POJOKSATU.ID - Ketua Umum PSSI Erick Thohir akhirnya buka suara usai aksi demonstrasi kelompok suporter Ultras Garuda di depan Kantor PSSI.

Aksi yang berlangsung di kawasan Gelora Bung Karno itu memuat lima tuntutan mendasar terkait pembenahan sepak bola nasional.

Terutama setelah kegagalan timnas Indonesia melaju ke Piala Dunia 2026.

Erick, yang ditemui usai melepas peserta Borobudur Marathon 2025 di Magelang.

Baca Juga: 5.812 PPPK Paruh Waktu Terima SK, Bupati Jeje Minta Jaga Nama Baik Pemda

Tidak menampik bahwa kritik suporter mencerminkan masih adanya pekerjaan rumah besar di tubuh federasi.

Dengan nada terbuka ia menyebut bahwa pengelolaan sepak bola tidak selalu berjalan mulus.

“Kami, sebagai manusia, pasti ada kekurangan,” ujar Erick, dikutip dari Kompas Minggu 16 November 2025.

Pernyataan itu menjadi salah satu respons resmi pertama PSSI setelah gelombang kekecewaan suporter makin menguat dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga: Tragedi Siswa SMP Diduga Korban Bullying di Tangsel, Meninggal Dunia Setelah Sepekan Dirawat

Aksi Ultras Garuda tak muncul tanpa sebab. Mereka menilai kegagalan timnas Indonesia menembus Piala Dunia 2026 bukan sekadar soal teknis di lapangan.

Tetapi juga refleksi dari tata kelola yang belum kokoh, bagi mereka, pergantian pelatih, termasuk keputusan PSSI mengakhiri kerja sama dengan Patrick Kluivert.

Bukan satu-satunya jawaban. Suporter menuntut perubahan yang lebih fundamental dan berkelanjutan.

Tribune Selatan Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang selama ini menjadi rumah Ultras Garuda.

Merupakan salah satu kelompok suporter paling vokal dalam mengawal isu-isu strategis sepak bola nasional. Mereka menilai perbaikan harus dilakukan dari hulu ke hilir.

Dalam aksinya, Ultras Garuda mengajukan lima poin yang mereka nilai krusial untuk masa depan sepak bola Indonesia:

1. Manajemen timnas yang profesional

Suporter menilai pengelolaan tim nasional dari manajerial hingga struktur pendukung, masih belum berada di level ideal.

Baca Juga: BOBIBOS Sudah MoU dengan KDM, Desember Bisa Dijual ke Masyarakat? Cek Info dan Jadwalnya di Sini

2. Penyusunan dan pelaksanaan road map PSSI

Menurut mereka, peta jalan yang komprehensif dan terukur menjadi syarat wajib untuk membangun fondasi sepak bola modern.

3. Proses rekrutmen pelatih yang transparan dan profesional

Mereka ingin pelatih ditunjuk berdasarkan sistem, bukan keputusan mendadak.

Baca Juga: Dari Viral Cantik ke Tuduhan Penistaan, Kisah Deni Sister Hong Lombok yang Berbelok Liar

4. Pembinaan usia dini yang konsisten dan terintegrasi

Suporter menganggap pembinaan jangka panjang selama ini belum menunjukkan hasil signifikan.

5. Peran suporter dalam perkembangan sepak bola

Mereka ingin suporter dilibatkan dalam ekosistem sepak bola, bukan sekadar penonton.

Tuntutan itu disampaikan secara terbuka dengan membawa spanduk, poster, dan orasi yang menegaskan.

Bahwa kritik mereka bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mendorong perubahan nyata.

Salah satu tuntutan yang paling banyak dibahas publik adalah peta jalan sepak bola Indonesia.

Ultras Garuda menilai road map PSSI selama ini tidak terlihat jelas implementasinya.

Erick menjawab singkat, menegaskan bahwa perencanaan jangka panjang sebenarnya sudah disusun.

Baca Juga: Miris! Taman Daan Mogot, Diduga Jadi Lokasi Prostitusi Sesama Jenis di Jakbar

“Road map, kan, kami sudah ada,” kata Erick.

Namun ia tidak merinci lebih jauh bagaimana peta jalan itu berjalan, sejauh mana evaluasinya, dan apa langkah koreksi setelah kegagalan di kualifikasi Piala Dunia.

Sikap inilah yang membuat beberapa suporter menilai PSSI perlu membuka dokumen road map tersebut secara lebih transparan.

Di sisi lain, sejumlah pengamat sepak bola melihat aksi Ultras Garuda sebagai bentuk partisipasi publik yang wajar.

Baca Juga: Paruh Waktu Tak Lagi Gantung! Aliansi R2–R3 Kawal Perubahan Status Menuju Kesejahteraan

Dalam ekosistem sepak bola modern, suporter memang punya posisi penting karena mereka adalah pemilik emosi dan energi di balik tim nasional.

Tekanan publik dianggap dapat menjadi bahan koreksi bagi PSSI untuk menata ulang prioritas dan mempercepat reformasi struktural.

Beberapa isu yang mengemuka, seperti pembinaan usia dini dan rekrutmen pelatih.

Juga menjadi perhatian FIFA dan AFC dalam proyek pengembangan sepak bola di negara berkembang.

Karena itu, tuntutan suporter dinilai selaras dengan standar internasional.

Sejumlah pihak menilai PSSI perlu memperbaiki cara mereka berkomunikasi dengan suporter.

Transparansi program, hasil evaluasi, dan proses rekrutmen pelatih dianggap sebagai langkah minimal untuk mengurangi ketegangan.

Ultras Garuda juga meminta federasi memberikan akses permanen bagi perwakilan suporter dalam pembangunan sepak bola.

Sejumlah negara telah menerapkan mekanisme serupa melalui forum komunikasi atau dewan suporter.

Baca Juga: Menjelang 17 November, 2025 Guru Deg-degan Menanti Pengumuman PPG Daljab Kemenag Batch IV! Siapa yang Lolos Besok?

Jika langkah ini diambil, jarak antara federasi dan suporter dapat diperkecil.

Pernyataan Erick Thohir yang mengakui masih ada kekurangan menjadi sinyal bahwa PSSI tidak menutup mata terhadap kritik. Namun publik kini menunggu langkah konkret.

Evaluasi menyeluruh pasca pencoretan Kluivert, penyusunan ulang agenda pembinaan usia dini.

Hingga penyempurnaan road map menjadi pekerjaan penting dalam beberapa bulan ke depan.

Suporter berharap PSSI bergerak cepat agar kekecewaan tidak berubah menjadi apatisme.***