POJOKSATU.id – Dunia sepak bola Belanda tengah diguncang krisis paspor yang menyeret pemain naturalisasi Indonesia dan Suriname. Sejumlah klub kini enggan menurunkan pemain tersebut karena khawatir terkena sanksi dari Federasi Sepak Bola Belanda, KNVB.
Krisis ini bermula dari langkah NAC Breda yang mengajukan banding ke KNVB usai kalah telak 0-6 dari Go Ahead Eagles di Eredivisie.
NAC menilai salah satu pemain lawan, Dean James, tidak memenuhi syarat tampil karena telah berganti kewarganegaraan menjadi Indonesia pada Maret 2025.
Dean James sendiri diketahui sudah tampil lima kali bersama tim nasional Indonesia.
Baca Juga: Iran Tolak Berdamai dengan AS, Letkol Zolfaghari : Era Janji Kosong Anda Berakhir
Namun, menurut hukum Belanda, seseorang yang mengambil kewarganegaraan lain wajib melepaskan paspor Belandanya karena negara tersebut tidak mengakui kewarganegaraan ganda.
Tak hanya itu, NAC juga menuding James belum mengantongi izin kerja atau izin tinggal yang diwajibkan bagi warga negara non-Uni Eropa.
Kasus serupa kembali muncul ketika klub divisi dua TOP Oss ikut mengajukan banding setelah kalah 1-3 dari Willem II.
Mereka mempertanyakan status bek Nathan Tjoe-A-On yang juga telah beralih kewarganegaraan ke Indonesia sejak 2024.
Situasi ini membuat sejumlah klub mulai waspada. Mereka khawatir jika tetap memainkan pemain naturalisasi, klub bisa terkena denda atau bahkan pengurangan poin.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Sadewa Sebut BBM Indonesia Belum Darurat, Masih Ada Suplai
Direktur Go Ahead Eagles, Jan Willem van Dop, menyatakan bahwa Dean James menandatangani kontrak pada 2023 dengan paspor Belanda yang sah.
Ia menegaskan bahwa kini kasus tersebut sepenuhnya ditangani KNVB.
Namun demikian, polemik ini berkembang semakin luas. KNVB mengonfirmasi tengah menyelidiki kasus tersebut secara mendalam.
Tidak hanya pemain Indonesia, investigasi juga akan mencakup pemain asal Suriname dan penggunaan “sports passport” dari negara lain.
Dampaknya bahkan meluas ke level internasional. Tim nasional Suriname yang dijadwalkan menghadapi Bolivia dalam play-off Piala Dunia FIFA kini dilaporkan dilanda ketidakpastian.
Mayoritas pemainnya memiliki latar belakang Belanda dan sebagian bermain di liga domestik.
Di kompetisi domestik, dampak nyata mulai terlihat. FC Emmen memutuskan tidak menurunkan pemain muda Tim Geypens, yang telah berganti kewarganegaraan menjadi Indonesia pada 2024.
Baca Juga: Kabais TNI Mendadak Diganti Imbas Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus
Pelatih Emmen, Menno van Dam, mengakui keputusan itu diambil demi menghindari risiko sanksi. Bahkan, Geypens disebut tidak akan dimainkan sampai ada kejelasan hukum.
Direktur teknis Emmen, Nico Haak, menyebut situasi ini sangat berat bagi sang pemain.
Ia menggambarkan kondisi Geypens sebagai situasi yang menyakitkan bagi pemain muda yang kariernya sedang berkembang.
Rekan setimnya, Daniël Beukers, juga mengungkapkan simpati. Ia menyebut kondisi tersebut tidak mudah dilihat, terutama ketika tim sedang berada dalam performa terbaik.
Dalam skenario terburuk, para pemain yang terdampak bisa tidak bermain selama beberapa pekan di kompetisi.
Baca Juga: Viral Joget Rp6 Juta, Mitra MBG Ungkap Realitas di Baliknya
Analisis dan Solusi
Pakar hukum migrasi dari Radboud Universiteit, Tesseltje de Lange, menjelaskan bahwa aturan hukum Belanda cukup jelas. Pemain yang mengganti kewarganegaraan harus diperlakukan sebagai warga non-Uni Eropa.
Artinya, klub wajib membayar gaji minimal sekitar 600 ribu euro per tahun jika ingin tetap mempekerjakan mereka. Angka ini dinilai memberatkan bagi banyak klub.
Selain itu, jika aturan tersebut dilanggar, klub berpotensi terkena denda dari otoritas ketenagakerjaan.
Meski demikian, De Lange menilai ada kemungkinan ketidaksesuaian antara aturan dan praktik di lapangan. Hal ini bisa terjadi karena keterbatasan pengawasan dan beban kerja instansi terkait seperti imigrasi.
Ia menawarkan tiga solusi. Pertama, pemain melepas kewarganegaraan barunya. Kedua, klub memenuhi aturan gaji pemain non-Uni Eropa. Namun kedua opsi ini dinilai sulit diterapkan dalam waktu singkat.
Solusi ketiga dinilai paling realistis, yakni pemerintah Belanda mengubah aturan dan memberikan pengecualian khusus bagi atlet profesional agar tetap bisa memiliki dua kewarganegaraan.
Hingga kini, KNVB masih terus menyelidiki kasus tersebut. Keputusan akhir akan sangat menentukan nasib para pemain naturalisasi, termasuk dari Indonesia.
Menariknya, krisis ini tidak hanya soal sepak bola, tetapi juga menyangkut regulasi hukum dan masa depan karier para pemain muda.***

