POJOKSATU.ID - Sejarah Piala Dunia U17, turnamen kelompok umur yang diselenggarakan FIFA ini ternyata hasil duplikasi turnamen di Singapura 1977 silam.
Piala Dunia U17 2023 akan dilaksanakan di Indonesia pada 10 November hingga 2 Desember 2023 mendatang.
Sebanyak 24 negara, termasuk Indonesia sebagai tuan rumah, akan berebut juara Piala Dunia U17 edisi ke-19 ini.
Baca Juga: Jadwal Final Piala AFF U23 2023, Indonesia vs Vietnam Live di Mana?
Adapun empat stadion yang jadi venue Piala Dunia U17 2023 antara lain, Jakarta International Stadium, Stadion Si Jalak Harupat Bandung, Stadion Manahan Solo dan Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya.
Tapi tahukah Anda? FIFA menggelar turnamen kelompok umur ini setelah mencontek ide Singapura, negara tetangga Indonesia.
Piala Dunia U17 pertama kali digelar pada 1985 di China. Saat itu turnamennya masih dilabeli Kejuraan Dunia U16 FIFA dan diikuti 16 tim dari enam zona konfederasi.
Baca Juga: Inilah Semifinalis Kejuaraan Dunia BWF 2023, Hanya Satu Juara Bertahan Gugur
Edisi inagurasi Piala Dunia U17 FIFA ini digelar pada 31 Juli-11 Agustus 1985 di empat kota: Beijing, Shanghai, Tianjin, dan Dalian.
Nigeria keluar sebagai juara. Negara Afrika yang kemudian tercatat sebagai pengoleksi gelar terbanyak turnamen ini (5 kali).
Pada edisi keempat yang dihelat di Italia tahun 1991, turnamen dua tahunan itu diubah jadi kelompok umur U17.
FIFA membuat Piala DUnia U17 setelah 'mencontek' turnamen yang diprakarsai FAS (federasi sepakbola Singapura) delapan tahun sebelum inagurasi Kejuraan Dunia U16 FIFA.
Yah, FAS ternyata lebih dulu menggelar turnamen U16 bernama Lion City Cup sejak 1977.
Lion City Cup merupakan tourney buah pikiran Nadesan ‘Gani’ Ganesan, ketua FAS periode 1976-1982.
Dalam membangun sepakbola Negeri Singa, Ganesan mengupayakan kompetisi kelompok usia yang rutin dan berjenjang, baik di level klub maupun tim nasional.
Baca Juga: 4 Alasan Shin Tae Yong Bisa Bawa Indonesia Juara Piala AFF U23 2023, Ada Faktor Ramadhan Sananta
Reynold Godwin Pereira dalam Uncle Choo: Singapore’s Greatest Football Coach menulis bagaimana Nadesan 'Gani' Ganesan menyusun cetak biru ‘liga super’ Singapura yang diikuti 30 tim, di mana sebelumnya di liga nasional berjumlah sampai 118 tim.
Gani berharap dengan jumlah tim yang lebih sedikit akan mendatangkan kans yang lebih besar bagi tim-tim itu dikelola lebih efisien.
Ia juga berperan besar meluncurkan Lion City Cup untuk pemain berusia 16 tahun ke bawah pada 1977.
Baca Juga: Detik-detik Istana Presiden Diserang Belanda, Bung Karno Menyerah Bersama Puluhan Pengawal
Sebuah turnamen untuk mengasah bakat dan merupakan satu-satunya turnamen U16 di dunia.
Mengutip suratkabar The Straits Times, 10 November 1977, pada edisi perdananya (8-18 Desember 1977), Lion City Cup dihelat di dua venue: National Stadium dan Jalan Besar Stadium.
Edisi perdana Lion City Cup hanya diikuti delapan tim dari dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia, yang terbagi dalam dua grup.
Singapura U16 terdiri dari dua tim. Timnas Singapura A masuk Grup A bersama tim negara bagian Penang, Perak, dan Johor.
Sementara Timnas Singapura B tergabung di Grup B yang dihuni Kelantan, Selangor, dan Pahang.
Timnas Singapura U16 A akhirnya keluar sebagai juara edisi perdana Lion City Cup, dengan mengalahkan Tim Pahang U16 di partai final dengan skor 5-0.
Baca Juga: Hidrogen GIIAS
Penentu kemenangan Singapura U16 adalah Fandi Ahmad yang kemudian jadi legenda hidup sepakbola Singapura.
Selanjutnya, edisi kedua pada 1978, Ganesan ingin Lion City Cup naik level jadi turnamen berlabel regional.
Beberapa tim lain di ASEAN coba diundang meski kemudian hanya Indonesia dan Brunei Darussalam yang berkenan mengirim timnya di Lion City Cup ke-2 pada 1-14 Desember 1978.
Juara turnamen edisi kedua itu lagi-lagi dimenangkan tuan rumah, yakni Timnas Singapura U16 A. Menang 3-0 lawan Selangor U16 di partai final.
Baca Juga: Kejuaraan Dunia BWF 2023: Full Senyum, Prifad Singkirkan Unggulan Kelima
Di sela pertemuan para anggota AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) di Bangkok, Thailand, Ganesan memperkenalkan turnamen ini.
Ganesan yang merangkap jabatan sebagai wakil presiden AFC kemudian mengajak Jerman Barat, Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, Irak, Kuwait, dan Indonesia untuk tampil di Lion City Cup edisi ketiga tahun 1979.
“Mereka sepenuhnya sepakat bahwa turnamen ini sangat diperlukan bagi kita semua karena menjadi basis untuk tim internasional kelompok umur masing-masing negara. Walau tentunya kami, FAS, tidak menyediakan akomodasinya,” kata Ganesan via The Straits Times, edisi 25 Desember 1978.
Baca Juga: Duel Sengit Lawan Duo Tiongkok, Bakri Kandas di Perempat Final Kejuaraan Dunia BWF 2023
Peserta Lion City Cup edisi ketiga bertambah signifikan. Selain Indonesia dan Malaysia, turnamen itu juga diikuti timnas U16 Australia, Irak, Bahrain, Korea Selatan, India, Arab Saudi, dan Hong Kong.
Timnas Irak U16 keluar sebagai juara usai menundukkan Australia tiga gol tanpa balas di laga final.
Federasi Sepak Bola Asia (AFC) tidak menutup mata melihat kegemilangan FAS menggelar Lion City Cup. Disebutkan bahwa AFC bahkan berniat mengambilalih turnamen itu pada 1979.
Pihak AFC menginginkan turnamen itu bisa berada di bawah naungannya agar bisa digelar bergantian di negara-negara anggotanya.
Baca Juga: 12 Caleg Mantan Koruptor di Pemilu 2024, Ingin Tahu Nama-namanya? ICW Bongkar Semua
Anggota komite teknis dan pembangunan AFC Dr. M.A. Rais mengatakan mungkin langkah atau upaya pengambilalihan ini akan menyakiti Singapura pemrakarsa turnamen.
Tetapi jika ada sebuah proyek yang berpengaruh pada sebuah masyarakat –dalam hal ini Asia, sudah semestinya jadi proyek yang dikerjasamakan.
"Yang saya bayangkan adalah merotasi (tuan rumah) kompetisi itu antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura dengan mengundang semua anggota AFC. Di bawah payung AFC, turnamen itu akan lebih prestis dan Singapura tetap diakui sebagai pemrakarsanya,” ujar Rais kepada The Straits Times, 27 Oktober 1979.
Baca Juga: 4 Daerah di Indonesia Paling Sering Lahirkan Pemain Top, Papua Pasti Masuk
Upaya AFC itu ditolak mentah-mentah FAS. Setelah dilakukan sejumlah lobi, AFC pun batal mengambilalih. Hingga edisi terakhirnya pada 2015, turnamenn Lion City Cup tetap dipegang FAS.
FIFA sendiri juga mulai menaruh perhatian pada Lion City Cup sejak 1981. Pada September 1981, Sekretaris Jenderal FIFA Sepp Blatter memantau langsung turnamen itu.
Blatter mempelajari detail-detail turnamennya, kemudian meyakinkan komite teknis FIFA bahwa Lion City Cup adalah metode terbaik untuk mengembangkan sepakbola usia muda.
Baca Juga: Profil Azizah Salsha, Pacar Baru Pratama Arhan Itu Ternyata Putri Politisi Gerindra
Sebulan berselang, Presiden FIFA Joao Havelange bertemu langsung dengan petinggi FAS untuk menyampaikan apresiasinya.
FIFA akhirnya memutuskan untuk menggelar turnamen kejuaraan dunia U16, edisi perdana di China pada akhir 1985.
Turnamen ini diikuti 16 tim. Pesertanya adalah juara dan runner up masing-masing kompetisi regional. Nigeria keluar sebagai juara usai menekuk Jerman Barat, 2-0, di final.
Di sisi lain, setelah 'dicontek' FIFA lewat Kejuaraan Dunia U16, pamor Lion City Cup perlahan mulai menurun.
Baca Juga: Kebut Perbaikan Akses dan Rumput Stadion JIS, Lintas Instansi Terlibat
Turnamen yang digagas FAS itu tak lagi banyak mendapat perhatian dunia karena hampir semua mata tertuju pada kejuaraan baru yang diduplikasi FIFA itu.
Hingga gelaran terakhirnya pada 2015, Lion City Cup lebih sering diikuti peserta level klub U16.
Sebaliknya Kejuaraan Dunia U16 yang sejak 1991 berubah nama menjadi Piala Dunia U17 FIFA rutin diadakan setiap dua tahun sekali, kecuali saat pandemi Covid 19, 2021 lalu.
Dari 18 edisi yang sudah digelar, Nigeria menjadi negara paling sering jadi juara. Lima kali. Disusul Brasil 4 kali, Ghana dan Meksiko masing-masing dua kali.
Baca Juga: Ramai JIS, 4 Stadion di Jawa Barat Ini Dibangun Gubernur Ahmad Heryawan Berstandar FIFA
Baru satu negara Asia yang pernah menjuarai Piala Dunia U17. Yakni Arab Saudi pada edisi ketiga, 1989.
Turnamen ini juga telah melahirkan banyak pemain top dunia. Sebut saja London Donovan (Amerika Serikat), Cesc Fabregas (Spanyol), Toni Kroos (Jerman) hingga Phil Foden (Inggris) adalah nama-nama yang pernah jadi pemain terbaik Piala Dunia U17.
Demikian ulasan tentang sejarah Piala Dunia U17, turnamen yang dibuat FIFA hasil mencontek Lionc City Cup di Singapura.***

