POJOKSATU.ID - Keberadaan duet infrastruktur baru di Jawa Barat yakni Bandara Kertajati dan Tol Cisumdawu diharapkan berdampak signifikan terhadap Pelabuhan Cirebon.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Cirebon, Chaerul Awaluddin mengungkapkan, Pelabuhan Cirebon diprediksi akan mengalami lonjakan logistik dengan adanya Tol Cisumdawu, dibukanya Bandara Kertajati serta beroperasinya Pelabuhan Patimban.

Oleh karena itu, potensi yang ada harus dapat ditangkap semaksimal mungkin dan perlu kolaborasi dari unsur pemerintah, BUMN, bersama-sama meningkatkan fasilitas yang ada di Pelabuhan Cirebon.

“Kami optimis karena yang tadinya semua ke Bandung, sekarang ada Tol Cisumdawu. Saya juga sudah mencoba, perjalanan hanya 1,5 jam,” kata Chaerul, usai Ngobeng Bareng Pelabuhan Cirebon Mendukung Rebana Metropolitan, Selasa, (26/9)

Baca Juga: Diskusi Bareng Wartawan, Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin Ajak Masyarakat Dukung Kereta Cepat Whossh

Menurut Chaerul, keberadaan infrastruktur jalan tol sangat signifikan dampaknya terhadap pergerakan logistik.

Diharapkan, industri di Bandung, Majalengka, dan Tasikmalaya bisa melakukan kegiatan melalui Pelabuhan Cirebon.

“Sebagai contoh Bandara Kertajati sudah dibuka, sehingga masyarakat di luar akan melihat potensi yang ada di Cirebon,” tandasnya.

General Manager PT Pelindo Regional 2 Cirebon, Capt Supardi MMar MSc menambahkan, untuk merespons potensi tersebut penataan pelabuhan sudah lama direncanakan.

Kondisi sekarang memang banyak dermaga sudah berumur dan perlu rekonstruksi. Memang inti utamanya bagaimana pelabuhan bisa memiliki kedalaman yang cukup.

Baca Juga: Indonesia Sudah 3 Medali Emas di Asian Games 2023, 2 Disumbang Muhammad Sejahtera Dwi Putra

“Sekarang LWS hanya 5 meter, kapal yang bisa masuk dengan aman sangat terbatas. Untuk kapal dengan LWS 6 sampai 8 meter, otomatis tidak bisa masuk ke Pelabuhan Cirebon,” katanya.

Untuk Cirebon sebagai pelabuhan pengumpan, kata Capt Supardi, setidaknya kedalamanharus 6-7 meter. Sehingga logistik bisa diangkut sampai 6 ribu ton. Tetapi sekarang ini masih 3 ribu ton.

“Berbeda dengan tongkang yang bisa sampai 8 ribu ton, karena secara spesifikasi berbeda,” tutur Capt Supardi.

Menurut Chaerul, keberadaan infrastruktur jalan tol sangat signifikan dampaknya terhadap pergerakan loistik.

Baca Juga: WNA Amerika Serikat Yang Tusuk Mertuanya Hingga Tewas, Sempat Mengamuk, Rusak Rumah dan Motor

Diharapkan, industri di Bandung, Majalengka, dan Tasikmalaya bisa melakukan kegiatan melalui Pelabuhan Cirebon.

“Sebagai contoh Bandara Kertajati sudah dibuka, sehingga masyarakat di luar akan melihat potensi yang ada di Cirebon,” tandasnya.

General Manager PT Pelindo Regional 2 Cirebon, Capt Supardi MMar MSc menambahkan, untuk merespons potensi tersebut penataan pelabuhan sudah lama direncanakan.

Kondisi sekarang memang banyak dermaga sudah berumur dan perlu rekonstruksi. Memang inti utamanya bagaimana pelabuhan bisa memiliki kedalaman yang cukup.

“Sekarang LWS hanya 5 meter, kapal yang bisa masuk dengan aman sangat terbatas. Untuk kapal dengan LWS 6 sampai 8 meter, otomatis tidak bisa masuk ke Pelabuhan Cirebon,” katanya.

Untuk Cirebon sebagai pelabuhan pengumpan, kata Capt Supardi, setidaknya kedalamanharus 6-7 meter. Sehingga logistik bisa diangkut sampai 6 ribu ton. Tetapi sekarang ini masih 3 ribu ton.

“Berbeda dengan tongkang yang bisa sampai 8 ribu ton, karena secara spesifikasi berbeda,” tutur Capt Supardi.

Baca Juga: 8 Kg Lebih Sabu Dimusnahkan BNNP Jabar, 5 Bandar Narkoba Ditangkap

Masalahnya, kata dia, pendalaman alur tersebut sangat besar, karena membutuhkan biaya sampai ratusan miliar rupiah. Apalagi, kondisi alam juga sangat berpengaruh, mengingat sedimentasi cukup tinggi.

Sebagai langkah untuk pendalaman alur pelabuhan tersebut, Pelindo melakukan studi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kajian masih dilakukan dengan ITB untuk masalah sedimentasi tersebut. Sehingga nantinya upaya pendalaman bisa dilakukan dengan efektif.

Kemudian untuk perubahan menjadi pelabuhan peti kemas, sampai sekarang masih dikaji. Padahal, semua kelengkapan sudah ada.

Mulai dari back up area, lapangan peti kemas dan lainnya. Karenanya, sekarang sedang berusaha diinventarisasi persoalannya. Sedangkan RIP, pelan-pelan seiring dengan kebutuan untuk dibangun secara bertahap.

“Realisasi dari RIP sendiri sangat tergantung dengan investasi, karena Pelindo merupakan sebuah perusahaan,” tandasnya.

Kendati demikian, Pelindo II Cirebon sangat optimis dengan Kawasan Metropolitan Rebana yang di dalamnya ada Tol Cisumdawu, Bandara Kertajati hingga Pelabuhan Patimban juga Pelabuhan Cirebon.