POJOKSATU.ID – Disahkannya kebijakan umrah mandiri oleh pemerintah memantik respons strategis dari pelaku industri perjalanan ibadah. Aliansi Pengusaha Haramain Seluruh Indonesia (ASPHIRASI) memandang kebijakan ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai momentum bagi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) untuk bertransformasi dan "naik kelas."
Sekretaris Jenderal ASPHIRASI, Retno Anugerah Andriyani, menegaskan bahwa kehadiran opsi umrah mandiri justru harus memacu para pelaku usaha untuk meningkatkan nilai layanan.
"Ini saatnya industri travel umrah berinovasi, bukan mundur dari persaingan. Peran kita akan bergeser dari sekadar penjual paket menjadi konsultan ibadah dan pelindung jamaah," ujar Retno dalam keterangannya, Senin (27/10/2025).
Retno menjelaskan, terdapat beberapa area kritis yang perlu menjadi fokus PPIU untuk tetap relevan dan unggul:
Baca Juga: Langkah Mudah Membuat Kartu Keluarga Baru Setelah Menikah, Gratis dan Bisa Online!
Inovasi dan Digitalisasi: Memanfaatkan teknologi untuk menciptakan layanan yang lebih efisien dan transparan.
1. Peningkatan SDM: Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia agar mampu memberikan pendampingan ibadah yang berkualitas.
2. Paket yang Fleksibel: Menghadirkan berbagai pilihan paket yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan jamaah yang semakin dinamis.
3. Pendampingan Berbasis Pengalaman (Customer Experience): Memastikan kenyamanan dan kelancaran ibadah jamaah dari awal hingga pulang.
"Mayoritas jamaah Indonesia, dengan karakternya yang beragam, tetap membutuhkan pendampingan yang menyeluruh. Di sinilah nilai utama PPIU," tegas Direktur Utama PT Hajar Aswad Mubaroq ini.
Baca Juga: Tak Perlu ke Samsat! Begini Cara Mudah Bayar Pajak Kendaraan via Aplikasi SIGNAL
"Kita justru harus memimpin transformasi ini, dengan menjaga amanah sebagai fondasi utama," sambungnya.
Di sisi lain, Retno juga mengingatkan calon jamaah tentang sejumlah risiko yang mengintai dalam perjalanan umrah mandiri.
Tingginya Risiko Penipuan: Transaksi perorangan tanpa perantara travel terpercaya rentan terhadap penipuan.
Minimnya Pendampingan: Tidak adanya bimbingan ibadah yang memadai dan pendampingan dalam situasi darurat, seperti sakit, kecelakaan, atau meninggal dunia di Arab Saudi.
Biaya dan Tenaga Ekstra Jamaah harus siap mengatur segala sesuatunya sendiri, termasuk menanggung biaya tak terduga dan mempersiapkan tenaga serta pikiran yang lebih besar.
Baca Juga: Rahasia Produktif! Cara Cepat Translate dan Transkrip Suara YouTube ke Teks Otomatis
Retno menutup dengan pesan kolaboratif. Ia menegaskan bahwa PPIU tidak akan tergantikan, melainkan akan menjadi mitra utama dalam ekosistem umrah yang baru. Kolaborasi dengan platform digital juga disebutnya sebagai langkah strategis untuk memperkuat layanan haji dan umrah nasional.
Bagi jamaah yang tetap memilih umrah mandiri, Retno menyarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan PPIU terpercaya.
"Dengan demikian, perjalanan ibadah dapat dipersiapkan dengan lebih matang, aman, dan nyaman," pungkasnya.***




