasilkan bahan bakar minyak.
"Sampah baru yang masuk ke Bantargebang setiap hari mencapai sekitar 1.800 ton. Sementara sampah lama yang sudah menjadi gunung juga harus diselesaikan. Nantinya sampah lama itu akan dikelola melalui pirolisis menjadi minyak dan mudah-mudahan bisa mengolah sekitar 1.000 ton per hari," ujarnya.
Ia optimistis kombinasi pengolahan sampah baru dan sampah lama dapat mempercepat pengurangan volume sampah di Bantargebang secara bertahap.
"Kalau sampah baru bisa ditangani sekitar 1.500 ton dan sampah lama 1.000 ton, maka gunung-gunung sampah yang ada saat ini bisa kita habiskan secara bertahap," katanya.
Selain pembangunan infrastruktur, Zulhas menegaskan keberhasilan pengelolaan sampah juga sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
Baca Juga: Magang Kemensetneg 2026 untuk SMK dan Mahasiswa, Cek 10 Formasi dan Cara Daftarnya
Menurutnya, pemilahan sampah merupakan langkah sederhana namun menjadi kunci utama dalam menyelesaikan persoalan sampah nasional.
"Kalau sampah dipilah, material anorganik sudah banyak yang menampung dan membeli. Sementara untuk sampah organik sekarang juga sudah tersedia teknologi yang membuatnya cepat terurai. Kuncinya ada di pemilahan," jelasnya.
Ia menargetkan, jika program pemilahan sampah dapat berjalan secara masif di lingkungan rumah tangga, sekolah, pasar, pusat perbelanjaan hingga perkantoran, maka sekitar 70 hingga 75 persen persoalan sampah dapat diselesaikan dalam dua tahun ke depan.
"Kalau pemilahan berjalan baik, kita optimistis 70 sampai 75 persen sampah bisa diselesaikan. Karena itu dukungan masyarakat dan media sangat penting agar gerakan ini berhasil," tegasnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendukung penuh pengolahan sampah lama di Bantargebang melalui teknologi pirolisis sebagai solusi jangka pendek sebelum fasilitas PSEL beroperasi.
Baca Juga: Demo 27 Agustus Kepung DPR, Massa Terbelah dan Polisi Waspadai Penyusup
"Kami akan fokus memproses sampah lama terlebih dahulu. Setelah pembangunan fasilitas berjalan dan mulai beroperasi, kapasitasnya bisa ditambah sehingga proses pengurangan tumpukan sampah lama menjadi lebih cepat," kata Dedi.
Menurutnya, teknologi pirolisis menjadi solusi penting untuk mengatasi timbunan sampah yang terus bertambah setiap hari, terutama di wilayah Bekasi Raya, Bogor Raya, dan Bandung Raya.
"Dalam jangka pendek, sampah akan dikelola dan diubah menjadi solar. Sementara dalam jangka panjang akan terbangun industri pembangkit listrik berbasis sampah yang bisa memperkuat ketahanan energi Jawa Barat," ujarnya.
Dedi menambahkan, keberhasilan program tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dari sumbernya.
"Kami berharap masyarakat mulai membiasakan memilah sampah dari rumah masing-masing. Kalau pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga berjalan, persoalan sampah akan jauh lebih mudah diselesaikan," pungkasnya.***




