POJOKSATU.id - Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) memperkenalkan inovasi digital Satu Peta Anabul untuk memetakan sebaran hewan tak bertuan.

Sosialisasi strategi baru ini digelar di Ruang Rapat DKP3 pada Kamis 4 Desember 2025 dengan melibatkan pihak sekolah, Puskesmas, serta aparatur kewilayahan secara hibrida.

Kepala DKP3 Kota Depok, Widyati Riyandani, menekankan urgensi pengumpulan data akurat guna memantau keberadaan kucing dan anjing yang hidup liar di fasilitas publik.

Baca Juga: Kemenko PM Genjot Transformasi SMK, Roadshow Tiga Kota Targetkan 1 Juta Talenta Global

"Pendataan ini menjadi dasar bagi kami dalam memahami sebaran hewan liar, kondisi kesehatannya, serta kebutuhan di masing-masing wilayah," jelasnya.

"Data tersebut sangat penting terutama ketika berbicara mengenai kebijakan penanganan hingga kemungkinan pembangunan shelter," ujarnya.

Penjelasan teknis mengenai operasional platform tersebut dipaparkan oleh Rizka Zamzani Ibrahim selaku perwakilan komunitas NgePawRangers.

Baca Juga: Universitas Brawijaya Umumkan Mekanisme SNPMB 2026, Ada Aturan Baru UTBK dan Prodi Anyar

Rizka menjelaskan bahwa sistem ini dibangun sebagai pusat data terpadu yang mencakup titik lokasi penemuan, riwayat kesehatan, status sterilisasi, hingga aksi penyelamatan.

"Selama ini data hewan jalanan terpecah-pecah di berbagai komunitas atau individu. Melalui Satu Peta Anabul, seluruh laporan dapat dihimpun secara terintegrasi sehingga pemangku kepentingan memiliki dasar yang sama dalam merencanakan intervensi," jelas Rizka.

Hingga Juli 2025, tercatat sudah ada 1.416 laporan masuk yang didominasi oleh kucing, dengan tingkat sterilisasi hewan baru mencapai 21 persen.

Baca Juga: Pemkab Mimika Perketat ASN Pembatasan Plastik, DLH Dorong OPD Gunakan Tumbler dan Wadah Ramah Lingkungan

Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKP3 Depok, Dede Zuraida, menilai pemetaan digital ini sangat krusial untuk respons cepat terhadap potensi penyakit zoonosis.

"Platform ini memungkinkan kami melihat lokasi yang menjadi titik berkumpul koloni kucing atau anjing, termasuk wilayah dengan laporan kesehatan yang membutuhkan penanganan cepat," tuturnya.

"Data ini akan membantu dalam pengambilan keputusan terkait vaksinasi, sterilisasi, ataupun pelaporan kasus," tambahnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah dan partisipasi masyarakat.

"Relawan dan komunitas adalah pihak yang paling dekat dengan hewan-hewan ini. Mereka memberikan laporan real-time yang nantinya akan memperkaya data untuk dianalisis," kata Dede.

Baca Juga: Gagal PPPK Paruh Waktu! Ribuan Honorer Diisukan Akan Dialihkan Jadi Outsourcing

DKP3 Depok optimis langkah sistematis ini mampu meningkatkan kesejahteraan hewan sekaligus memitigasi risiko kesehatan lingkungan secara lebih akurat.***